aku istrimu, bukan pembantumu

aku istrimu, bukan pembantumu
acara lamaran.


__ADS_3

pagi ini semua orang sudah sibuk, Juragan Wawan juga tidak bekerja dan memilih membantu di rumah.


dia melihat semua persiapan yang sudah hampir selesai, tapi Yuni malah terlihat sedih, padahal semua sudah hampir selesai.


"ada apa sih nduk,kenapa wajahmu cemberut gitu, apa ada yang kamu inginkan mumpung masih pagi," kata juragan Wawan.


"aku ingin setidaknya mas Nanang bisa datang ke acara ku atau ibu, tapi jika ibu terlalu berat mas Nanang juga gak papa ayah, tapi aku tau itu mustahil," kata Yuni.


dia pun pergi masuk kedalam rumah, sedang juragan Wawan bingung harus bagaimana.


Sari yang kebetulan me dengar pun hanya tersenyum, "lebih baik ayah telpon mas Nanang, bukankah ayah tau dimana dia?"


"apa maksudmu Sari, kenapa harus aku yang melakukannya?" kata juragan Wawan yang menghindari tatapan mata dari sari.


"benarkah, padahal aku tau benar jika ayah tau dimana mas Nanang, sejahat-jahatnya ayah tak mungkin anda bisa melepaskan putra mu itu, terlebih dia tak salah, jadi jangan membohongiku," kata Sari.


"kamu selalu saja bisa menebak diriku, baiklah aku akan mengundangnya, tapi apa kamu akan baik-baik saja?" tanya juragan Wawan yang khawatir.


"tentu, sekarang aku punya seseorang yang menjaga ku," jawab Sari tersenyum manis kearah juragan Wawan.


dia langsung menghubungi Nanang yang sekarang menetap di daerah Nganjuk.


"lihat ayah tentu tak bisa mengabaikan putranya, padahal aku tadi cuma asal tebak," kata Sari mengejek juragan Wawan dan pergi


"iya ayah, ada apa? apa ada masalah?" tanya pria di sebrang telpon.


"tidak ada, bagaimana kabar mu, apa Semuanya baik," tanya juragan wawan basa-basi.


"Semuanya baik,tapi tumben ayah menelpon ku?" tanya Nanang heran.


"bukan hal besar, ayah hanya ingin mengundang mu untuk datang di pertunangan Yuni serta Farid kekasihnya, dia ingin kamu datang," jawab juragan Wawan.


"apa, baiklah kami akan segera kesana," jawab Nanang.

__ADS_1


"pelan-pelan saja, tak usah buru-buru acaranya juga masih habis isya'," jawab juragan Wawan.


"baiklah ayah,aku mengerti,kalau begitu aku akan mengajak istriku datang," jawab Nanang yang antusias.


dia tak mengira ayahnya akan mengundangnya secara langsung dalam acara besar adiknya itu.


sedang Sari berada di dapur melihat semua orang yang terlihat bagus, dan kue juga sudah datang dan tinggal di tata di meja.


"nduk,ayah ingin bicara dengan mu," panggil juragan Wawan pada menantunya itu.


"iya ayah," jawab Sari yang langsung mengikuti juragan Wawan.


pria itu menarik Sari masuk kedalam kamarnya, dan langsung memeluknya.


"tolong jangan seperti ini,aku tau kamu belum siap bertemu pria itu, jika kamu tak datang nanti malam,tak apa-apa karena ayah yakin Yuni akan mengerti," kata juragan Wawan.


"tidak ayah,aku akan baik-baik saja, aku yakin mas Nanang sudah bahagia dengan wanita yang dia cintai," jawab Sari.


juragan Wawan menghapus air mata Sari dengan lembut, tak hanya itu mereka pun saling menyatukan kening mereka.


"tolong ayah... kita belum menikah," kata sari.


tapi bibirnya sudah sedikit memiliki tanda karena gigitan, dia pun mengambil uang di atas meja yang akan di gunakan untuk membayar kue dan teh botol yang akan segera datang.


bahkan di siapkan dua tempat pendingin dari perusahaan yang tinggal menaruh es batu untuk membantu mendinginkan minuman itu.


Sari benar-benar menjelma seperti nyonya rumah,bahkan setiap


detail tak luput dari perhatian dan mata tajamnya.


Yuni juga sangat senang melihatnya, "mama ku yang cantik dan semok... coba duduklah, kamu terus sibuk dari pagi,padahal semua sudah selesai," kata Yuni yang kesal.


"belum,aku masih berusaha menelpon orang yang harusnya datang untuk memake-up mu,jadi jangan menganggu," kata Yuni.

__ADS_1


"hei ini hanya pertunangan,bukan pernikahan ku," kata Yuni.


"tapi sayangnya kamu putri juragan Wawan jadi sudah maklum semua ini di lakukan," kata Sari tertawa.


tanpa siapa pun yang menduga, bulek dari Yuni datang, yaitu bulek Rahma datang.


"wah ada acara besar dan bulek tak di undang atau di beri tau, untuk tadi ketemu salah satu warga Bu Sri yang sedang ke pasar, jadi bulek tau jika kamu mau bertunangan Yuni, dan lihatlah ada wanita tak tau malu ini juga yang ada di rumah ini," kata wanita itu yang datang membawa sesuatu.


"aku memang sengaja tak mengundang mu karena aku tak suka keluarga wanita itu datang mengotori rumah ku," saut juragan Wawan dingin


"hei mas wawan jangan keterlaluan dong, bagaimana pun aku itu masih buleknya Yuni loh," kata bulek rahma tak tau malu.


"kalau begitu kamu bisa mengantikan mbak mu untuk mendekam di penjara mengantikan dirinya yang kabur karena membunuh istri dan putera ku," kata juragan Wawan dingin.


"tak Sudi,ini aku hanya ingin mengantarkan ini aja, aku tau kok karena gadis manja itu kamu tak ingin bersaudara lagi dengan ku,dasar wanita menjijikan,"marah bulek Rahma.


"berhenti menyalahkan sari,coba pikir sendiri, siapa yang bisa tahan punya saudara yang menyebalkan seperti mu," marah juragan Wawan.


"sudahlah Yuni, ini untuk mu nanti jangan lupa ajak calon suamimu ke rumah bulek ya," kata wanita itu yang kemudian pergi.


Sari sesak nafas melihat wanita itu yang datang seperti angin ribut, bukan apa jika dia datang sudah di pastikan semua orang akan kesal.


juragan Wawan melihat tangan Sari gemetar ketakutan, padahal sudah selama ini mereka tak pernah bertemu.


"sudah Yuni kamu mandi dan segera bersiap, itu tukang rias sudah datang, dan Sari tenangkan dirimu," kata juragan Wawan mengenggam tangan gadis itu.


"terima kasih ayah, ku kira aku akan biasa saja, tapi rasa takut itu masih sangat besar saat melihat bulek rahma,"


"itu wajar, siapa yang bisa tahan melihat wanita dengan mulut jahat itu, sudahlah kamu bisa pulang nanti malam kesini lagi," kata juragan Wawan.


"tidak perlu, aku sudah membawa semua pakaian ku, dan nanti yang akan datang cuma ibu dan bapak," kata Sari.


"baiklah kamu bisa ganti di kamar ku,karena itu sangat bersih di banding kamar yang lain,terlebih itu juga akan jdi kamar mu," bisik juragan Wawan dengan nada menggoda.

__ADS_1


"dasar juragan mesum, bisa-bisanya anda menggoda wanita muda,"ledek sari dengan senyum yang merekah.


Fendi dan Dewi yang datang mengantarkan kue kering sedikit kaget dengan apa yang di lihatnya, "aduh sepertinya kami datang di waktu yang tidak tepat ya," kata Dewi.


__ADS_2