aku istrimu, bukan pembantumu

aku istrimu, bukan pembantumu
terlewat begitu saja


__ADS_3

acara pengajian itu berjalan lancar, hari juga terlewati dengan sangat biasa.


Sari dan Nanang menjalani hidup mereka berdua secara baik dan sama-sama sibuk.


tanpa mereka sadari sudah dua tahun perjalanan pernikahan mereka.


sikap Nanang makin menjadi, pria itu memang sudah memegang beberapa usaha yang di berikan oleh ayahnya.


dan toko milik Sari bukan malah maju tapi sepertinya akan tutup,bukan apa dia tak bisa lagi membagi waktunya.


"sudah ku bilang tutup saja toko mu dan lebih perhatian padaku, kita sudah menikah tiga tahun, tapi kamu tak kunjung hamil, aku malu dek! aku malu jadi hinaan teman-teman ku!" bentak Nanang pagi ini.


"aku juga tak bisa berbuat apa-apa mas, aku juga sudah memeriksakan diri ke dokter, dan dokter bilang jika kondisiku baik, kalau begitu bulan depan kita periksa berdua," kata sari mengajak suaminya.


"kamu gila, dasar istri goblok, tak mungkin aku bermasalah, aku yakin dokter itu yang bodoh, karena memeriksa kamu saja tak becus, dasar goblok!" marah Nanang sambil mendorong kepala sari.


"mas jika yakin tidak ada yang salah, kalau begitu ayo kita lakukan pemeriksaan itu, kita lihat siapa yang bermasalah," kata Sari menantang suaminya itu.


"kamu menantang ku, baiklah kita lakukan, tapi jika aku normal dan kamu yang bermasalah lihat apa yang bisa aku lakukan padamu, dasar istri tak berguna!!" bentak Nanang yang kemudian meninggalkan rumah.


sari hanya bisa terduduk lemas, setiap pagi selalu keributan yang sama masalah anak, dia juga tak bisa berbuat apa-apa lagi.


"kenapa hanya pihak wanita yang terus di salahkan, aku juga sudah berusaha..." lirih Sari merasa kesal dengan hidupnya sendiri.


pernikahan yang tak di inginkan, hanya karena ingin menjaga nama baik dari bapaknya, Sari terus bertahan seperti ini.


Nanang pergi ke penggilingan beras miliknya, ternyata beras yang akan di kirim ke tempat Azila sudah dimuat.


"sudah siap kirim?" tanya Nanang pada pegawainya.


"sudah mas, tinggal berangkat," jawab salah satu pegawainya.


"baiklah, saya antar beras dulu,kalau ada yang nyari bilang suruh ke rumah sore saja," kata Nanang.


"siap mas," jawab pria itu.


Nanang pun berangkat sendiri menuju ke pasar Peterongan tapi dia menuju kesebuah toko sembako yang cukup besar milik Azila.


baru juga sampai wanita itu sudah tersenyum ramah, "apa kabar mas Nanang, aduh makin cakep saja,"


"kamu juga makin cantik,oh ya bagaimana kabar suamimu?" tanya Nanang yang dengar dari Adelia jika suami dari Azila itu sakit.


"ya begitu mas, maklum penyakit orang tua, tapi aku sudah mencari pembantu khusus untuknya, karena aku harus mengelola segalanya bukan," jawab Azila.


"tentu, oh ya ini beras pesanan mu, maaf aku gak bisa bawa kuli karena di penggilingan juga sangat ramai," kata Nanang.

__ADS_1


"iya gak apa,di sini ada kok kuli panggul, sudah sekarang ayo masuk dulu sambil menunggu beras-beras itu di turunkan," ajak Azila.


"baiklah,"jawab Nanang.


dia merasa jika sekarang Azila juga makin cantik, saat si kantor wanita itu yang ada di lantai dua.


Nanang duduk bersebelahan dengan Azila,wanita itu nampak terus mepet ke arah Nanang.


"jangan seperti ini Azila, ingat kita sudah sama-sama menikah," kata Nanang yang masih sadar akan pernikahannya.


"aku tau kok jika istrimu itu tak bisa memuaskan mu, itulah kenapa kalian belum punya anak, sudah tak usah malu kita sudah sama-sama dewasa bukan," kata Azila menggoda Nanang.


"kamu ngomong apa Azila, kamu itu wanita bersuami, lagi pula ini di tempat mu," kata Nanang berusaha menghindar.


"aku tau, aku minta maaf, sejujurnya aku butuh belaian laki-laki, aku merasa jika suamiku tak berguna, dia itu pria tua, lagi pula aku wanita subur, aku jamin jika kamu bisa membuatku hamil, kamu bisa membuktikan pada istrimu yang mandul itu, jika kamu itu normal bukan," kata Azila yang menyerang tepat di titik kelemahan dari Saga.


Azila langsung mencium bibir Nanang dengan sangat buas,tapi sebuah telpon mengejutkannya.


Nanang mendorong Azila dan melihat ada nomor ponsel istrinya,"iya dek ada apa? kamu sudah menutup tokonya?" tanya Nanang yang bergegas keluar dari ruangan Azila.


"dasar wanita sialan!" maki Azila melihat pria yang di cintainya pergi.


"baiklah mas akan segera pulang, apa kamu butuh sesuatu mumpung mas ada di pasar Peterongan," kata Nanang.


dia pun menutup telponnya dan bergegas ke area pasar untuk membeli apa yang di minta istrinya.


"mas Nanang bakal pulang?" tanya Yuni penasaran.


"pasti pulang,paling sebentar lagi Yuni, oh ya kalian mau buat sesuatu sambil nunggu bahan-bahan yang di beli mas Nanang?" tanya Sari dengan sopan.


"tidak Sari, ini sudah cukup rujak manis buatan ibu juragan best lah pokoknya," kata Dian tersenyum manis.


Fendi datang ingin mengembalikan kotak-kotak kue yang di buat oleh sari, karena semenjak Nanang memintanya menutup toko.


sari kini memilih mencari uang dengan menitipkan beberapa jenis kue di tempat usaha milik Fendi.


itupun atas izin dari Nanang, dan dia juga menerima catering nasi bungkus dan kotak juga.


"ciye.... ada yang malu tuh," ledek Dian, Dewi dan Zahra saat melihat Fendi datang.


"aduh kebetulan sekali, masuk dulu mas Fendi, kami sedang makan rujak nih," kata Sari.


"iya terima kasih, Yuni kamu tak menyapaku," kata Fendi yang membuat gadis itu tersipu malu.


"aduh kenapa kita ada di sini, ayo masuk bantuin aku masak yuk Dian," ajak Sari.

__ADS_1


"boleh deh," jawab Dian.


kini Fendi ikut bergabung dengan yang lain, Yuni terlihat makin ceria saat ada Fendi.


mereka berempat tau jika Yuni menyukai Fendi, tapi mereka tak tau jika Fendi malah menyukai gadis lain.


Nanang datang dan kaget melihat motor Fendi yang ada di depan rumahnya.


ternyata mereka sedang duduk bersama, "tumben kalian semua ada di sini?"


"iya mas, kami cari selesai ujian negara terus main kesini," jawab Yuni.


"semalam kemana kok gak ikut nongkrong?" tanya Nanang pada temannya itu.


"nongkrong apa-apaan, itu bukan tempat nongkrong tapi tempat buat menghina orang, masak siapapun yang datang pasti jadi bahan hinaan seperti itu, aku tak suka dengan teman yang seperti itu," jawab Fendi


"ini kopi untuk mas Fendi dan mas Nanang," kata Dian menyuguhkan minuman itu


"loh kok kamu Dian, Sari mana?" tanya Nanang.


"Sari sedang membuat bumbu, mas kebelakang saja," kata gadis itu.


Nanang pun langsung masuk kedalam rumah, dia tak suka jika tamu yang malah mengantarkan minum seperti tadi.


"mas sudah datang, sini ayamnya," kata Sari yang sibuk membilas ayam itu dan merebusnya.


tak di duga,Nanang langsung memutar tubuh dari istrinya itu dan langsung mencengkram lengan Sari dengan kuat.


"ada apa mas," tanyanya bingung.


"sudah ku katakan, jangan pernah membuat tamu melakukan pekerjaan, tadi diam membawakan kopi kedepan untuk ku dan Fendi, itu salah dek!" bentak Nanang dengan suara yang dia turunkan agar tak terdengar sampai kedepan.


"tapi dia yang mau mas," kata Sari mulai sadar jika selama ini di hati suaminya masih belum tergantikan sosok Dian.


"jangan biarkan, aku akan menghukum mu,agar kamu tak melakukannya lagi,ingat itu," kata Nanang yang mulai membuka kancing atas baju Sari.


" jangan mas, luka yang kemarin belum sembuh, aku mohon itu sangat sakit," kata sari yang hanya bisa menahannya lagi.


Nanang pun menutup mulut Sari agar tak berteriak, dan satu hanya bisa memegangi meja dapur untuk menahan rasa sakit itu.


"ini hukuman mu, kamu ini benar-benar istri tak berguna, kenapa sulit sekali bagimu menurut dan mematuhi ucapan suami," kata Nanang menoyor kepala sari.


"maaf..."


kini di bekas gigitan yang kemarin sudah ada bekas gigitan lagi di pundak Sari.

__ADS_1


bekas gigitan Nanang kali ini bahkan sampai berdarah, dia juga tak bisa melawan, atau dia bisa di hajar hingga mati mungkin.


__ADS_2