
Sari memilih tiduran di sofa ruang tamu, saat dua orang tamu yang tak dia duga datang.
"assalamualaikum ..." suara berat itu membangunkan Sari yang sedang beristirahat
"waalaikum salam..." jawab Sari yang bangun dan menghapus air matanya.
pak Wasis kaget melihat putrinya yang terluka, sedang Sari tak mengira jika bapak dan ibunya akan langsung datang setelah telpon tadi.
"bapak ... ibu ..."
"ya Allah anakku," tangis Bu Menuk yang melihat kondisi Sari.
wanita itu bahkan langsung memeluk putrinya itu, sedang pak Wasis sebagai seorang bapak pun hancur.
telebih setelah apa yang dia ucapkan tadi pagi, "kamu kenapa bisa terluka seperti ini? mana yang sakit nak..." tangis Bu Menuk.
Sari masih mencoba untuk tegar, dia mencoba tersenyum di depan kedua orang tuanya, "Sari tidak apa-apa kok Bu,"
"pak kenapa cuma diam seperti itu, lihat putrimu," kata Bu Menuk.
pak Wasis pun berjalan perlahan ke depan Sari, melihat bapaknya yang mendekatinya, dia seperti orang yang ketakutan.
tapi sebuah usapan lembut dia rasakan membelai rambutnya yang cukup panjang.
"jangan sembunyi semuanya dengan tersenyum begitu nduk, kamu boleh menangis kok jika merasakan sakit..." kata pak Wasis.
mendengar ucapan dari sang bapak, Sari pun langsung luluh lantak, tembok yang dia buat kuat kini hancur di depan pria yang selalu jadi panutannya, dia menangis histeris di pelukan bapaknya.
pak Wasis juga tak bisa menahan air matanya lagi, hatinya terluka sebagai ayah melihat kondisi putrinya.
Bu Menuk pun bergabung dengan Sari di pelukan suaminya, "mas Nanang tak mencintaiku pak, aku harus apa ... aku rapuh aku tak bisa mendengar suamiku menyebut nama gadis lain," adu Sari.
"maafkan bapak... maaf..." suara gemetar pak Wasis yang juga tak bisa bicara apapun selain minta maaf.
akhirnya mereka pun mulai sedikit tenang, tapi Sari masih ingin merasakan pelukan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
"kamu sudah sarapan nduk, tubuhmu semakin kurus," tanya Bu Menuk melihat putrinya.
Sari mengeleng pelan, "Bu.." kata pak Wasis yang meminta rantang yang tadi mereka bawa dari rumah.
"sekarang sarapan dulu ya nduk, biar bapak suapi?" kata pak Wasis.
mendengar itu, sari mengangguk dan dengan patuh memakan setiap makanan yang di suapi oleh bapaknya.
__ADS_1
Bu Menuk pun merasa senang melihat suami dan putrinya itu, terlebih pak Wasis selama ini juga sering melamun di rumah.
terlebih setelah pernikahan Sari, pria yang selama ini begitu keras dan berbicara lantang.
seperti kehilangan jiwanya setelah menyerahkan putri pertamanya itu, mungkin bagi yang tidak tau.
pria itu sangat keras pada putri-putrinya, bahkan tak segan untuk memukul mereka.
tapi setelah itu, dia akan merasa bersalah, bahkan dia akan mukul tangannya yang berani menyakiti putrinya.
bahkan Bu Menuk ingat, saat itu Sari dan Tata yang pulang basah karena main air di sawah.
kedua anak perempuannya itu main di sebuah mesin diesel besar yang di gunakan untuk menyedot air dari sumur untuk mengairi sawah.
saat keduanya pulang ke rumah, pak Wasis geram karena mereka berani mandi di tempat umum.
"kamu ini sebagai mbak bukan mengajari adiknya, malah membiarkan adikmu mandi di sungai seperti ini, kamu itu sudah besar, kenapa tak mengerti!!" bentak pak Wasis.
Sari hanya diam menerima pukulan kayu di kakinya, setelah melakukan itu pak Wasis pun memilih pergi meninggalkan rumah.
Bu Menuk menenangkan kedua putrinya yang menangis, setelah mendapatkan amukan dari sang bapak.
tapi yang tidak mereka tau adalah pak Wasis akan memukuli dirinya sendiri, setelah memberikan hukuman seperti itu pada putrinya.
"sudah pak, nanti bapak bisa terluka," kata Bu Menuk menahan tangan suaminya.
"iya pak,ibu tau," jawab Bu Menuk.
bahkan saat Sari atau Tata sakit, maka pak Wasis yang akan terjaga semalaman untuk menjaga putrinya itu.
bahkan dia sering memilih membawa pulang makanan yang dia dapat saat bekerja di sawah orang lain saat melihat lauk kesukaan putri-putrinya.
di balik sikap keras seorang bapak, dia adalah orang pertama yang akan pasang badan untuk putrinya.
seperti pagi ini, setelah mendapatkan telpon dari Sari, dan mendengar suara tangisan putrinya.
pria itu terlihat tak tenang, "pak tenang, kita akan ke tempat sari, tapi bapak tenang dulu," bujuk Bu Menuk.
"ayo bu, bapak khawatir, karena dari terdengar sangat sedih, terlebih dia menangis sesenggukan," kata pak Wasis yang tak sadar berteriak pada istrinya.
"bapak tenang dulu!!" bentak Bu Menuk.
mendengar suara istrinya yang sudah marah, pak Wasis pun diam dan duduk.
__ADS_1
"jika bapak seperti ini, Sari akan heran melihat bapak," kata Bu Menuk.
"iya Bu, tapi bapak takut Sari kenapa-kenapa, ayo Bu... cepat!" kata pak Wasis.
selama perjalanan pun pria itu terus bergumam sendiri berharap putrinya tak mengalami hal buruk.
"ibu sedang memikirkan apa?" tanya Sari mengejutkan Bu Menuk.
"tidak kok, ibu cuma ingat tadi Dewa sudah ibu kasih uang jajan apa belum ya," kata Bu Menuk bohong.
"Sari mau minta maaf sama ibu dan bapak, sebenarnya selama ini bukan Sari tak mau pulang, tapi ..." kata Sari menunduk merasa sedih.
"tidak apa-apa, kamu benar menuruti ucapan suamimu, selama bapak dan ibu masih sehat, bapak akan datang menemui mu di rumah ini, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu sampai luka begini?" tanya pak Wasis.
"Sari dan mas Nanang cuma sedikit sedang bertengkar dan sari kepeleset dan membentur tembok dan tara... dapat luka jahitan," kata Sari Yang tak ingin membuat kedua orang tuanya sedih.
"kamu ini tetap ceroboh ya, lihat persis siapa kalau begini," kata Bu Menuk melihat suaminya.
"ya ibu mu lah, orang bapak itu pria kuat dan tahan banting," kata pak Wasis.
"yakin, siapa yang dulu rela di bilang orang paling jahat di desa, hanya demi membela putrinya yang pulang sambil menangis?" kata Bu Menuk
mendengar itu Sari melihat ke arah ayahnya, karena dia tau jika dulu jarang ada yang mau berteman dengannya karena semua orang bilang jika bapaknya itu orang kejam dan kasar.
bahkan pernah sampai ada omongan, jika kedua putrinya tak akan ada yang mau menikahi karena punya bapak seperti pak Wasis.
"benarkah itu Bu?" tanya Sari tak percaya.
"iya nduk, sampai bapak mu bertengkar dengan bapaknya Toni karena membela mu, sampai di bawa ke balai desa karena tak ada yang mau mengalah," kata Bu Menuk tertawa.
"ibu ini buka aib orang saja," kata pak Wasis.
mendengar itu, Sari memeluk tubuh pak Wasis, "Sari kira, bapak tak pernah sayang sama sari karena selama ini, bapak seperti hanya menyayangi Tata dan Dewa," kata Sari yang sedih
"bagiamana bisa bapak tidak menyayangi mu, kamu itu cerminan dari bapak, maka tak akan bapak biarkan siapapun melukai mu, jadi sekarang bapak tanya, apa kamu yakin ini jatuh sendiri atau Nanang yang membuatmu seperti ini?" tanya pak Wasis.
"tidak pak, ini sepenuhnya salah Sari, jadi jangan marahi menantu bapak itu, dia itu baik kok, meski belum sepenuhnya mencintai ku," jawab Sari berbohong.
"kalau kedua mertua mu nak?" tanya Bu Menuk.
"mereka berdua sangat baik, bahkan ibu Wiwit sering membelikan perhiasan yang bahkan sari tak minta, dan ayah juragan juga sering memberikan uang untuk sari simpan, dia bilang jika ini hak dari dan tak boleh putranya ikut menikmatinya," jawab Sari.
perasaan pak Wasis makin tak menentu setelah mendengar itu, dia merasa seperti menjual putrinya sendiri.
__ADS_1
"maafkan bapak ya nduk.... seandainya bapak tak langsung menerima dan memaksamu menikah, pasti sekarang kamu sedang bersenang-senang dengan teman-teman mu," kata pak Wasis.
"tidak apa-apa pak, mungkin ini semua sudah jalan hidup Sari, sekarang Sari tau, jika saat Sari sedih ada bapak yang akan memeluk Sari, dan aku tak sendiri..." kata gadis itu dengan air mata yang kembali jatuh.