
Sari sedang duduk sendirian di teras rumah milik kakeknya itu, seorang wanita datang.
"selamat pagi neng, perkenalkan saya bu kokom yang akan menemani mbak Sari selama disini," kata wanita itu
"iya Bu, terima kasih lebih baik sekarang tolong temani saya duduk di sini," kata Sari memohon.
"iya mbak, tapi kenapa sepertinya mbak Sari begitu lemas dan sedih seperti ini," tanya wanita itu.
"saya baru saja bercerai Bu, dan sekarang butuh waktu menenangkan diri untuk membuat hati saya tenang," kata Sari.
"ya Allah kenapa bisa mbak,"
"kekerasan dalam rumah tangga Bu," jawab Sari tersenyum.
"yang sabar ya mbak, saya yakin pasti akan ada yang lebih baik untuk mbak Sari, sekarang saya bersih-bersih dulu ya, saya yakin jika rumah cukup kotor karena tak pernah di tempati," kata Bu Kokom.
Sari pun mengangguk dan membiarkan wanita itu untuk membersihkan Semuanya.
sedang Sari memilih untuk duduk memeluk dirinya sendiri menikmati, suasana sejuk di desa itu.
juragan Wawan sudah sampai di rumah pak Wasis bersama Yuni, dia bingung harus menjelaskan dari mana.
bisa-bisanya dia datang setelah melakukan hal seperti itu, dan ketakutannya sekarang adalah saat Sari tak ingin melihatnya lagi.
"hei ayah jangan tegang begitu, tenang oke," kata Yuni mencairkan suasana.
juragan Wawan pun mengangguk,dia dan Yuni pun turun dengan harapan bisa bertemu dengan sari dan keluarga.
Yuni menarik lengan ayahnya agar tak kabur karena itu bisa menambah runyam semuanya.
__ADS_1
pintu di ketok oleh Yuni, cukup lama akhirnya pintu pun terbuka dan ternyata Tata yang membuka pintu.
"loh juragan dan mbak Yuni, ada apa ini, tunggu saya panggilkan ibu ya," kata Tata.
ternyata wanita itu sedang di belakang memasak,wanita itu terkejut melihat ada juragan Wawan ada di depan bersama putrinya.
"oh juragan Wawan, ada apa Juragan?" tanya Bu Menuk yang terlihat seperti biasa.
"assalamualaikum ibu, saya mau ketemu Sari, sarinya ada?" tanya Yuni.
"ah itu nak, sarinya lagi ada di luar kota, tadi bapaknya sudah mengantarkan dia ke tempat budenya, katanya untuk membuat usaha baru di sana," jawab Bu Menuk.
"apa? kenapa kok mendadak, tapi kemana ibu? kenapa dia tak memberi tahu aku.." kata Yuni kaget.
mendengar itu juragan Wawan terdiam, pasalnya dia tak mengira jika sari memilih pergi.
saat juragan Wawan ingin bertanya lagi, sepeda motor pak Wasis datang, "loh mas Wawan, ada apa?" tanya pria itu pura-pura tak tau apa-apa.
"mas Wasis bisakah kita bicara di dalam, saya ingin mengatakan dan mengakui sesuatu," kata pria itu.
"boleh mas silahkan, kita masuk kedalam rumah," ajak pria itu.
akhirnya mereka semua masuk kedalam rumah, terlihat juragan Wawan sangat gelisah.
Bu Menuk menaruh minuman untuk kedua tamu yang datang itu, "jadi mas, ada apa?"
"saya mohon maaf mas Wasis, mungkin ini adalah perbuatan biadab ku, aku mohon maaf mas, aku yang dalam pengaruh minuman keras, tanpa sengaja menodai Sari yang mengira jika dia adalah istriku Adelia..." kata juragan Wawan jujur
pak Wasis diam, begitu juga dengan bu menuk, mereka kaget bukan karena hal yang sudah mereka ketahui.
__ADS_1
tapi mereka kaget karena juragan Wawan berani mengakui kesalahannya.
tapi tanpa di duga sebuah tamparan di berikan oleh pak Wasis, "seharusnya bukan hanya tamparan itu, tapi aku akan membunuh mu, tapi sayang kamu sudah sangat berjasa pada keluarga ku dan putriku, jadi mulai sekarang tolong jangan menganggunya lagi, biarkan dia hidup sesuai keinginannya," kata psk Wasis.
"maafkan mas, aku memang pria biadab, hanya karena kehilangan istriku, aku malah melecehkan seorang wanita yang tak mengerti apapun, aku rela jika mas Wasis meminta apapun," kata juragan Wawan
"aku bukan pria yang akan menjadikan anakku sebuah bahan pertukaran, aku hanya minta sebisa mungkin tolong jauhi sari dan keluarga ini, karena saya tak mau jika anda terus membuat masalah dan trauma putriku makin menjadi," kata pak Wasis.
"baiklah pak jika itu keinginan anda, saya akan mengiyakan, karena saya juga tak ingin melukai Sari terus menerus, kalau itu permintaan anda saya turuti," kata juragan Wawan.
"kalau begitu tolong tinggalkan rumah ini," kata pak Wasis.
Yuni mengajak ayahnya untuk pergi, pasalnya kehadiran mereka tak di inginkan seperti ini.
sedang di tempat lain, sari sedang duduk santai setelah dia mulai merasa lebih tenang.
"kamu kuat Sari, sekarang kita harus mulai untuk bangkit, kamu sudah janji dengan mbak Adelia bukan..." kata sari menyemangati dirinya sendiri
tapi Sari malah ingat bagaimana Adelia terus mengatakan untuk sari menikah dengan suaminya.
"aduh kenapa malah ingat perkataan itu," gumam Sari yang masuk kedalam rumah.
ternyata suasana rumah susah sangat bersih, Bu Kokom ternyata wanita yang cekatan.
"mbak Sari, sekarang mau kerja apa, atau mau menjalankan perkebunan milik kakek mbak Sari?" tanya Bu Kokom.
"eh maksudnya Bu, bukankah kebun itu sudah menjadi milik desa?" tanya Sari.
"ya gak bisa dong mbak, asalkan mbak punya bukti sertifikat tanah itu, itu menjadi milik mbak, sebenarnya dulu itu mang Ijong cuma meminjamkan, tapi dasar tua Bangka itu yang malah mengakuinya," kata Bu Kokom.
__ADS_1
"baiklah Bu, biar saya lihat dulu apa kakek meninggalkan semua itu pada ayah, atau menyimpannya di suatu tempat," jawab Sari.