
juragan Wawan baru bangun padahal sudah jam tujuh pagi, tapi anehnya semua masih sepi di rumahnya.
dia pun melihat area dapur dan masih belum ada yang bangun, dia pun memutuskan membuat kopi sendiri, lagi pula masih banyak kue kering di toples.
dia ingat jika Sari bilang untuk menghangatkan lauk di kulkas semalam, "ada lauknya, ini gimana masak nasinya?" gumam juragan Wawan.
ternyata di kulkas juga ada nasi semalam, dia pun memutuskan untuk menghangatkan Semuanya.
Nanang baru bangun bersama Azila, "loh kok ayah yang masak, mana Yuni?" tanya pria itu.
"masih tidur mungkin kelelahan, sudah kalian mau berangkat?" tanya pria itu.
"nanti agak siangan ayah," jawab Nanang.
"owh..."
"sayang aku tak ingin makan nasi kemarin, terus lauknya sama juga," kata Azila dengan manja.
"kalian bisa beli Badi di warung ujung desa,Nanang masih ingat kan," kata juragan Wawan.
pintu kamar Yuni terbuka, ternyata Sari keluar masih dengan baju piyama dan rambutnya di ikat asal.
"ya yang mulia ratu baru bangun?" kata juragan Wawan menggoda gadis itu.
"ayah bicara apa, maaf kesiangan aku terlalu lelah, dan semalam Yuni sedikit mimpi buruk jadi kami tidur agak pagi," jawab Sari yang menuju ke kamar mandi.
"mimpi buruk apa?" tanya Nanang penasaran.
"aku mimpi buruk membunuh kakak ipar ku yang begitu menjengkelkan itu, lihatlah dasar wanita tak tau malu cih..." kesal Yuni.
"sudah Yuni, cepat cuci muka, dan anda mau apa bapak juragan, kenapa ini semua perkakas u
sudah bersih malah di berantakin?"
"mau menghangatkan nasi tapi aku bingung ini airnya seberapa?" tanya juragan Wawan.
"buat nasi goreng saja, karena nasinya dingin akan sangat nikmat," jawab Sari.
dengan cekatan sari langsung memasak,bahkan dia juga membuat telur ceplok juga, dan juragan Wawan membantu memotong timun untuk lalap.
akhirnya nasi goreng pun matang dan Nanang seperti kembali flashback.
bagaimana dia dan Sari dulu bersama,saat Sari masak dia akan menganggunya dengan pelukan, atau sekedar ciuman.
tapi lihatlah sekarang meski dia bisa terlihat dan dekat, tapi sangat jauh dari jangkauannya.
__ADS_1
Yuni ingin marah saat melihat Azila yang begitu rakus mengambil jatah telur milik Sari.
"hei kamu-"
"sudah aku bisa ambil lauk yang lain,. di kulkas masih banyak, ayah mau empal gak?" tanya Sari dengan lembut.
"boleh," jawab juragan Wawan.
Sari mengambil semur yang kebetulan masih sisa karena terlalu banyak, lagi pula sudah di bagikan ke semua orang tapi tetap saja masih banyak.
setelah sarapan, sari dan juragan Wawan harus ke kantor desa untuk mengurus semua dokumen.
"apa sudah sopan ayah?"
"tentu kamu sudah sangat cantik, ayo kita sudah kesiangan, pak lurah juga sudah bertanya padaku dari tadi," kata pria itu tertawa.
"aduh ini kenapa yang mau ngurus dokumen kok malah yang di tunggu ya," jawab Sari.
"kalian mau kemana?"
"mau mengurus dokumen pengantar nikah, memang ada apa?" jawab Sari
"ah aku juga mau pamit sekalian kalau begitu, karena takut kemaleman," kata Nanang.
"hati-hati dan terima kasih atas kedatangannya, Yuni oleh-oleh untuk kakak mu," panggil Sari yang langsung ke dalam rumah.
Yuni dan Sari keluar dengan dua tas cukup besar, "ini ada sedikit kue dan beberapa buah, tolong di terima, maaf tak bisa memberi banyak hal,"
"baiklah, terima kasih," jawab Nanang yang akhirnya pamit.
Yuni pun di apeli oleh Farid, saat juragan Wawan dan Sari berangkat ke balai desa.
ternyata semua surat sudah selesai, bahkan semua petugas di kantor desa tak percaya dengan hal ini.
mereka berdua tinggal tanda tangan, dan ternyata bapak Wasis juga datang ke balai desa untuk menandatangani hal yang lain.
"calon bapak mertua, mau kemana setelah ini, bagaimana jika kita belanja bareng," ajak juragan Wawan.
"mas Wawan jangan memanggilku begitu ya, bikin geli, sudah panggil seperti biasa saja, boleh juga, kebetulan kami harus membeli semua stok toko," jawab pak Wasis.
"baiklah, lusa kami sudah bisa menikah bukan,oh ya lurah kamu jadi saksi dari pihak ku,dsn Mudin jadi saksi dari pihak istriku," kata juragan Wawan.
"wes atur juragan,atur..." jawab pak lurah yang tertawa mendengar ucapan pria itu.
akhirnya mereka pun pergi dari balai desa dan sepeda motor pak Wasis di antar oleh salah seorang pamong.
__ADS_1
mereka menuju swalayan terbesar di kota itu untuk berbelanja karena harganya miring.
mereka membawa tiga troli, dsn juragan baru kali ini tau bagaimana sibuknya mengisi barang dagangan.
tapi saat melihat sari yang begitu cekatan membuatnya sadar jika gadis itu memang wanita yang mandiri dan pekerja keras.
setelah semuanya di ambil dan penuh,mereka pun antri, juragan Wawan dan pak Wasis sudah duduk di luar untuk merokok.
"ayah cepat ambil mobil ya, itu belanjaannya sudah selesai," jawab Sari.
"siap," kata juragan Wawan.
"ya Allah gak terasa ya, belanga begini habis sampai satu setengah juta," kata Bu Menuk.
"namanya juga buat dagang Bu,sudah gak papa itu juga uang modal kok," jawab Sari.
setelah memasukkan semua barang, mereka menuju ke area pasar legi untuk membeli perhiasan dan juga kebaya.
karena semua barang sari yang dari Nanang sudah di bakar termasuk semua hantaran saat pernikahan.
setelah membeli semua keperluan, mereka memilih duduk untuk makan gado-gado terkenal disana.
juragan Wawan tak mengira menikmati waktu berbelanja seperti ini sangat menyenangkan, terlebih dengan orang yang di sukai.
akhirnya pukul empat sore mereka pun pulang, Tata dan Dewa membantu menata barang dagangan.
sedang juragan Wawan membantu Sari baik ke atas untuk membawakan belanjaan pribadi milik wanita itu.
setelah itu, ternyata juragan Wawan dapat pesan dari Yuni, "ada apa ayah?"
"ini Yuni mau berangkat kondangan bersama Farid, ke bareng, ke tempat temannya Farid,"
"terus ayah mau gimana, disini atau pulang?" tanya Sari penasaran.
"tentu disini dengan mu," kata juragan Wawan menarik tangan Sari hingga jatuh menabrak dirinya.
Keduanya saling pandang dan akhirnya mereka berdua berciuman. entahlah bagi Sari tatapan mata calon suaminya itu sangat memabukkan.
"cukup ayah... belum saatnya," lirih Sari menahan tangan juragan Wawan yang nakal.
dia tak mengira juragan Wawan bisa melakukan hal seperti itu, "aku sudah tak tahan, ingin sekali aku menerima mu dan tak akan ku lepaskan," bisiknya.
"aduh juragan jangan terlalu mesum ini di rumah ku, jika bapak memergoki mu seperti ini, dia akan marah," kata Sari.
"tapi kita akan menikah lusa, mau ya..."bujuk pria itu.
__ADS_1
"tidak boleh, jika anda mau pulang silahkan," kesal Sari.