
Sari sudah siap dengan baju yang memang mengenakan seragam batik yang sesuai dengan seluruh keluarga besarnya.
batik itu berwarna coklat bata dengan gradasi emas dan hitam, semua sudah datang karena setengah jam lagi acara akad nikah akan segera di mulai.
tapi Tata merasa sedih karena kakaknya belum juga datang, terlebih juragan Wawan akan jadi saksi untuk pernikahan ini.
mobil juragan Wawan baru datang dan dari turun tak membawa bayinya, tapi hanya membawa hadiah untuk adiknya.
semua orang kaget melihat kedua orang itu, mereka terlihat begitu serasi, bahkan Sari terlihat makin cantik sekarang.
mereka langsung masuk dan bergabung dengan yang lain, Bu menuk langsung memeluk putrinya itu.
"ya Allah akhirnya kamu datang, itu Tata sudah khawatir kamu tak datang," kata Bu Menuk
"maaf ya Bu, habis tadi harus menyiapkan semua sebelum kesini karena satria di rumah sama dua mbak,"terang Sari.
"ya gak papa dong, sudah masuk sana biar ibu yang menyambut beberapa tamu," kata Bu Menuk.
akhirnya acara akad nikah akan segera di mulai, Sari mendampingi adiknya itu untuk duduk do sebelah Andre.
setelah itu dia juga memasang selendang putih sebelum acara akad nikah di mulai.
akad nikah di lakukan dengan lancar dan langsung di lanjutkan dengan acara resepsi.
acara pagi itu berjalan sangat lancar, meski beberapa orang kecewa karena tak bisa melihat bayi mungil dari Sari dan juragan Wawan.
pasalnya keduanya memilih meninggalkan anak mereka di rumah demi kesehatan bayi mereka.
siang itu ada hiburan elekton, juragan Wawan dan Japar sudah di tarik baik ke atas.
"Iki tok opo se," kata juragan Wawan yang sedikit kaget.
"wah saya ini nyanyi di temani dua juragan, ibu juragan mohon izin ya," kata biduan dangdut yang mengenakan baju yang cukup minim itu
juragan Wawan sedikit menjauh, sedang Japar terus melihat istrinya seperti meminta tolong, dan Dian hanya tertawa saja melihatnya.
"sayang..."
"apa sih, tinggal nyanyi nanti aku sawer loh," kata Dian tersenyum.
tapi tanpa di duga, putranya yang menangis melihat ayahnya pun akhirnya membebaskan Japar.
lah lak kampret, woi kok awak mu mudun heh," kaget juragan Wawan.
"wes gak popo juragan, Monggo di mulai saja," kata MC dari orkes dangdut itu.
__ADS_1
akhirnya juragan Wawan pun menyumbangkan suaranya, tapi sayang lagu yang di pilih adalah lagu yang sedikit membuatnya kesal.
jambu alas menjadi lagu yang di nyanyikan, sari yang tau hanya tersenyum saja, dan setelah lagu selesai.
pria itu langsung turun dan bergegas menghampirinya, dan memasang wajah asam, "aduh kok gitu sih, sudah cuma hiburan mas,"
acara pun selesai, semua sudah pulang dan nanti sore akan datang lagi untuk melanjutkan acara.
siang itu Sari sudah pamitan pada orang tuanya dan nanti sore akan kembali datang kesana lagi.
tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah, juragan Wawan langsung melepas sepatu dan membersihkan dirinya sebelum mengendong Putranya.
"bagaimana adek di rumah apa rewel mbak Tunah?"
"tidak buk, ini adiknya sangat tenang, orang dari tadi ada anak mbak Jum yang datang terus main disini," kata mbak Tunah.
"baiklah, tapi sekarang anaknya Nana, oh ini ada berkat sari rumah ini,di makan ya," kata Sari yang menaruh semua yang dia bawa di meja.
"iya mbak terima kasih, tadi sepertinya Irfan yang menunggu ini katanya kata Dewa jajannya enak-enak," kata mbak Tunah tertawa.
Sari pun mengangguk dan memutuskan untuk mandi, dan segera bergabung dengan suaminya yang sudah bersama bagi satria.
sedang di rumah Yuni, gadis itu sedang tertawa setelah tau apa yang terjadi, pasalnya dia tak mengira jika nasib Dewi semenyedihkan ini.
saat dia sedang asik menonton tv, dia kaget oleh mertuanya yang datang dan langsung nyelonong tanpa mengetuk pintu rumah,
"dasar menantu sialan!!"
"aduh ibu mertua, seharusnya anda itu masuk ke rumah orang itu ketuk pintu dulu," kata Yuni.
"kenapa harus seperti itu, ini rumah anak ku, kenapa aku harus ketuk pintu dulu," marah wanita itu
"apa? aku tak salah dengar, ini Rumah anak mu, hei coba ingat-ingat ya siapa tau lupa, anak mu itu di sini numpang, karena ini rumah yang di berikan ayah ku padaku, bukan anak mu yang membelinya!" marah Yuni.
"tapi kalian itu sudah menikah, jadi semua yang kamu miliki itu harta bersama," marah ibu Farid yang semakin menjadi karena mendengar jawaban Yuni.
"tidak ada harta bersama, ini harta yang di berikan sebelum Yuni menikah, jadi ini murni harta milik Yuni, sedang putra mu itu tak memiliki hak apapun disini," kata Nanang yang datang membawa kue
"kau juga disini, dasar pria tak tau malu," hina wanita itu.
"kenapa, aku datang untuk menghuni rumah pemberian ayah ku, dan sekarang aku akan melindungi Yuni sebagai kakaknya, jadi jangan berani membentak adikku," kata Nanang menantang wanita itu.
"dasar anak setan, lihat saja, aku akan membuat mu merasakan hal yang menyulitkan," kata wanita itu sebelum pergi.
"aku tunggu ucapan mu," kata Nanang yang menantang wanita itu.
__ADS_1
sedang Yuni kaget, pasalnya dia takut jika wanita itu akan mengatakan hal yang aneh pada juragan Wawan ayah mereka.
"mas bagaimana jika dia ke tempat ayah dan mengatakan hal bohong, ayah bisa marah pada kita," kata Yuni.
"kamu takut, kamu lupa jika ayah adalah orang yang keras kepala," kata Nanang dengan santai.
"iya ayah keras kepala, tapi Sari bisa saja membujuk ayah untuk menegakkan keadilan," kata Yuni yang takut.
tapi Nanang tanya tertawa, "kamu ternyata tak memahami sahabat mu ya, kamu tau Yuni, Sari itu memang terlihat bodoh dan gampang terpengaruh, tapi percayalah dia itu lebih pintar bicara dan menyebalkan saat sudah membuka mulutnya itu,"
"apa kamu yakin mas?" tanya Sari tak percaya.
"kamu bisa kesana untuk melihatnya, bukankah kamu tau rumahnya bukan," kata Nanang enteng.
"baiklah, kamu mau ikut?" tanya Yuni.
"kamu ingin ayah mu itu membunuhku, aku lebih baik membersihkan rumah ku saja, toh sekarang aku benar-benar kembali ke desa, dan memilih bebas mandiri," kata Nanang santai.
"apa maksud mu, jangan bilang kamu memilih bercerai dengan Azila? dan ibu bagaimana?" tanya Yuni yang sedih.
"tentu saja tidak, aku pulang ke desa ini bersama Azila, dan ibu berada di panti jompo dan aku memastikan dia akan aman dan semua kebutuhannya terpenuhi, karena aku sudah lelah dengan semuanya, terlebih ibu mu itu juga terus membuat masalah," kesal nanang.
"hei jangan mengatakan hal aneh, dia itu juga ibumu," kesal Yuni.
Keduanya pun pergi, tapi berbeda tujuan, karena Nanang tak ingin bertemu Sari dan kembali mengenang semua penyesalannya.
sedang Yuni membawa mobil kesayangannya menuju ke rumah juragan Wawan, dan saat sampai disana, ternyata benar.
mobil Farid sudah terparkir di rumah mewah itu, dan pak Joko langsung membukakan pintu saat mobil Yuni datang.
"pak Joko, apa mereka sudah lama?" tanya Yuni.
"tidak mbak,baru kok,masuk saja," jawab pria itu yang memang sudah dapat pesan dari juragan Wawan.
Yuni pun mengetuk pintu dan kaget melihat ekspresi juragan Wawan yang nampak marah.
terlihat Sari dari dalam tersenyum menyambut dirinya, "kenapa hanya berdiri disana, masuk dong duduk di sebelah ayah mu," kata Sari dengan lembut.
"ada apa ini ayah..."bingung Yuni yang tau jika ayahnya itu sedang dalam keadaan yang tidak baik.
"ini didikan anda," kata ibu Farid yang langsung menunjuk Yuni
kini Yuni merasa makin buruk, setelah semua yang terjadi, dan sekarang juragan Wawan yang bahkan bukan siapa-siapanya pun mendapatkan imbas.
"apa maksud anda menunjuk putriku,meski aku bukan ayah kandungnya, dia tetap anak yang aku besarkan dengan tangan ku sendiri, saya dari tadi sudah cukup sabar saat anda menghinanya," kata Juragan Wawan mengejutkan Yuni.
__ADS_1