
keduanya pun duduk dan mulai berbincang, "Sari tak menyalahkan ayah, memang Sari teluka karena hal itu, tapi jika ingat ayah melakukannya tanpa sadar, lagi pula itu juga kesalahan ku yang masuk ke rumah orang tanpa izin,"
"tapi perasaan bersalah ayah tak bisa membohongi ku sari, izinkan ayah bertanggung jawab atas mu," mohon juragan Wawan.
pria itu mengenggam tangan Sari, "apa ayah bisa melupakan mbak Adelia, apa ayah bisa menyingkirkan semuanya dan mulai hidup baru bersama ku, apa bisa ayah berjanji tak akan membandingkan aku dengan wanita lain,jika tak bisa aku mohon maaf, aku tak bisa menerimanya, karena itu semua yang aku alami dua tahun pernikahan ku ayah, jadi ayah tak perlu seperti ini, karena aku sudah memaafkan ayah, karena kita sama-sama salah," kata sari yang terdengar begitu tegar.
"tapi setidaknya tolong beritahu aku kamu tinggal dimana sekarang?" tanya juragan Wawan.
"jika memang kita di takdir kan bertemu lagi, tak perlu aku memberi tahu tempat tinggal ku, pasti ayah akan bertemu dan melihat ku lagi, dan tolong jangan menyalahkan diri sendiri, hidup dengan baik dan jaga kesehatan ya ayah .." kata sari yang kemudian langsung mengajak Vivi pergi.
juragan Wawan tau menahan Sari adalah hal yang salah, tapi sebelum pergi sari menoleh dan tersenyum pada juragan Wawan.
"ayah tidak boleh sedih," teriaknya.
Yuni pun hanya bisa melihat hal itu, "ayah tidak mengejarnya?"
"tidak usah Yuni, jika aku memang harus menikahinya, ayah harus membuat diri ayah pantas untuknya, bukan pria yang akan melukainya," kata juragan Wawan yang perlahan merasa ada yang aneh.
sedang Vivi bisa melihat perbedaan dari sikap Sari,sebelum dan sesudah bertemu pria tadi.
"mbak jangan gerak nanti jatuh, di depan motor ini belanjaannya juga penuh," kata Vivi panik.
"aku senang Vivi, hari ini semua kesedihan ku sudah hilang, ternyata seperti ini rasanya bebas! aku bebas!!" kata sari yang merentangkan kedua tangannya.
tiba-tiba hujan turun, Vivi membelokkan motornya ke arah gubuk.
Sari merasa senang, entahlah setelah bicara sedikit saja dengan mantan ayah mertuanya itu.
"kamu laper gak, aku pingin makan yang anget deh, habis perutku laper banget," kata Sari.
__ADS_1
"apa? tapi mau beli apa," tanya Vivi bingung.
"iya ya, gak ada yang jualan, ya Allah semoga cepat reda, aku tak sabar mau pulang dan memasak mie instan kuah panas dengan sayur dan telur," kata sari.
"aduh mbak jangan ngomongin makanan, aku jadi laper," kata Vivi.
Sari tertawa mendengar ucapan gadis itu, "kita terobos saja, kamu berani kan? tapi aku titip tas di bagasi muat gak?"
"muat mbak,bagasi motorku besar kok," jawab Vivi.
akhirnya mereka memutuskan untuk pulang sambil bermain hujan, dan itu adalah hal yang sangat menyenangkan.
setelah mengantarkan sari pulang, Vivi pulang dulu menaruh motornya dan baru kembali ke rumah Sari yang hanya berjarak dua rumah dari rumah Vivi.
mereka pun makan mie hangat di campur dengan bakso yang tadi sempat di beli, Bu Kokom membuatkan susu jahe hangat untuk keduanya.
"aduh mbak Sari ini, gak takut sakit ya kok malah hujan-hujanan kayak gini, nanti kalau mas Wasis marah gimana?" omel wanita tua itu.
dia melihat ke arah Vivi dan memberikan kode untuk merahasiakan semuanya.
setelah selesai makan, Sari merasa sangat puas, sedang Vivi tak mengira jika satu adalah cucu dari orang yang pernah jadi orang paling baik dan dermawan di desa.
"ngomong-ngomong aku ingin tau deh, bagaimana dulu kakek menjadi orang sini, apa dia pelit,jahat atau bagaimana?"
"mang Ijong itu pria paling baik, bahkan dia selalu menolong orang lain, bahkan saat beliau belum panen dan sebenarnya butuh uang, tapi ada warga yang meminta pertolongan, beliau akan lebih memilih untuk membantu orang itu," kata Bu Kokom.
"apa kakek sebaik itu, ah kalau nenek?" tanya Sari.
"Bu Yulianti, panggilannya Bu Yuli itu orang juga sangat baik,bahkan saat selesai acara pernikahan bapak mbak Sari, semua warga di berikan sembako sebagai tanda syukur, dan mbak Sari itu mirip sekali dengan Bu Yuli, nenek mbak," jawab Bu Kokom
__ADS_1
"sebenarnya kata bapak, nenek meninggal dunia setelah sebulan bapak dan ibu menikah, dan kakek meninggal saat aku usia dua tahun, jadi aku tak banyak memiliki kenangan bersama mereka," kata Sari sedih.
"sudah atuh mbak, lebih baik di doakan saja itu lebih baik, karena saya yakin mereka juga bangga melihat cucu mereka seperti saat ini," jawab Bu Kokom.
keesokan harinya, semua warga kaget karena kedatangan petugas badan pertanahan Nasional untuk melakukan pengukuran dan survei kepemilikan.
Jefry yang kaget selalu orang yang selama ini merawat dan mengunakan kebun milik ayah angkatnya itu pun menghubungi juragan Wawan.
mendengar ada yang ingin menyerobot lahan milik penolongnya, juragan Wawan menjelaskan pada pak Wasis dan mengajaknya ke desa tempat tinggal Jefry.
semua warga yang sudah tinggal lebih dari empat puluh tahun menjelaskan tentang tanah itu.
akhirnya para petugas selesai melakukan pengukuran tanah,saat juragan Wawan dan pak Wasis datang.
"mas apa ini, kenapa tanah ini di ukur, apa akan di jual oleh mu mas Wasis, bukankah kamu janji tidak akan menjualnya," kata Jefry yang tau jika pria itu sedang kesulitan.
"tutup mulut mu Jefry, mas Wasis sudah sangat mengalah padamu,kamu lupa jika mas Wasis yang anak kandungnya rela mengalah demi kita yang hanya anak pungut, kau lupa itu!!!" marah juragan Wawan.
"sudah mas Wawan, memang siapa yang bisa meminta pengukuran tanah tanpa pemberitahuan kepada kami pak, kebetulan saya adalah anak kandung pemilik tanah ini," kata pak Wasis.
"sayangnya aku juga pewarisnya, sesuai dengan surat yang di tinggalkan kakek, aku cucu pertama di keluarga ini, dan aku tau jika ada penyerobotan lahan saat baru sampai di sini, dan aku juga dengar jika kebun ini akan di akui eh orang yang bukan pewaris, jadi sebagai cucu pertama ini hak ku melakukannya bukan," kata sari menunjukkan sertifikat yang sudah di dari selama ini oleh Jefry
"jadi maksudmu nduk, Jefry!!" teriak juragan Wawan marah dan langsung mencekik leher pria itu.
dia tak mengira adik angkat mereka yang terkecil, ingin menguasai harta yang bahkan bukan miliknya.
"kamu belum puas setelah Semuanya,kamu memfitnah mas Wasis hingga dia di usir oleh bapak, dan kamu menikmati hartanya, bahkan kamu lihat kondisinya, kamu bisa semena-mena, aku bisa lebih dari mu, Gono, Paryo, Kuswo, buat pria ini mengerti, dan sekarang sudah seharusnya semua milik bapak kembali pada pemiliknya," kata juragan Wawan.
"iya pak, tapi kecuali sawah yang ada di juragan Wawan, karena kakek sudah menjualnya karena juragan Wawan yang membayar semua pengobatan kakek."
__ADS_1
juragan Wawan merasa sedih mendengar panggilan sari padanya, entahlah sepertinya dia dan sari sudah sangat jauh saat ini.