
Japar hanya tersenyum dengan wajah sedih yang entah apa yang dia rasakan.
"kamu kenapa?" tanya juragan Wawan.
"mas kan tau, aku hampir mengendong anakku, putra kami impikan empat tahun aku menikah dan akhirnya calon anak ku dulu satang, tapi karena keegoisan seseorang dan fitnahnya aku kehilangan mereka, anggap saja sekarang aku sedang mengenangnya, dan beruntung aku memiliki Gimbul di hidupku dan juga istriku yang masyaallah begitu baik," kata Japar yang menghapus air matanya.
"Kisah kita sama, jadi tak usah sedih seperti itu," kata juragan Wawan.
"sudah mas, setelah ini mau ikut aku ambil rambutan gak, lumayan nih, kebun milik istriku sedang berbuah lebat, dan tadi aku sudah izin dan boleh kalau ada yang mau ambil loh," tawar Japar.
"boleh dong, oh ya mas nanti rambutannya saya antar ke bank ya," kata Japar sebagai ucapan terima kasih.
mereka memilih berjalan kaki karena kebun itu sangat dekat, mereka memetik begitu banyak rambutan dan nanti akan membaginya.
saat sedang memisahkan akan di bagikan ke mana saja. tak di duga pria yang tadi tak terima jika kebunnya di ukur ulang marah.
dia datang ke tempat itu dengan membawa golok untuk membunuh juragan Wawan.
tapi saat pria itu datang Japar langsung mengambil kayu pohon rambutan yang cukup besar.
"arep Lapo!" bentaknya.
"aku mau membunuh pria itu, karena dia yang mengambil tanah ku, aku tak terima, aku akan membunuhnya!!" teriak pria itu sambil menunjukkan goloknya.
"maju kalau kau bisa melukainya, aku akan memastikan kamu yang terkapar terlebih dahulu!" marah Japar menantang pria itu.
"tenang Japar, hei warga desa, siapa anak pria ini, jika kalian anak pria ini tak datang, ku pastikan ayah kalian ini akan ku masukkan kedalam penjara dengan laporan pengancaman dan penyerebototan tanah."
tiba-tiba datang dua orang pria yang langsung menyeret ayahnya itu, "lepaskan aku akan membunuhnya."
"sampean Ojo gawe perkoro, wes tuwo!!" marah kedua anak pria itu.
juragan Wawan pun hanya bisa memaklumi.ada orang seperti itu, dia sudah cukup bertahan dengan pria tua itu.
"mas jika ayah kalian berani melakukan hal seperti ini lagi, lihat saja aku akan benar-benar membuat perhitungan dengan kalian," kata juragan Wawan.
"baik juragan,maafkan kami," kata kedua orang itu.
__ADS_1
Japar pun melempar balok kayu itu dan langsung bergegas pergi dan membawa rambutannya.
dia saat ini sedang sangat marah besar, dan juragan Wawan pun membiarkan pria itu agar sedikit tenang saja
mereka pun berpisah setelah itu, juragan Wawan menuju ke tempat gudang jagung miliknya.
tapi saat dia melewati sebuah panti asuhan, dia memilih berbelok ke tempat itu untuk memberikan sumbangan.
beruntung tadi dia sempat mengambil uang sebelumnya, dia pun berjabat tangan dengan ketua yayasan dan pengurus tempat itu.
dia pun memberikan uang yang tadi dia ambil, "maaf apa ada nomor rekening bank atas nama yayasan, biar saya transfer saja untuk donasi yang lain," kata juragan Wawan.
"ada tuan, ini nomor rekeningnya," jawab pengurus itu.
benar saja dia mentransfer uang lima puluh juta pada panti asuhan itu,"maaf pak dengan siapa?"
"hamba Allah," jawab juragan Wawan yang meniatkan bantuan itu untuk putranya dan Adelia
dia mengurungkan niatnya untuk ketempat gudang tapi malah memilih pulang karena sudah merindukan putranya itu.
mobil juragan Wawan sampai di rumah, dan itu membuat Sari kaget, karena jarang suaminya pulang jam segini
juragan Wawan langsung memeluk tubuh istrinya itu dengan erat, bahkan pria itu tak mengatakan apapun
Sari pun membalas dan menepuk punggung Suaminya pelan, "ada apa mas,"
"tidak ada apa-apa, aku hanya kangen dengan mu dan dimana Satria?" tanya juragan Wawan.
"ah Satria sedang tidur di box bayinya,"jawab Sari.
juragan Wawan mencubit kaki dan tangannya, dari mengambil handuk yang sedang di jemur dan memberikannya pada suaminya untuk mengeringkan bekas air.
juragan Wawan mencium pipi putranya itu karena dia sangat menyayangi putranya itu dan rasanya tak ingin jauh.
dia tak ingin mengulangi kesalahan yang pernah dia lakukan, sedang di rumah orang tua Sari.
semua persiapan pernikahan sudah hampir siap, tapi sayangnya Sari memang tak bisa bergabung karena kondisinya.
__ADS_1
tapi orang tua Sari tak masalah akan hal itu, sedang di tempat lain Nanang sedang bersama Yuni.
ya pria itu tadi mengunjungi adiknya itu di rumah lama mereka, Nanang sedikit kaget melihat kondisi Yuni yang cukup menghawatirkan karena wanita seperti wanita tak terurus.
"dek aku tau kamu sedih, tapi tolong jangan seperti ini, bagaimana pun kamu harus bangkit demi suamiku, kamu mau suamimu di ambil orang," kesal Nanang.
"kenapa mas Nanang bilang seperti itu, kenapa mendoakan keburukan untuk adik mu ini?" tanya Yuni kesal.
"bukan seperti itu, aku hanya memberitahu, lihat dirimu, kapan kamu ke salon merawat diri, ingat ayah memberikan uang dan bagian harta dan tabungan, gunakan itu untuk usaha sendiri dan kamu harus mempercantik diri jika tidak aku yakin jika suamimu itu bisa lari ke wanita lain," kata Nanang.
"kalau begitu bantu aku, karena beberapa usaha sudah di tangan mas Farid, seperti dua ruko yang ada di kota," kata Yuni.
"tentu, karena sekarang kamu harus jadi wanita pintar, bukan istri bodoh lagi dan hanya mengandalkan cinta,jamu pikir aku tak tau jika mertua mu mulai menunjukkan siapa dirinya, dan itulah kenapa ayah tak ingin berurusan dengan kita, karena kita harus belajar mandiri," kaya Nanang.
"bukannya karena kita bukan anaknya," tanya Sari.
"kamu pikir kasih sayang ayah sedangkan itu, jika iya tak mungkin dia merelakan membagi semua miliknya untuk kita, dia hanya tak ingin kita saling berebut, jadi jangan memikirkan hal lain, sekarang kamu harus bangkit, dan aku tau caranya," kata Nanang.
dia mengerahkan preman bayaran untuk membuat kekacauan pada dua ruko yang kini di kuasai eh Farid.
mendengar aduan dari penyewa ruko, Farid murka, karena uang sewa itu sudah habis olehnya.
Farid datang untuk melihat apa yang terjadi, dia kaget melihat ada sosok Nanang disana.
"apa-apaan ini mas?" marah pria itu.
"apa-apaan kamu bilang, aku sekarang pemilik dari dua ruko ini setelah Yuni menjualnya padaku, dan aku memiliki semua suratnya secara sah, jadi aku berhak mengusir mereka bukan," kata Nanang santai.
"apa-apaan ini mas, kami sudah menyewa untuk tiga tahun kedepan tapi kenapa terjadi seperti ini," kata penyewa yang marah
"lebih baik kembalikan uang mereka dan aku minta besok semua sudah bersih dan jika tidak kamu yang akan tau akibatnya," kata Nanang mengancam Farid.
sedang pria itu merasa kesal, karena Nanang begitu arogan, "awas kamu pria sialan," geramnya marah.
Farid pun buru-buru pulang dan mencari Yuni, tapi rumah sepi dan Yuni juga tak ada di rumah.
Farid ingat jika istrinya itu menyimpan semua perhiasan dan uang di brangkas jadi dia berusaha membobolnya.
__ADS_1
tapi saat kotak itu terbuka, dia kaget karena di dalamnya sudah tak ada apapun yang tersisa, "ah sialan!!" teriak Farid frustasi.
bahkan semua surat berharga juga tak ada, dia mencoba menelpon Yuni tapi wanita itu tak mengangkatnya.