aku istrimu, bukan pembantumu

aku istrimu, bukan pembantumu
bertemu dengan ayah lagi


__ADS_3

Sari masuk kedalam kamar lama kakeknya, dia mencari apa yang di maksud oleh Bu Kokom.


tapi ruangan itu sudah bersih dan tak ada yang aneh, bahkan di belakang lemari juga.


"ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan, bagaimana aku bisa menemukan surat tanah yang sudah puluhan tahun," kata sari.


tapi tanpa sengaja melihat peti yang yang di tutupi dengan kain,sari melihatnya tapi peti kayu itu di gembok.


"emm... aku tanya bapak saja sepertinya," gumam sari yang mengambil ponselnya.


pak Wasis melihat ponselnya, "ada apa pak?"


"ini Bu,sari telpon," jawab pak Wasis yang menjawab telpon dari putrinya itu.


"iya nduk, ada apa?" tanya pak Wasis dari sebrang telpon.


"bapak, apa bapak punya kunci peti di kamar kakek, ini aku melihat peti kayu yang sangat besar," kata Sari.


"owh itu peti besi Sari, kuncinya di lemari, memang kamu mau cari apa, dasar kamu itu penasaran mulu orangnya," kata pak Wasis.


"ya pingin tau saja," jawab Sari.


"baiklah, lihat saja toh isinya cuma barang-barang lama kakek dan nenek mu saat menikah dulu," kata pak Wasis.


"terima kasih pak, sari akan melihat peninggalan kakek," kata Sari.


"baiklah terserah kamu," kata pak Wasis yang merasa tak berdaya menghadapi putrinya yang terlanjur penasaran.


Sari pun menutup telpon,dan langsung mencari kunci kotak itu, dan dia menemukannya.


"baiklah, ayo kita lihat," kata Sari yang langsung mencoba membuka kotak besi.


tapi sedikit kesulitan karena sudah terlalu lama, tapi beruntung masih bisa di buka.


Sari langsung melihat isi kotak itu, ternyata ada sebuah kebaya berwarna merah yang ada di foto di ruang tamu.


"kira-kira muat gak ya sama aku, sepertinya aku dan nenek tak jauh berbeda bentuk tubuhnya."


Sari menyisihkan kebaya itu untuk mencobanya nanti, sedang di bawahnya ada sebuah beberapa foto-foto lama.


Sari yang penasaran pun melihat setiap foto itu, saat dia melihat ada foto kakeknya dan tiga orang pria yang terlihat seumuran.


mereka sedang makan singkong bakar di pinggir sungai, sari membalik foto itu.


"Wasis, Wawan dan Jefri," gumamnya membaca tulisan di foto itu.

__ADS_1


"sepertinya ini foto baik dan ayah mertua, tapi kenapa pada kucel semua," kata sari tertawa.


setelah itu dia tak menemukan apapun lagi, "ini perasaan ku atau peti sebesar ini hanya berisi ini saja," kata Sari tak percaya.


tapi saat akan mengembalikan semua barang itu, Sari melihat ada sebuah celah kecil, dan saat di ketuk seperti ada ruang di dalamnya.


Sari mengambil sebuah pisau untuk membukanya, ternyata beneran terbuka.


Sari terkejut melihat isi kotak itu, ternyata semua surat tanah dan juga bukti jual beli yang sah.


belum lagi ada banyak perhiasan, "ya Tuhan Mbah, kenapa kamu tega menyiksa putra mu saat kamu ini ternyata orang kaya," gumam sari tak habis pikir.


dia pun mengambil semua surat-surat penting dan kemudian mengembalikan semua seperti semula.


bahkan dia tak mengambil sari perhiasan saru pun sebelum memanggil bapaknya sebagai anak mang Ijong.


Sari menemukan lima sertifikat hak milik yang cukup tua, dan itu menyatakan jika pemilik tanah yang sekarang tengah jadi sengketa itu milik kakeknya.


dia pun bergegas membawa surat itu, "Bu Kokom disini ada yang punya kendaraan gak, saya harus ke kota sebentar," kata sari.


"ada mbak, ada tetangga yang biasa ngojek warga desa sini untuk ke kota," jawab wanita itu.


dan beruntung kantor badan pertanahan Nasional di kota itu belum tutup.


beruntung, semua sertifikat masih sah, karena tanah itu juga memiliki bukti jual beli.


akhirnya Sari pun meminta bantuan untuk membuatkan sertifikat yang baru karena takut ada penyerobotan lahan.


"baiklah,besok kami akan datang untuk melakukan pengukuran tanah,dan jika semua syarat terpenuhi dalam enam bulan sertifikat yang anda inginkan bisa di ambil," kata petugas di kantor pemerintah daerah itu.


"terima kasih pak kalau begitu,saya permisi," pamit Sari.


sudah di pastikan besok pasti ada keributan besar karena tanah yang akan di ukur sekitar tiga tempat tengah luas hampir dua hektar per kebun.


"sudah mbak, sekarang kita langsung balik atau bagaimana?" tanya gadis yang mengantarkan sari.


"kita ke supermarket dulu ya, aku ingin membeli beberapa cemilan dan kebutuhan rumah," ajak Sari.


"iya mbak," jawab gadis itu.


"kalau boleh tau namamu siapa, dari tadi kita belum kenalan," kata sari dengan sopan.


"nama saya Vivi, biasa di panggil gembus juga kalau di desa,"


"lah kok gembus, memang kamu suka sekali tempe gembus ya," kata sari yang asal menebak.

__ADS_1


"iya mbak, karena itu tempe paling murah dan di masak apa saja enak," terang Vivi.


"ya sudah, sekarang kamu bisa ambil apa yang kamu mau, nanti biar aku yang bayar,"


"tidak usah mbak, nanti potong upah lagi," kata Vivi tertawa.


"tidak nduk, tenang saja, sekarang ambil apa yang kamu inginkan," kata sari yang mendorong troli itu.


saat dia sedang baris ingin membayar karena semua sudah di beli.


tanpa sengaja dia melihat Yuni yang ada di depannya di antara dua wanita yang memisahkan mereka berdua.


"tambah ini Yuni," kata satu yang kaget mendengar suara di belakangnya itu.


"sini ayah..." kata Yuni yang menoleh.


gadis itu langsung lari menerobos dua pengunjung di belakangnya, dan langsung memeluk sari.


"kamu kemana saja, tadi kami kerumah, tapi kamu tak ada," kata Yuni terisak lirih.


juragan Wawan pun lemas, ternyata tadi dia tak sadar sari di depannya terhalang satu orang gadis.


"maaf ini belanjaannya," kata kasir


juragan Wawan langsung maju untuk membayar belanjaan miliknya, dan menunggu belanjaan milik Sari.


Sari dan Yuni masih duduk berdua di teras minimarket bersama Vivi, sedang juragan Wawan memasukkan semua belanjaan ke mobilnya.


"mbak ikut aku beli kue di toko itu yuk,sebentar saja," ajak Yuni pada gadis yang bersama Sari.


"tapi mbak, itu mbak Sari di tinggal nih," kata Vivi yang takut


"tidak apa-apa, dia gak bakal di apa-apain kok tenang saja," kata gadis Yuni meyakinkan Vivi.


"Yuni..." kata sari yang ingin pergi, tapi juragan Wawan menahannya.


Sari menoleh dan memberanikan diri melihat wajah juragan Wawan. "ayah wajah mu kenapa?" kata sari yang reflek menyentuh susut bibir pria itu.


"aku pantas mendapatkannya, karena aku pria busuk yang telah melukai mu, aku bahkan lebih biadab dari Nanang yang menyiksamu," kata juragan Wawan yang terus menunduk penuh penyesalan.


"ayah..."


juragan Wawan langsung berlutut di depan Sari, dan membuat gadis itu kaget karena juragan Wawan mulai terisak.


"ayah... tolong tenanglah... kita bisa bicara tapi jangan seperti ini," mohon Sari.

__ADS_1


__ADS_2