
Sari membeli ayam kampung dari tetangga sebelah rumahnya yang memang memiliki ayam jago cukup banyak.
setelah membeli ayam, dia pun membersihkan ayam itu segera dan kemudian memasukkannya ke dalam kulkas.
karena dia hanya bisa memasaknya malam hari karena kalau siang masih repot, "belum selesai membersihkan ayamnya?" tanya pria itu yang masih sibuk.
"sudah mas, sudah di dalam kulkas ayamnya, aku mau ke luar sebentar ya, tadi Tata Kirim pesan katanya mau datang," kata Sari.
"baiklah, aku tidur dulu, aku sangat lelah," jawab Nanang.
siang itu toko tetap buka seperti biasa, Sari sedang memakai es batu untuk mengompres matanya yang sedikit sembab.
"assalamualaikum mbak Sari," kata Tata yang datang dengan Dewa, adik ketiga Sari.
"waalaikum salam, ya Allah Dewa... mbak kangen sekali," kata Sari yang langsung memeluk adik laki-lakinya itu.
setelah memeluk adiknya itu, sari pun langsung mengajak mereka duduk di toko dan mengambilkan minuman dingin dan beberapa camilan.
"bagaimana kabar ibu sama bapak dek? apa mereka sehat?" tanya Sari.
"Alhamdulillah mbak,mereka baik-baik saja, tapi ibu sangat merindukan mu, dia bilang kenapa kamu tak datang ke rumah," tanya Tata.
"bukan aku tak mau datang ke rumah dek, tapi mbak harus nurut sama suami dan perkataannya, jadi tolong bilang seperti itu saja pada mereka, kalian mau di buatkan mie?" tanya Sari.
"tidak usah mbak, tadi kamu datang cuma di suruh ibu untuk mengantarkan makanan kesukaan mbak,kebetulan tadi ibu membuat botok udang," jawab Tata.
Sari pun menahan tangisnya, ibu Menuk selalu ingat pada putrinya saat masak botok udang.
"tunggu sebentar ya dek," kata sari mengambilkan beberapa kebutuhan dapur dan menaruhnya di keranjang sepeda adiknya.
"mbak apa itu, kami datang cuma mau memberikan makanan, bukan meminta hal seperti itu," kata Tata yang tak ingin di salah pahami.
"tidak apa-apa, ini mbak beli bukan ambil, lagi pula nanti mbak tetap membayar agar tak ada yang menghina kalian, sudah bawa dan bilang pada ibu, maafkanlah anaknya ini yang belum bisa pulang..." kata Sari.
"mbak bahagia tidak?" tanya Tata yang kasihan melihat Sari.
"mbak bahagia kok,sudah ajak Dewa pulang, atau nanti bapak akan marah saat kalian belum sampai di rumah," kata satu yang sempat memberikan uang saku juga pada adik-adiknya.
Nanang sebenarnya tidak tidur tapi mengawasi istrinya itu dari dalam rumah.
Sari terlihat melayani beberapa pembeli setelah itu dia masuk dan melihat Nanang yang sudah tertidur pulas.
Sari pun melihat kearah suaminya itu, dia hanya bisa menahan semuanya sendiri.
__ADS_1
dia pun mengambil cabai rawit merah satu genggam, dan membawanya ke toko.
setelah mencuci cabai rawit itu, dia pun mulai menghilangkan tangkai cabai itu.
setelah itu Sari memakannya tanpa sampingan apapun, dia pun berkeringat dan mulai menangis.
ini adalah cara sari untuk meluapkan emosinya saat dia sedih, ya begitu gadis itu melakukan hal gila.
dia lebih suka menyiksa dirinya agar tetap waras dalam mengikuti semua keinginan suaminya.
Sari pun mengambil minuman, dan permen, perlahan Semuanya menjadi semakin membaik dan dia mulai bisa mengendalikan dirinya.
mbak Lulu yang melihat dari pun kaget melihat wajah gadis itu memerah dan juga ada bekas menangis, "mbak Sari kenapa?"
"hahaha tidak mbak, aku hanya kebanyakan makan cabai," jawab Sari yang sedang berusaha untuk memulihkan kondisinya.
tapi tanpa terduga dari malah mimisan, darah itu menetes tanpa mau berhenti.
"ya Allah mbak Sari!" panik mbak Lulu yang melihat gadis itu.
Sari hanya tersenyum dan mencoba menghapus darah itu dari hidupnya, "mbak tolong titip toko sebentar ya," kata sari yang langsung berlari ke dalam rumah.
dia pun buru-buru menghapus darah dan berganti baju dan segera kembali kedepan.
"iya mbak, saya memang seperti ini dari dulu, mudah mimisan tapi sebentar juga hilang kok," jawab Sari.
mbak Lulu pun mengangguk saja, setelah membeli semua apa yang dia butuhkan.
mbak Lulu pun pergi meski dia khawatir pada sari, tapi pekerjaannya di rumah juga tak bisa di tinggalkan.
Tata dan Dewa sampai di rumah, pak Wasis heran melihat bawaan dari kedua anaknya itu.
"kalian dari belanja?" tanya pak Wasis
"iya pak, sudah kami masuk dulu ya," pamit Tata yang membawa kresek merah besar itu.
sesampainya di rumah, Bu Menuk kaget melihat bawaan dari kedua anaknya.
tapi tata langsung berbisik pada ibunya itu, tapi awalnya bu Menuk marah, tapi akhirnya dia pun menerima pemberian itu.
"bagaimana keadaan mbak kalian?" tanya Bu Menuk.
"mbak Sari sepertinya makin kurus Bu, tapi saat aku bertanya apa mbak bahagia, mbak mengangguk," jawab Tata.
__ADS_1
"ya Allah Sari, terus kapan mbak mu mau kesini?"
"sepertinya tidak bisa Bu, mbak harus menuruti semua keinginan dari mas Nanang, jadi mbak Sari belum tau kapan bisa kemari," kata Tata dengan sedih.
"apa suaminya tak mengizinkan, padahal ibu sudah merindukan Sari," kata Bu Menuk.
"kamu itu kenapa? anak udah bahagia kok malah khawatir, dia pasti baik-baik saja, sudah tak usah membuatnya dalam masalah, jika rindu kita bisa main kesana," kata pak Wasis.
"iya pak," jawab Bu Menuk.
sore hari Nanang baru terbangun, ternyata dia ketiduran tadi, jadi dia tak tau apapun.
saat dia keluar kamar, Sari sudah membersihkan semua rumah dan juga menyiapkan semua makanan.
ternyata sari sudah berada di toko sambil melayani beberapa pembeli, Nanang pun memutuskan untuk mandi.
setelah segar dia langsung menemani istrinya itu di toko, benar saja tak lama ada Arip dan Ripin datang bersama anak-anak mereka.
"ada apa ini kok bawa geng bocil kemari?" tanya Nanang melihat putra kedua temannya itu.
"mereka mau main ke rumah pakde Nanang katanya," jawab Arip.
"alah ini mah akal-akalan bapaknya saja biar bisa kesini untuk ngopi," kata Nanang menebak isi pikiran dari kedua temannya itu.
"hehe ketahuan ya, kalau gak gini masak bisa keluar kami, neng Sari tolong kopi hitam dua dan kalian mau apa anak-anak," tanya Ripin.
"kami mau es susu coklat," jawab ketiga anak itu.
"sama itu ya mbak," jawab Ripin.
"Halah kok mesti, jadi kalian aku tanya beneran ini, kalian mau kesini cuma mau lihat-lihat atau mau apa?" tanya Nanang masih curiga.
"sebenarnya kami mau bilang, bolehkah kami mendapatkan bonus duluan, ya buat beli susu anak nih bos," kata Arip.
"Bonus Minggu ini kalian cuma dapat seratus lima puluh loh," jawab Nanang.
"jadi dua ratus gitu loh bos, ya itung-itung bantu kami ini yang pekerja kasar," bujuk Ripin
"bonus akan ku berikan pada istri kalian, jika tidak kalian akan bermain judi benar tidak," kata Nanang.
"iya sih bos, tapi kali kalo ini tidak kok,kami benar-benar butuh," jawab Ripin
"yakin, tadi mbak Lulu belanja kesini dan dia bilang jika dia baru saja belanja barang mewah, benar begitu?" tanya Sari yang menyuguhkan minuman.
__ADS_1
Arip dan Ripin pun saling pandang dan menunduk hormat.