
Sari sudah merasa baikan setelah tiga hari ini benar-benar mengurung diri di kamar.
dia pagi ini sedang menjaga toko, "wah mbak Sari, kemana saja kok beberapa hari ini tak kelihatan?"
"Bu RW, iya Bu saya sakit, badan meriang semua mungkin karena kelelahan," jawab Sari
"aduh mbak mentang-mentang masih muda, semuanya mau di lakuin, atau gimana kalau nyari suami saja, biar ada yang mencarikan nafkah?" tanya Bu RW sambil tersenyum penuh arti.
"ha-ha-ha ibu bisa saja, tapi maaf saya belum bisa," jawab Sari yang tiba-tiba sedih.
"ya sudah,saya juga bercanda, padahal ingin sekali punya menantu kayak mbak Sari ini," kata wanita itu.
tapi melupakan semuanya itu sangat sulit, terlebih apa yang dia alami selama pernikahan sangat buruk.
di sebuah rumah, seorang pria sedang melakukan pembukuan, "ini kopinya mas," kata Azila
"terima kasih sayang, halo anak ayah..." kata Nanang mengusap perut Azila.
"mas itu ibu gak papa di ikat begitu, takutnya para tetangga akan terganggu saat ibu berontak," kata Azila.
"sudahlah Azila, aku melakukan itu juga demi ibu sendiri, kamu tau apa yang dia lakukan bukan, dari pada dia di penjara, lebih baik biarkan dia di kiri g seperti ini," kata Nanang yang sekarang terlihat lebih bijaksana.
"iya mas, aku tak mengira jika ibu bisa melakukan itu pada Adelia dan keluarga," kata Azila dengan manja.
"iya sayang," jawab Nanang yang merasa bahagia memiliki istri seperti Azila.
"tapi bukan hanya ibu, mungkin aku juga bisa membunuh mu jika berani menghianati diriku," kata Azila.
"tentu saja tidak, bagaimana bisa aku meninggalkan wanita yang rela mengorbankan semuanya demi diriku ini terluka," kata Nanang mengusap rambut wanita yang sudah sebulan ini dia nikahi.
dia ingat betul setelah lari dengan ibunya, Nanang mengambil yang sebanyak mungkin dari ATM.
tapi itu tak mungkin bisa bertahan untuk selamanya, "kura harus pergi Bu, tapi kemana?" tanya Nanang.
"kita sembunyi dulu di tempat rahasia milik ibu, dan kita harus memikirkan cara untuk melanjutkan hidup kedepannya, karena ibu yakin ayah mu itu pasti akan terus mencari kita untuk membalas dendam," kata Bu Wiwit.
__ADS_1
"baik Bu, dan aku tau siapa yang bisa membantu kita," kata Nanang.
mereka pun pergi kesebuah desa di pinggiran kota yang cukup jauh. bahkan itu adalah deretan hutan jati di sepanjang jalan.
mereka berdua turun di sebuah jalan setapak, Bu Wiwit pun mengajak Nanang masuk kedalam hutan itu.
ternyata disana ada sebuah gubuk yang cukup bagus, Nanang melihat ibunya itu.
"Bu, apa ini tak akan jadi masalah? terlebih gubuk ini mungkin milik seseorang," kata Nanang khawatir.
"tenang saja, ini gubuk milik ibu, sudah kamu tak perlu bingung, ayo masuk," kata Bu Wiwit.
tak terasa seminggu mereka tinggal di dalam gubuk itu, dan Nanang sudah tak tahan lagi.
terlebih dia butuh uang, "cukup Bu, aku tak bisa bertahan seperti orang bodoh begini, sekarang aku akan kembali ke sana dan mencari uang."
"kamu jangan gila Nanang, kamu ingin ayah mu membunuh mu, setelah semuanya," kata Bu Wiwit ketakutan.
"tapi aku muak ibu, aku akan pergi sekarang," kata Nanang yang nekat keluar dari tempat persembunyiannya.
Nanang pun berbaur dengan semua orang yang menonton acara itu, tak sengaja dia bertabrakan dengan Sari yang terlihat sedang mengajak Yuni yang terlihat begitu sedih.
Nanang merasa kasihan melihat adiknya itu, tapi dia memilih pergi dan tak menyapanya.
Nanang sampai di rumahnya dan Sari dulu, dia mencari uang yang dia sembunyikan di tempat yang rahasia.
tanpa di duga tiba-tiba lampu menyala, dia pun kaget dan menoleh dan melihat sosok juragan Wawan di depannya itu.
"ayah..."
"kenapa kamu seperti pencuri, jika saja kamu mau datang aku bisa memberikan mu uang untuk lari, tapi tentunya semua tidak gratis," kata pria itu.
"aku tidak akan menyerahkan ibu padamu, kamu yang menghianati dirinya dan sekarang kamu yang terluka," kata Nanang
"ya kamu benar, aku yang terluka dan bagus kamu tak memanggilku ayah lagi, karena kita memang tak ada hubungan darah, kamu tak usah menyerahkan ibumu, cukup buat dia tak bertemu orang atau melukai siapapun lagi, dan jika kamu membunuhnya sendiri, itu lebih baik," kata juragan Wawan yang menaruh tas berisikan uang di atas meja.
__ADS_1
dan sebuah kunci mobil, "kamu bisa membawa semua ini pergi, tapi dengan syarat-syarat yang ku katakan tadi,"
"tapi bagaimana kamu akan tau jika aku membunuh ibuku atau tidak," kata Nanang.
pria itu merubah raut wajahnya, "tentu kamu tau siapa aku bukan, sebenarnya aku tau kalian tinggal di mana, aku hanya ingin melihat apa pergerakan kalian, jika membahayakan, mungkin aku akan membunuh kalian berdua dari lama," kata juragan Wawan.
Nanang benar-benar tak bisa mengatakan apapun, pasalnya dia mengenal benar bagaimana watak pria di depannya itu.
"sekarang aku akan menunggu keputusan mu, pikirkan baik-baik ya, tentu kamu tak ingin membuat ku kecewa lagi bukan, setelah kejadian Sari dan Adelia, aku bisa saja membunuh mu saat ini, tapi bagaimana pun kamu tetap anak yang aku besarkan dengan tangan ku sendiri, jadi sekarang pilihan ada di tangan mu," kata juragan Wawan yang duduk di kursi dengan menikmati rokoknya.
"baiklah aku akan mengikuti semua ucapan mu," kata Nanang yang pergi membawa tas uang dan mobil itu pergi.
Nanang kemudian pergi dari rumah itu, dan juragan Wawan tentu tak akan melepaskan pria itu begitu saja.
"kamu mengambilnya, maka kamu gadis menjadi orang yang mematuhi semua ucapan ku jika tidak,tentu kamu akan melihat siapa aku yang sebenarnya" gumam juragan Wawan.
tak sengaja mobil Nanang melintas di depan rumah Azila, dan di rumah itu baru saja bubar banyak orang yang berpakaian seperti orang kenduri.
"ada apa? sepertinya aku harus melihat apa yang terjadi," gumamnya menunggu semua orang pergi dan suasana sepi.
pukul sebelas malam, rumah Azila nampak sudah sepi,Nanang pun naik melalui pintu belakang rumah.
dia juga sudah tau kamar wanita itu, dia langsung masuk dan melihat Azila yang tengah meringkuk di ranjang.
Nanang menyalakan lampu kamar itu, "ada apa ini Azila?"
mendengar suara itu azila langsung duduk dan mencari sumber suara, dia pun berlari ke arah Nanang dan memeluknya.
"kemana saja kamu, aku sedang hamil dan saat kamu pergi, aku membuat suamiku mati kena serangan jantung," kata Azila.
"apa? jadi kamu ingin bersama ku?" tanya Nanang.
Azila mengangguk, dan Nanang kembali memeluk kekasihnya itu, "kalau begitu kita pergi dari tempat ini, kamu mau?" tawar Nanang.
Azila mengangguk dan mengambil semua harta yang di tinggalkan oleh suaminya, bahkan rumah itu akan di jual segera mungkin, dan tak perduli dengan anak-anak suaminya.
__ADS_1
toh Azila sudah sudah punya surat yang menyatakan jika semua harta itu miliknya atas pemindahan kepemilikan.