aku istrimu, bukan pembantumu

aku istrimu, bukan pembantumu
maaf untuk Yuni


__ADS_3

tanpa terasa kehamilan Sari sudah menginjak tujuh bulan dan dia sekarang sedang bingung.


"ada apa sayang ku? kenapa kamu seperti orang bingung begitu?" tanya juragan Wawan.


"aku sedang bingung, acara tingkepan mau di buat bagaimana, berkat itu loh mas, mau kering atau masak teles," tanya Sari.


"buat kering saja sayang, biar kamu tak capek, dan tetap buat rujak seperti biasa," kata juragan Wawan.


"baiklah nanti aku akan bilang pada ibu ya,"


"baiklah, apapun terserah dirimu sayang," kata juragan Wawan yang memasrahkan semuanya pada sari.


karena dia juga tak mengerti hal seperti itu, dan doa hanya bagian keuangan saja.


"baiklah kalau begitu mas tinggal berangkat dulu ya, karena ada pengiriman gabah ke Sidoarjo," kata juragan Wawan.


"tidak boleh, aku tak mau mas pergi, tetaplah di rumah, jika mas pergi aku akan marah padamu, jadi jangan tinggalkan aku," kata Sari memohon.


"hei kamu kenapa sayang, aku hanya sebentar," kata juragan Wawan membujuk istrinya.


"tidak boleh, aku ingin mas di rumah menemaniku,dan mengantarkan aku ke tempat ibu,kalau gak mau gak usah menyentuhku," marah Sari yang langsung berdiri dan bergegas pergi.


juragan Wawan tak mengira jika istrinya akab bisa seperti ini, karena dari tak pernah mudah marah seperti ini.


"iya sayang, iya aku akan mendengarkan mu dan aku akan mengantar mu ke rumah orang tua kita, mau naik motor atau mobil?" tanya juragan Wawan.


"jalan kaki saja biar sehat," jawab Sari.


"baiklah nyonya, ayo kita berangkat ke rumah mertua," kata juragan Wawan.


sedang di tempat lain, Yuni sedang bingung, karena kandungannya sudah sembilan bulan.


pasalnya dia sedang bingung karena bayinya belum menunjukkan untuk siap lahir, dan posisinya juga masih nyungsang.


"sepertinya kita harus melakukan dodolan nduk, jika tidak kamu tak akan bisa melahirkan," kata ibu Farid.


"tapi Bu, jika seperti itu ayah akan tau kenapa kami harus menikah cepat, aku takut karena hubungan ku dengan ayah saja belum membaik sampai saat ini," kata Yuni.


"kalau begitu terserah padamu, jika kamu ingin operasi sesar ya terserah kamu, tapi jika bisa normal kenapa harus operasi, nanti biar ibu dan suamimu yang akan bantu menjelaskan," bujuk ibu Farid.


"baik Bu," jawab Yuni.

__ADS_1


sedang di tempat bu Menuk, semua kebutuhan tingkep sudah siap karena itu ulah dari juragan Wawan.


"loh buk, ini sembako buat apa kok banyak sekali?" tanya Sari.


"loh itu untuk acara mu nduk, memang suamimu tak mengatakan apapun?"


"tidak, oh pantas kok bilangnya keringan saja, ternyata sekarang sudah siap ya," terang Sari.


juragan pun langsung keluar sebelum dapat ceramah cinta dari istrinya.


"mbak Sari itu perutnya kok besar banget sih?" tanya ibu Nanik yang membantu mengemas semua sembako.


"saya juga heran Bu, sepertinya ini karena saya kebanyakan makan deh," kata Sari tertawa.


hari ini juragan Wawan benar-benar memanjakan istrinya dengan menemani, bahkan dia menyuruh orang lain untuk setor dan pembayaran di lakukan secara transfer.


"sayang pulang yuk, aku ngantuk deh pingin di bobok di temenin," bujuk juragan Wawan yang tak ingin istrinya itu lelah.


"baiklah sayang, ayo kita pulang," ajak Sari.


mereka berdua pun berjalan menuju ke rumah yang memang berjarak tak jauh tapi hanya berbeda RT.


saat akan masuk kedalam rumah mereka kaget ada mobil berhenti, tapi wajah juragan Wawan langsung berubah menjadi merah padam melihat siapa yang turun.


"waalaikum salam Bu, dari rumah ibu saya sekalian olahraga, pak Joko tolong buka gerbangnya, mas ini ada besannya kok diam saja sih, kebiasaan deh ngambeknya," kata Sari agar besannya itu tak berpikiran yang buruk melihat reaksi suaminya.


"mari masuk," ajak Sari dengan lembut.


"terima kasih ya,"


mereka semua masuk, ibu Farid berjalan dengan sari, juragan Wawan nampak tak suka.


tapi Sari menunjukkan wajah memohon pada suaminya itu, akhirnya dia pun menurut.


tapi keduanya kaget saat Yuni turun di bantu oleh Farid, pasalnya perut Yuni sudah sangat besar.


"Yuni kamu hamil?" kaget Sari.


"maafkan aku..." lirih Yuni.


"kita masuk kedalam rumah, dan kalian harus menjelaskan, dan jangan membuatku marah dengan kebohongan lagi," kata juragan Wawan yang makin marah setelah melihatnya.

__ADS_1


"aduh mas..." kata Sari yang memegang perutnya.


"kamu kenapa dek," kata juragan Wawan yang mendekat ke arah Sari.


"tolong tenang mas, aku mohon jangan marah seperti ini," bisik Sari.


"baiklah," bisik juragan Wawan.


mereka pun masuk kedalam rumah, Yuni melihat bagaimana megah rumah yang di berikan oleh juragan Wawan untuk Sari.


tapi dia kesini tak boleh memikirkan hal lain demi bayinya, pasalnya hari perkiraan lahir sudah dekat tapi Yuni belum menunjukkan tanda-tanda agar bisa melahirkan secara normal.


"baiklah, sekarang aku ingin dengar cerita kalian" kata juragan Wawan terdengar dingin.


"aduh mas, tenang dulu ya, mbak Jum tolong ambilkan air dan makanan untuk tamu ya," mohon Sari.


"baik buk," jawab mbak Jum dari belakang.


"jadi sebenarnya kamu melakukan kesalahan besar ayah mertua, aku tak bisa menahan diri, dan itulah kenapa kami buru-buru menikah, karena Yuni sudah hamil duluan,"


"sekarang sudah berapa bulan?" tanya juragan Wawan.


"sudah sembilan bulan ayah, dan Minggu-minggu ini hpl, dan sebenarnya aku dan mas Farid datang untuk minta maaf, dan juga ingin melakukan dodolan dengan mama," kata Yuni.


"lakukan dek," kata juragan Wawan.


"terima kasih," kata Yuni dengan senang hati.


"ini bukan untuk ku, tapi demi bayi kalian, doa tak salah apa-apa, dan ayah kecewa pada kalian, bisa-bisanya kalian mengulangi kesalahan buruk itu, tapi nasi sudah jadi bubur, jadi sudahlah," kata juragan Wawan.


"sudah dong mas, kita mau jadi kakek nenek loh, aduh kok geli ya... dan bayi kita akan jadi om kecil loh, jadi anggap saja itu kecelakaan dan sekarang kita harus bahagia ya dan kembali rukun kan enak," kata Sari membujuk suaminya.


"terima kasih ya ma," kata Yuni.


"hei... kita itu sudah jadi keluarga,dan ayah mu ini gengsi tau, padahal biasanya diam-diam melihat foto kita bertiga, saat merindukan mu," kata sari.


"tidak tuh," kata juragan Wawan


"yakin, ya sudah kamu bisa pulang setelah semuanya ya Yuni," kata Sari ingin melihat reaksi suaminya.


"kenapa begitu, ikut makan siang di sini sekalian saja, kasihan kalau sampai lapar di jalan, aku mau kebelakang sebentar," kata juragan Wawan.

__ADS_1


Sari pun tersenyum, pasalnya dia melihat senyum suaminya itu, Yuni dan suaminya pun senang pasalnya juragan Wawan sudah bisa memaafkan semua ini.


__ADS_2