aku istrimu, bukan pembantumu

aku istrimu, bukan pembantumu
melayat


__ADS_3

juragan Wawan mendapatkan kabar saat di rumah masih banyak tamu yang ingin melihat putranya.


"baiklah aku akan segera kesana," kata juragan Wawan yang juga tak mengira akan mendengar kabar buruk itu.


Sari sadar ada yang aneh dengan raut wajah Suaminya, "ada apa mas?"


"sayang, putra Yuni meninggal dunia, dan aku akan melayat, bagaimana pun aku tak bisa mengabaikan bayi yang tak berdosa itu," kata juragan Wawan.


"aku ikut mas," kata Japar.


"lah terus aku disini dulu gitu, mas kita cuma satu motor loh," kata Dian yang tak mau jika suaminya itu bertemu Yuni.


"tenang sayang, kamu bisa pulang dulu jika kelamaan nanti, aku bisa naik ojek atau minta di anterin sama mas wawan," jawab Japar meyakinkan istrinya.


tapi Dian masih belum rela, seakan berat melepas suaminya itu, Juragan Wawan tau apa ketakutan Dian.


"tebang Dian, selama ada aku tak mungkin dia melakukan hal aneh, tenang saja," jawab juragan Wawan.


"baiklah mas," jawab Dian pasrah.


kedua itu pun pergi dengan mengunakan sepeda motor, terlihat rumah lama juragan Wawan sudah penuh dengan para pelayat.


keduanya langsung di sambut oleh ketua RT dan ketua RW, Japar pun melihat sosok Fendi yang duduk bersama di kejauhan.


juragan menepuk bahu Japar, "kamu kok bengong, ayo masuk," ajak pria itu.


baru juga sampai di teras rumah,suara tangisan dari Yuni begitu menyayat hati.


Keduanya pun masuk kedalam dan mengucapkan belasungkawa atas kepergian dari bayi mungil itu.


Farid nampak tegar, begitupun ibu pria itu, juragan Wawan sempat melihat wajah bayi mungil itu.


ternyata bayi itu lebih mirip dengan Yuni di banding Farid, "mas lebih baik bantu menenangkan Yuni, kasihan dia sangat terpukul," bisik Japar.

__ADS_1


juragan Wawan pun berdiri dan menghampiri wanita itu yang masih saja menangis.


"dia lebih di sayang Allah, dan bisa menjadi tabungan mu di akhirat nanti," kata juragan Wawan menepuk kepala Yuni.


Yuni yang melihat sosok juragan Wawan langsung memeluk tubuh pria itu.


"tapi kenapa harus anak Yuni, kenapa... aku baru mengendongnya beberapa hari dan sekarang dia pergi..." tangis wanita itu.


"ini semua sudah suratan takdir, dan setelah ini kalian bisa mengambil pelajaran berharga, jika mencium atau menyentuh bayi setelah dari luar itu membahayakan," kata juragan Wawan.


Nanang juga datang bersama Azila, Japar tersenyum melihat pria itu, "lama tak bertemu Nanang, jaga dirimu, jika tidak kita bisa bertemu tapi dengan kamu yang terbujur di kafani," bisik Japar menepuk bahu pria itu.


Nanang pun tak menggubrisnya, dan memilih untuk langsung menghampiri Yuni, otomatis juragan Wawan langsung menyingkir begitu Nanang datang.


pria itu memilih di luar bersama warga desa, dan mengambil rokok milik Japar dan mulai menikmati setiap hisapan benda itu.


"Gilak, ini rokok berat ya..." gumamnya.


"gak pernah nyoba ya," ejek Japar


tak lama semua sudah siap, dan kini pak Mudin yang memimpin untuk memakamkan jenazah bayi mungil itu.


semua orang berjalan menuju ke makam umum desa, juragan wawan dan Japar ikut tapi mereka hanya mengawasi di kejauhan.


pemakaman berjalan sangat cepat, dan setelah itu tak lupa keduanya akan pergi.


Japar berpamitan pada Farid serta keluarga yang lain, sedang Nanang kaget saat berjabat tangan dengan pria itu.


."kenapa apa aku melakukan kesalahan? kenapa kamu terus membuat masalah untukku," kata Nanang dengan suara lirih.


pria itu hanya tertawa dan langsung mencengkram bahu Nanang dengan keras.


juragan Wawan tau ada apa di antara kedua pria itu,jadi dia membiarkan saja toh Japar tak sampai membuat ulah.

__ADS_1


"dasar pria bodoh,aku tak bisa berkata-kata melihat mu bersikap polis atau bodoh sih, sudahlah..."


mereka pun pergi setelah Semuanya usai, para warga sempat menahan juragan Wawan dan Japar untuk mengajak mereka ngopi dulu.


dan keduanya juga tak keberatan, lagi pula Sari juga ada temannya.


di rumah Sari, Dian sedang bertukar pesan dengan mertuanya yang memang sedang membawa putranya itu jalan-jalan.


"sebenarnya aku ingin ke tempat sari bersama mbak Zahra, tapi tidak bisa karena putranya sedang sakit, tapi tak ku kira usia putra Yuni sesingkat ini," kata Dian yang membuka pembicaraan.


"sebenarnya saat aku di rumah sakit,aku ingin menegurnya, tapi aku terlalu fokus dengan putraku Hafi tak sempat,tapi dari yang aku dengar bayi itu mengalami infeksi saluran pernafasan karna virus, dan ternyata ada suster yang bilang bayi yang baru lahir sebaiknya tidak di cium oleh sembarang orang, memang bayi baru lahir itu mengemaskan, tapi daya tahan tubuhnya sangat rentan," kata Sari.


"itu benar, bahkan dulu aku juga melakukan hal yang sama, dan siapapun yang ingin menyentuh putra ku harus bersih, terlebih mas Japar pernah kehilangan juga, jadi dia sangat protektif," kata Dian.


"iya Dian, kamu benar dan lihatlah sekarang putra ku bisa berada di dalam tempat khusus seperti ini karena ayahnya yang memaksa beli tempat tidur ini agar tak ada yang bisa mengendong Satria," keduanya terkekeh.


pasalnya sekarang bayi itu berada di dalam kasur yang ada tudung pelindung.


"oh ya sudah dua jam, bukankah waktunya menyusui?"


"tunggu sebentar lagi, oh ya aku mau tanya bagaimana bisa putra mu semengemaskan itu, bahkan pipinya yang bulat ingin sekali aku menggigitnya,"


"ya dia cuma minum asi, dan buah karena jika di suapi nasi pasti akan di sembur, entahlah dia persis ayahnya yang sulit makan nasi, sukanya ngemil,jadi harus pintar-pintar ibunya deh,"


"ha-ha-ha, memang resep biar ASI-nya bagus itu gimana?" tanya Sari yang benar-benar tak memiliki pengalaman sedikitpun.


"makan yang seimbang, tak perlu banyak tapi sering, istirahat yang cukup, dan jangan stres itu penting, dan kamu bisa bergiliran dengan suami loh, biar kalian bisa merasakan betapa reportnya mengurus bayi,"


"baiklah aku akan mengikuti saran mu, oh ya kamu pakai KB apa?"


"untuk sekarang aku memakai IUD, ya meski sedikit takut kebobolan juga, tapi semoga aman, kalau kamu mau pakai yang mana?" kata Dian penasarannya.


"setelah operasi langsung di pasang IUD, kata dokter akan lebih baik di tunda dua sampai tiga tahun dulu, tapi mas Wawan merasa cukup dengan satria, karena sepertinya dia yang trauma melihatku yang melahirkan kemarin," terang Sari.

__ADS_1


"ya semua orang pasti punya ketakutannya sendiri, dan suamiku juga mengatakan hal yang sama, padahal banyak anak enak loh, suasana rumah jadi sangat ramai kan,"


"kamu benar, mbok tolong ambilkan lumpia isi ayam itu, kasihan ini nyonya besar gak makan apapun," kata Sari


__ADS_2