
juragan Wawan keluar dari kamar mandi dan terlihat sudah segar, tapi dia langsung pergi meninggalkan kamar.
Sari hanya bisa menangis, dia hanya ingin di bujuk saja sebentar, tapi suaminya itu seakan tak mengerti dan malah meninggalkan dirinya begitu saja.
"kenapa hatiku sakit sekali melihat dia begitu cuek..." lirih Sari sambil menangis.
Fendi menghentikan motornya di depan rumah juragan Wawan dan kemudian setelah puas memandangi rumah itu.
dia pun langsung pergi begitu saja, sedang di ruang tamu, juragan Wawan menutup matanya dan pikirannya sedang kemana-mana.
dia pun terlelap tidur begitu saja dengan sangat mudah,sedang Sari merasa dirinya seakan begitu tak berguna saat ini.
keesokan paginya,sari sudah memasak nasi untuk doa bersama untuk meminta kelancaran akad nikah dari Yuni nanti sore.
mbok Jum yang melihat sari sangat khawatir, pasalnya gadis itu terlihat lemah dan pucat, "neng kalau capek istirahat saja ya,"
"tidak mbok, nanti pekerjaan tak selesai, lihat kita tinggal menata saja kok, setelah itu Semuanya selesai,dan mas juga sudah mengundang semua orang," jawab Sari yang masih berusaha tertawa.
Yuni sudah bersiap untuk berangkatkan ke kediaman Farid sesaat setelah doa bersama itu.
beberapa bapak-bapak datang berserta ustadz yang akan memimpin doa.
akhirnya acara kirim doa selesai dengan lancar, Sari membantu mengeluarkan semua berkat itu.
semua orang pamit, juragan Wawan pun mengantarkan yuni untuk ke rumah mertuanya.
Sari tidak ikut karena dia harus beres-beres rumah, tapi Yuni memohon agar dia mau mengantar kepergiannya.
"tolong antar aku ya ma.."
"baiklah... mbok tolong di bersihkan semuanya ya," pamit Sari pada mbok Jum.
"iya neng, juragan tolong bawa neng Sari periksa ke dokter ya, soalnya tadi dia sempat mimisan," kata mbok Jum.
"mbok... aku baik-baik saja," kata Sari yang tak suka
" kamu sakit, kalau begitu istirahat saja," kata Juragan Wawan.
__ADS_1
"sudah antar Yuni dulu, aku baik-baik saja," jawab Sari yang melepaskan tangan juragan Wawan dari lengannya.
mereka pun berangkat ke rumah Farid, sesampainya di rumah itu terlihat ada beberapa adat dan tata cara lagi.
Sari dan juragan Wawan terpaksa harus mengikuti semuanya, tapi Sari tak bisa tahan lagi saat dia mencium aroma asap yang bercampur dengan kemenyan yang di bakar.
tiba-tiba kepalanya berputar dan pandangannya menghitam. juragan Wawan langsung menangkap tubuh istrinya itu.
"dek kamu kenapa, bangun..." panggil juragan Wawan.
"maaf bisakah seseorang mengantikan ku, karena aku harus membawanya ke rumah sakit," mohon juragan Wawan.
"maaf pak tapi tak bisa," jawab ibu dari Farid.
"apa acaranya masih banyak?" tanya juragan Wawan.
"tinggal pecah kendi pak besan,"jawab wanita itu.
tanpa di duga, juragan Wawan mengendong istrinya dan mengikuti acara yang terakhir, setelah kendi pecah dia langsung membawa Sato pergi.
mereka berdua sampai di rumah sakit terdekat, dokter pun langsung membawa ke ruang ICU.
setelah di tangani oleh dokter, Sari perlahan membuka matanya dan melihat dokter itu, "dokter jangan bilang jika saya hamil pada suami saya,"
"kenapa nyonya, bukankah kandungan anda ini sangat lemah, anda juga stress dan tertekan dan kondisi seperti ini tak baik untuk kandungan anda,"
"tolong lakukan apapun untuk anak pertama kami, dan tolong rahasiakan, karena anda tau kita orang Jawa punya banyak pamali,jadi saya mohon..."
"baiklah jika itu yang anda inginkan,di luar itu suami anda?" tanya dokter.
Sari pun hanya mengangguk karena tadi dia sempat mendengar suara suaminya sebelum pingsan.
juragan Wawan sangat khawatir terlebih dokter belum keluar dari tadi, saat pintu terbuka dia pun langsung bangkit dan menghampiri dokter itu.
"bagaimana kondisi istriku dokter, apa yang terjadi padanya?" kata juragan Wawan.
"istri anda terlalu tertekan dan stress, saya mohon untuk menjaga moodnya agar tetap baik, dan dia harus di rawat inap untuk beberapa hari," kata dokter.
__ADS_1
"baiklah dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk istriku," kata juragan Wawan.
"baiklah, mari ikut saya kedalam karena istri anda akan di pindahkan ke ruangan rawat inap," kata dokter.
juragan Wawan memilih kamar nomor satu, setidaknya istrinya dan yang menunggu nantinya tak akan terganggu dengan orang lain.
Sari terlihat begitu pucat, tangannya kini terpasang selang infus, sedang juragan Wawan merasa sangat sedih melihatnya.
"sayang kenapa kamu sampai jatuh sakit,maaf jika beberapa hari ini aku sangat menyebalkan,aku sering marah dan membentak mu, aku terus bingung dengan pernikahan Yuni yang serba mendadak ini," kata juragan Wawan jujur akhirnya.
"aku juga mas, ketika semua orang menyalahkan ku,dan saat aku ingin membicarakan dengan mu, tapi kamu seperti ini..." kata Sari yang tiba-tiba menangis.
juragan Wawan pun memeluknya, ya mereka terus bersitegang karena pernikahan Yuni.
"baiklah, biar aku membuat surat pesan saja, aku tak mau meninggalkan mu sedetik pun, karena aku ingin berada disisi mu," kata juragan Wawan
"tapi nanti apa kata orang mas, saat kamu tak menjadi wali dari putri kandung mu?" kata Sari dengan sedih.
"tidak dek, sebaiknya menggunakan wali hakim untuk mengurangi semuanya, karena aku tak yakin jika sekarang Yuni adalah putriku, saat tak sengaja kemarin aku bertemu teman lamaku," kata juragan Wawan memeluk Sari dengan terisak.
"apa maksud mu mas?" bingung Sari yang kaget mendengar ucapan suaminya.
"dia wanita tak setia, entah bagaimana dia bisa, dan aku harus seperti apa sekarang, karena dia nyatanya pernah tidur dengan teman lamaku itu dan di hitung dari kejadian itu, itu pas dengan kelahiran Yuni," kata juragan Wawan.
Sari pun mengeratkan pelukannya, dia tak mengira jika awalnya pria ini yang melakukan kesalahan dengan berselingkuh.
tapi nyatanya dia anak yang dia besarkan malah baru ketahuan jika bukan anaknya, di saat seperti ini.
"terus kita harus bagaimana mas, tapi semua orang taunya kamu ayah Yuni,"
"entahlah, lebih baik aku menghilang seperti ini, dan terserah besok mau siapa yang menjadi wali nikahnya, dan aku sudah mengundang teman lama ku itu untuk datang ke pesta itu besok," kata juragan Wawan.
Sari pun tak bisa mengatakan apapun saat ini, karena informasi yang dia terima sangat banyak dan sepertinya otaknya juga tak sanggup mencernanya.
"ya Tuhan... sebenarnya wanita itu seburuk apa, bagaimana bisa dia membuat orang sebaik ini menjadi ayah dari anak-anak haramnya, dan dia malah kehilangan anak kandungnya," batin Sari sedih.
pak Wasis dan Bu Menuk yang tadi mendapatkan telpon pun ingin masuk tapi tak jadi saat mendengar kedua orang itu sedang menangis bersama.
__ADS_1