
"kenapa harus seperti ini, aku menikah dengan ku bukan karena ini mas," kata sari yang tak ingin menerimanya.
"tolong terima sayang, agar aku tak kepikiran, jadi kita tinggal menikmati hidup kita," terang juragan Wawan.
Sari pun mengangguk dan menerima saja, tapi dia melihat ada map di meja.
hari ini juragan Wawan ingin memberikan hak Nanang sebagai putra yang dia besarkan, mau itu putranya atau bukan tapi dia juga berhak.
"terus sekarang kenapa mas diam begitu, apa ada sesuatu?" tanya Sari yang merasa heran.
"mas ingin ke tempat mas Nanang untuk memberikan bagiannya?" tanya Sari.
"iya, kamu bisa tau ternyata, karena aku dengar dia sedang dalam keadaan kesulitan karena usahanya sedikit sulit," jawab pria itu.
"baiklah kita berangkat mau ajak Yuni sekalian,mungkin dia rindu ibunya," kata Sari.
"baiklah, kalau begitu kita berangkat saat libur saja, dan tetaplah di sini ya, aku tak ingin jauh darimu," kata juragan Wawan.
"aduh kenapa pria ini sangat manja," kata Sari tersenyum.
akhirnya saat sore hari, dari baru pulang dan terlihat mbok Jum sudah membersihkan rumah.
"mbok sudah mau pulang?" tanya Sari yang melihat wanita itu sudah siap pulang.
"inggeh neng, mbok pamit ya," kata wanita sepuh itu.
"tunggu mbok, ikut saya sebentar," ajak Sari.
juragan Wawan memilih duduk di teras sambil menikmati waktu santai sore.
Arip dan Ripin datang untuk menyetorkan uang yang mereka dapatkan setelah tadi melalukan pengiriman beras.
juragan Wawan berhasil mengubah dua pria yang kecanduan judi itu menjadi orang lebih baik.
"mas aku antar mbok Jum dulu ya, sebentar," kata Sari yang mengunakan motor cb milik suaminya.
"kamu bisa dek?"
__ADS_1
"tenang aku bisa mengendarai yang jenis ini kok," kata sari yang ternyata benar-benar bisa.
"apa jumlahnya benar juragan?" tanya Arip.
"benar, dan ini bonus kalian, tapi ingat jangan di buat foya-foya seperti yang lalu," kata juragan Wawan.
"tentu juragan, saya yang harusnya berterima kasih, jika bukan juragan yang menyelamatkan anak saya, mungkin Veve ku sudah tak tertolong..." kata Arip yang tiba-tiba menangis.
"sudah jika bukan aku pasti ada orang lain, sudah pulang dan belikan makanan kesukaan anak-anak kalian dengan uang itu, jika kalian ketahuan oleh ku berada di tempat itu lagi, tentu kalian tau akibatnya," kata juragan Wawan.
keduanya mengangguk mengerti, pasalnya keduanya hampir mati di hajar juragan Wawan karena ulah mereka mengelapkan puluhan karung beras.
tapi sekejam apapun juragan Wawan, dia tetap tak bisa melihat anak buahnya kesulitan.
beruntung keduanya kini sudah insaf dan tak melakukan judi yang membuat keluarga mereka makin susah.
Sari sampai di rumah mbok Jum, dia membantu wanita itu membawa barang yang dia berikan berapa sembako dan juga uang meski tak banyak.
"mbok tolong di terima ya, ini bonus dari juragan Wawan, anggap saja rasa syukur kami atas pernikahan kami ya," kata sari memberikan amplop dan memeluk wanita itu.
"amiin ya mbok,besok mbok juga datang ya, karena saya tak bisa jika harus menghadapi dua orang itu sendirian," kata Sari sambil tertawa.
"iya neng," jawab wanita itu.
Sari pamit pergi, tapi dia mengurungkan niatnya dan menghampiri beberapa ibu-ibu lansia yang sedang duduk santai.
Sari memberikan uang pada semua orang di sana, dan memberikan atas nama suaminya agar di jauhkan dari marabahaya.
dia pun pamit pergi, dia juga berhenti saat melihat banyak anak kecil yang bermain dan memberikan uang pada mereka.
semua orang tak mengira jika sari sosok seperti ini, yang sangat baik lebih dari Bu Wiwit dulu.
"makanya juragan Wawan tak malu menikahinya ya Bu, orang baik gitu, sudah gitu cantik dan sopan lagi, dulu mas Nanang buta ya kok bisa-bisanya meninggalkan mbak Sari demi Azila itu, lihat sekarang malah bapaknya yang ketiban enak loh," kata ibu-ibu rumpi.
"tapi kemana ya ini Wiwit itu, ya Allah aku gak nyangka ya, orang yang terkenal baik ternyata jahat banget bisa membunuh orang sampai satu keluarga gitu, belum lagi orang yang di suruh ya masuk penjara, dan keluarganya berantakan, untuk juragan Wawan baik mau memberikan santunan untuk anak-anak mereka hingga tetap bisa sekolah," saut yang lain.
"ya siapa yang gak bisa nekat kalau tau suami punya yang lain saat dia udah kaya," kata pak Susi.
__ADS_1
"alah Susi koyok wong benar ae, tapi kamu gak tau ya jika dulu Bu Wiwit itu nikah sama juragan Wawan juga karena kopyokan karena hamil dengan banyak orang," kata ibu Ratna.
"wes... ibu-ibu lek di kongkon rasan-rasan lembut tanggane, sudah Bu RT ayo pulang, kamu tak kasihan itu anak mu sudah masuk got gitu," kata pak RT yang gemes melihat istrinya.
"le le le... kok isone masuk got Iki loh Kenapa?" kaget wanita itu.
dia pun akhirnya pulang, dan ibu-ibu yang lain juga bubar, sedang Susi merasa kesal karena dia gagal lagi mengaet pria paling kaya di desa ini.
karena lurah saja kalah kaya dengan juragan Wawan yang entah uangnya segunung mungkin.
"gimana ya, masak aku cekokin miras lagi,dulu sudah gitu malah dia pulang sambil meracau, terus sekarang gimana? apa aku goda habis-habisan saja ya saat kesini," gumamnya.
ya setidaknya meski tak jadi istri yang sah, jadi selingkuhan juga tak masalah toh sari juga tak mungkin bisa memuaskan suaminya.
buktinya dulu Nanang sering curhat jika sari itu tak pintar goyang dan kurang binal.
Sari sedang memukuli suaminya itu, pasalnya dia kedinginan karena ulah suaminya itu.
"aduh maaf ya sayang, kamu sampai kedinginan begini..."
"mas ih... kalau aku sakit gimana," kata sari yang berada di balik selimut dan mendapat pelukan suaminya.
"maaf deh, oh ya tumben Yuni belum pulang," kata juragan Wawan yang khawatir dan mulai menelponnya.
"iya ayah, ada apa?" tanya Yuni yang langsung menjawab panggilan telpon itu.
"kamu kok belum pulang, biasanya jam empat sudah di rumah?"
"aku ada kelas tambahan sebentar lagi, mungkin akan pulang jam tujuh malam," jawab Yuni.
"kamu bawa kendaraan sendiri?" tanya juragan Wawan.
"aku bawa sedan Forsa, memang kenapa ayah," tanya gadis itu heran.
"tidak ada, nanti jangan pulang kalau ayah belum jemput, karena ayah tidak mau kamu sendirian pulang," kata juragan Wawan.
"iya terserah ayah,sekarang nikmati waktu dengan mama, karena aku ada kelas bye ayah..."
__ADS_1