
sudah empat hari dari semenjak Sari melahirkan,dia pun di izinkan pulang tapi bayinya harus menunggu karena belum sepenuhnya siap.
jadi mereka setiap pagi dan sore harus mengantarkan ASI ke rumah sakit untuk putra mereka.
jadi pilihan terakhir adalah Sari dan juragan Wawan memilih kos di salah satu tempat yang dekat di rumah sakit.
beru Ting dengan bantuan dari teman mereka pun mendapatkan rumah yang cukup bagus.
"sudah tau mau di kasih nama siapa mas?"
"bagaimana kalau Bimasena Satriawan?" tanya Sari yang teringat nama itu.
"apa tak keberatan itu nama buat bayi kita?" tanya juragan Wawan.
"tentu saja tidak, Satriawan adalah nama mas jadi itu bagus, kalau begitu tambah nama Muhammad didepannya sebagai penyeimbang," kata sari lagi.
"baiklah,kalau begitu panggilannya mau Bima, seba, Satria atau awan," tanya juragan Wawan lagi.
"karena panggilan mas Wawan, putra kita di panggil Satria," kata Sari dengan senang.
"panggilan yang bagus jika kamu usul awan, kan gak lucu jika sekali panggil kami boleh bersamaan," kata juragan Wawan.
Sari mengangguk senang, dan tak butuh waktu lama pemberian ASI pun selesai, rasanya Sari tak ingin melepaskan putranya itu.
suster meyakinkan wanita itu jika kondisi bayi Satria terus membaik, dia akan segera bisa di pulangkan.
jadi mereka berdua agar bisa pulang segera dengan bayi mereka, semua warga pun khawatir karena melihat juragan Wawan yang tak kunjung pulang meski sudah semingguan sari melahirkan.
pak RT mendatangi rumah juragan Wawan yang kini hanya di jaga oleh orang kepercayaannya itu.
"assalamualaikum pak Joko," sapa pak RT.
"waalaikum salam pak, ada apa kok tumben main kesini?" tanya pak Joko dengan ramah.
"iya mas, saya ingin bertanya pada sampean, ini kenapa juragan Wawan dan mbak Sari kok belum pulang ya, padahal sudah dari seminggu melahirkannya?" tanya pria itu sambil clingak-clinguk.
"owalah itu toh yang mau di tanyakan, iya mereka belum pulang karena ibu juragan harus terus dekat dengan bayinya, kan bapak tau dan dengar jika ibu Juragan melahirkan sebelum waktunya, jadi mereka masih disana untuk kesehatan dedek bayinya," jawab pak Joko.
__ADS_1
"ya Allah mas, padahal ini anak yang sangat di nantikan ya,ya semoga lekas baik dan bisa segera pulang bersama orang tuanya," kata pak RT.
"amiin pak," jawab pak Joko.
selama mereka pergi rumah itu tak pernah kosong, karena mbak Tunah dan mbak Jum bergantian tidur di rumah itu saat suaminya jaga malam.
itupun atas persetujuan juragan Wawan, dan terlebih lagi ada bonus yang menanti mereka nantinya.
sedang untuk usaha semuanya di percayakan pada pak Hadi dan pak Umar, karena keduanya sudah ikut juragan Wawan dari sebelum pria itu sukses seperti sekarang ini.
mereka berdua nenghendel hampir seluruh usaha milik juragan Wawan. bisa saja mereka menilep uang yang di terima.
tapi mereka para orang terpercaya dan tak ingin menghianati pria yang sudah mempercayakan semuanya pada mereka.
saat juragan wawan dan Sari ingin pergi, tak sengaja mereka melihat Yuni yang berlari mengendong putranya di ikuti Farid di belakangnya.
"kita tanya dulu mas, ada apa dengan mereka?" tahan Sari.
"tidak usah sayang, lebih baik jangan ikut campur, karena mungkin kedatangan kita tak akan di sukai," kata juragan Wawan meyakinkan istrinya itu.
"tapi mas, usia bayi Yuni mungkin tak berbeda jauh dengan putra kita," kata Sari memohon.
"baiklah mas, jika itu katamu," terang sari yang tak ingin menentang suaminya.
Yuni sangat ketakutan, pasalnya bayinya yang baru lahir itu panas tinggi dan kejang.
dokter pun mengatakan jika putra Yuni terkena infeksi saluran pernafasan.
dan beruntung bayi itu segera di bawa ke rumah sakit hingga ke dapatkan pertolongan yang cepat.
sesampainya di rumah sementara, kedua orang itu sudah sibuk sendiri, karena juragan Wawan langsung membuatkan jamu untuk istrinya itu.
"ayo diminum," katanya menyodorkan gelas kecil itu.
"terima kasih mas, tapi aku masih kepikiran Yuni mas," kata sari.
"sudahlah sayang, kenapa kamu repot memikirkan Yuni yang sudah bahagia dengan keluarganya, kamu tak boleh stress, dan kita harus fokus untuk Satria, setidaknya dia bisa pulang dia hari lagi saat bobotnya sudah nambah besar lagi," kata juragan Wawan.
__ADS_1
"iya mas benar, sekarang kita harus fokus pada Satria,"
"itu baru benar,sekarang minum jamunya,sebentar lagi ada yang datang bawa makanan katanya, tapi entah masih dari mana," kata juragan Wawan tertawa.
tenyata itu rombongan dari Dian, Zahra, dan Dewi, tak lupa si gembul juga di ajak.
mereka datang untuk memberikan dukungan pada Sari untuk lebih kuat dan tegar dalam menghadapi semua ini.
bayi Yuni dan Farid juga sekarang berada di ruang ICU untuk mendapatkan perawatan yang terbaik.
penyembuhan sedikit lamban karena putra dari Yuni tidak minum ASI karena ASI Yuni tidak bisa keluar.
jadi terpaksa bayi mungil itu harus mendapatkan nutrisi dari susu formula
Farid pun menenangkan istrinya itu yang dari tadi terus menangis, "sudah Yuni, kamu tak boleh seperti ini terus, karena jika kamu juga sakit kasihan El," kata Farid.
"ini semua terjadi karena para tamu itu yang tidak mendengarkan aku, aku sudah melarang mereka mencium putra ku, tapi mereka malah tak menggubrisnya, dan El juga mungkin tak bisa terkena bedak bayi yang selalu di pakai kan begitu banyak," kata Yuni yang makin histeris.
"tenang sayang, kita harus berdoa semoga El baik-baik saja, karena putra kita orang kuat," kata Farid.
esok paginya, Sari sudah siap ke rumah sakit untuk menyusui putranya, tapi kali ini bukan juragan Wawan yang mengantarnya.
melainkan Bu Menuk karena juragan Wawan ada pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan, jadi hari ini sedikit berbeda.
"semuanya sudah lengkap, sekarang ayo kita berangkat," kata Bu Menuk yang semangat karena ingin melihat cucu pertamanya.
"ayo Bu, aku jamin pasti ibu akan gemas, tapi sayangnya muka bayi Satria plek sama ayahnya," kata Sari.
"Yo gak papa loh nduk, pasti ganteng kalau gede, kamu gak ingat jika suamimu itu selalu jadi rebutan, pasti nanti putra mu juga," kata Bu Menuk
"aduh ibu kejauhan, aku malah gak rela kalau itu sampai terjadi," kata Sari.
saat mereka sampai di rumah sakit, terlihat keluarga Farid sedang berkunjung.
Sari langsung menuju ke ruangan ICU karena khawatir putranya kelaparan, dan nanti akan menyapa saat selesai.
Sari dan Bu Menuk langsung senang begitu bayi Satria di berikan oleh sister, "aduh pipi putra ibu sudah mulai gembul ya,"
__ADS_1
"ibu, nanti dokter ingin berbicara dengan ibu, sepertinya akan membahas kepulangan bayi Satria," kata suster itu ramah.
"Alhamdulillah... akhirnya tole ne Mbah uti bisa pulang." kata Bu Menuk senang.