
Yuni tertawa melihat telponnya yang terus berdering, bahkan pegawai salon pun hanya geleng-geleng melihatnya.
"mbak itu ponselnya bunyi loh," kata pekerja salon itu.
"biarkan mbak, paling suami saya sedang mencari saya, percuma suami toxic gitu," jawab Yuni yang sedang melakukan lulur.
"owalah mbak... gitu yah, kalau begitu kenapa kok masih mau menunggu sih, mending tinggalkan deh," kata wanita itu
"memang, aku sedang menunggu waktu yang tepat," jawab Yuni santai.
pegawai salon pun hanya mengangguk saja, setelah Lilur kini ganti facial, hari itu Yuni benar-benar memanjakan dirinya.
setelah selesai pukul tiga sore dia baru pulang, ternyata Nanang menjemputnya.
"halo mas," sapa Yuni yang tersenyum cerah.
"bagaimana sudah bahagia sayang," tanya Nanang
"tentu mas, tubuhku rasanya segar," kata Yuni dengan senang hati.
Nanang tersenyum dan memeluk tubuh Yuni dengan erat, pasalnya dia tak ingin adiknya itu sengsara.
"baiklah sekarang ayo kita pulang," kata Nanang membukakan pintu mobilnya
mereka pun akhirnya menuju ke rumah Yuni, terlihat Farid sudah menunggu dengan wajah marah.
tapi saat melihat Nanang yang turun pria itu seakan ciut, karena Yuni kini sudah berlindung di balik badan Nanang.
"mau apa kamu?" tantang Nanang.
"kenapa kamu ikut campur, ini rumah tangga ku, kami itu orang asing," bentak Farid.
"hei yang orang asing itu kamu, aku tetap kakak kandungnya meski beda ayah, aku tumbuh bersama jadi jaga bicaramu," kata Nanang menantang Farid.
mendengar itu Farid merasa kesal, tapi dia tak bisa melakukan apapun.
sedang Nanang menertawakan adik iparnya, dia tak mengira Farid hanya berani pada Yuni, dan sekali dia membentak pria itu pasti akan takut.
"Yuni mas pulang dulu, jika dia melakukan sesuatu padamu, langsung hubungi mas, dan jangan pernah takut untuk mengatakan semuanya pada mas," kata Nanang.
"iya mas, dan terima kasih sudah membeli dua tempat itu yang dulu di miliki oleh mantan istri ayah," kata Yuni tang makin membuat yakin jika dia ruko itu sudah di jual
__ADS_1
Nanang pun pergi, Farid langsung menarik istrinya itu masuk kedalam rumah, "mau apa?"
"kamu itu kenapa menjual ruko itu, padahal ruko itu sudah ku sewakan, kamu ini kenapa tidak membahas Semuanya dengan ku dulu," marah Farid.
"hei sayang kamu kenapa marah, itu ruko pemberian ayah ku, jadi terserah aku mau menjualnya atau bagaimana, kenapa kamu seheboh itu," kata Yuni dengan menantang suaminya itu.
sedang Farid merasa jika Yuni mulai memberontak, "baiklah itu milikmu, tapi kami dari mana kenapa jam segini baru pulang, apa kamu tak melihatku sebagai suamimu hah," marah Farid.
"hei apa maksudmu, aku sedang merawat diriku, tadi ibu datang dan bilang kamu tak tahan di rumah karena istrimu terlihat tua dan Genuk setelah melahirkan, jadi aku mulai senam untuk membentuk tubuh ku, dan juga melakukan perawatan kecantikan untuk mempercantik tampilan ku, memang tak boleh ya," kata Yuni tersenyum.
"itu membuang uang," marah Farid.
"hei siapa yang membuang uang, kamu atau aku, apa kamu kira aku tak tau jika kamu menikmati waktu bersama teman mu dalam judi, jadi sekarang tanggung sendiri semua hutang mu," marah Yuni yang langsung pergi.
Farid tak mengira jika Yuni sudah tau Semuanya, ini terjadi karena dia yang iseng malah berujung petaka.
Yuni pun melempar tubuhnya ke atas ranjang, dia ingin sekali tertawa karena sekarang dia bisa bersikap pembangkang, pada pria dan orang yang tak menghargainya.
"aku sekarang harus bahagia, aku punya uang dan tak peduli dengan mu," kata Yuni tertawa dengan senang
sedang Farid menuju ke rumah orang tuanya, karena dia harus membayar kembali uang sewa itu.
sedang di rumah Sari, juragan Wawan sedang bermain dengan batu Satria.
pria itu nampak begitu senang melihat bayi itu yang tersenyum saat dia mengajaknya bercanda.
"aduh ayah, jangan cuma fokus pada anak dong, ini mamanya
juga cemburu loh," Kate Sari duduk di belakang suaminya sambil makan
"bebaskan, kalau mamanya itu jadwalnya malam," jawab juragan Wawan memandang istrinya itu dengan tatapan penuh maksud.
"hentikan tatapan itu membuat ku ngeri, ayo ayah mandi dulu,adik juga mau mandi, dan setelah mandi giliran ayah menjaga karena mamanya mau mandi," kata sari.
"siap mama," jawab juragan Wawan mencium pipi Putranya gemas.
setelah sebulan di rumah, bayi Satria kini tumbuh makin gemuk, karena ASI tak pernah putus atau telat.
bahkan stok susu di freezer sangat banyak karena ASI sari sangat lancar keluarnya.
Sari mempercayakan memandikan bayinya pada mbak Tunah yang memang terkenal sangat telaten saat memandikan bayi.
__ADS_1
setelah selesai, kini giliran Sari yang mandi sedang anaknya di pegang ayahnya dan sedang minum ASI dari dot.
tak butuh waktu lama sari sudah selesai mandi dan memastikan jika luka bekas operasinya aman.
dan besok dia harus membawa Putranya untuk melakukan imunisasi di salah satu bidan desa.
Sari juga belum bisa membantu di rumah keluarganya yang akan menjalankan pernikahan dari adiknya.
tapi mereka tentu saja tak angkat tangan karena juragan Wawan menyumbang tenda dan juga pelaminan.
dan mungkin pernikahan Tata akan jadi salah satu pernikahan termewah di kampung mereka itu.
"apa dia rewel ayah?" tanya Sari yang baru selesai mandi dan terlihat sangat segar dan wajahnya terlihat cantik dengan polesan make up tipis.
dia hanya tertawa saja, karena juragan Wawan yang terus mencuri cium darinya.
"hentikan ini di teras rumah, malu itu di lihat orang," kata sari menepuk pelan bahu suaminya
di rumah Fendi, pria itu kini sedang mengamuk karena ibunya yang memilih menikahkan dirinya dengan Dewi secara paksa.
karena tak terima Fendi pun memilih kabur dan meninggalkan rumah, Bu Sumi yang mengetahui putranya itu pergi pun tak mengerti lagi harus bagaimana.
karena kesalahannya kini putranya sangat berbeda dan begitu emosional, dan dia tak bisa melakukan apapun lagi.
malam itu semua orang sedang mengikuti acara kenduri sebelum besok Tata akan menikah.
setelah acara kenduri selesai, juragan Wawan sedang berbincang dengan para pria.
ya malam itu Sari tetap absen karena tak baik membawa bayi mungil mereka ke tempat seperti itu yang akan sangat berisik, dan banyak asap rokok yang mungkin bisa membahayakan bayi mungil itu.
"aduh-aduh lihatlah putri pertama mu Bu, dia sekarang sombong sejak menikah, masak adiknya mau menikah dia malah tak datang sama sekali," kata Bu Lilik.
"bukan begitu Bu, semua orang juga tau jika dia baru saja melahirkan, jadi aku dan bapaknya melarang dari untuk datang dari pada nanti ada sesuatu pada bayinya, meskipun begitu semua yang menyiapkan Semuanya tetap sari menyuruh salah satu pembantunya," kata Bu Menuk yang membungkam wanita itu
"aduh kalian malah menunjukkan jika tak bisa menikahkan putri sendiri jika Semuanya di sumbang
Sari dan suaminya," kata wanita itu tak terima.
"sudah lah Bu, ngomong sama sampean itu gak ada habisnya," kata Bu Menuk yang memilih pergi karena kesal sendiri.
sedang di luar juragan wawan sedang begadang bersama para pria untuk memastikan tak ada hal yang tak diinginkan terjadi.
__ADS_1