aku istrimu, bukan pembantumu

aku istrimu, bukan pembantumu
kesibukan sebagai menantu


__ADS_3

setelah berbelanja cukup banyak, Sari dan Bu Wiwit memutuskan pulang, dia tadi juga di berikan vitamin oleh dokter.


mereka pun sampai di rumah sang mertua, Sari langsung membantu mengangkat barang-barang belanjaan yang sudah di beli.


tak terduga juragan Wawan pulang lebih cepat dari biasanya, karena memang sudah jam istirahat makan siang.


"menantuku yang baik ada disini, bagaimana kabar mu nak," kata juragan Wawan terkejut melihat Sari.


"Alhamdulillah sehat ayah," jawab Sari tersenyum ramah pada mertuanya itu.


"kamu kenapa bisa terluka seperti ini?" tanya juragan Wawan tak terima.


"Sari hanya kepeleset dan jatuh membentur pinggiran tembok, jadi dapat tiga jahitan seperti ini deh, tapi semuanya baik-baik saja kok ayah," jawab Sari.


"untunglah, mang Har segera antar menantuku pulang, karena pasti Nanang juga sudah pulang dari peternakan," kata juragan Wawan.


"iya juragan," jawab pria kepercayaan dari keluarga.


melihat menantunya pergi, juragan Wawan menatap istrinya itu dingin, pria itu tak sepenuhnya percaya dengan ucapan dari Sari.


"jujur Bu, menantu mu itu benar-benar jatuh atau putra mu melakukan kekerasan padanya?" tanya juragan Wawan.


"dia benar-benar jatuh ayah, kenapa sih kamu begitu curiga pada putra mu sendiri, orang Sari juga sudah bilang gitu kok tadi," kata Bu Wiwit yang sedikit gugup


"memang kamu kira aku tak tau sikap putramu yang sering main tangan, berapa pria hampir mati di tangannya, aku menikahkan dia dengan sari agar dia berubah,tapi jika tidak ada perubahan, maka aku sendiri yang akan menghajarnya," kata juragan Wawan.


Bu Wiwit pun menghela nafas panjang saat melihat suaminya itu pergi, pasalnya juragan Wawan itu sama kerasnya dengan Nanang.


Sari pun memutuskan naik di samping supir, perjalanan cukup singkat dan beruntung Nanang belum pulang, karena jika tidak pasti akan jadi masalah lagi.


"neng saya langsung pulang ya," pamit pria itu.


"iya mang, terima kasih ya," kata Sari dengan sopan.


dia pun bergegas masuk kedalam rumah untuk menyiapkan makan siang.


tak lupa dia mengisi daya ponselnya yang hampir mati, tak lama terdengar suara motor dari Nanang.


Sari pun mematikan kompor dan bergegas menyapa suaminya itu, "kamu sudah pulang, seharusnya di rumah ayah sedikit lama saja gak papa kok, kamu tinggal bilang aku akan kesana," kata Nanang.


"aku tak enak mas, terlebih kamu tak di sana, tapi sepertinya lusa kita harus menginap disana untuk acara itu," kata Sari.


"tentu, aku juga rindu tidur di rumah orang tuaku, tapi sayang ya kamu belum bisa di pakai," bisik Nanang mengecup kening Sari.


Sari hanya menunduk saja mendengar ucapan suaminya, dia tak mengira jika suaminya itu hanya memikirkan hal di atas ranjang saja.


"nanti saat aku sudah suci, aku akan memberitahu mas," jawab Sari

__ADS_1


"harus, karena itu kewajiban mu sebagai seorang istri," jawab Nanang yang memilih mandi.


tak butuh waktu lama untuk Nanang mandi, setelah itu dia datang untuk makan siang bersama istrinya.


setelah itu Nanang minta di pijat karena tubuhnya sangat lelah, dan setelah satu jam Nanang sudah tidur.


Sari juga beristirahat sambil menonton tv, dia juga merasa lelah karena kegiatan hari ini.


tapi dia perlahan Nanang mulai berubah sedikit dingin, padahal baru setengah tahun umur pernikahan mereka.


tak terasa sudah lima hari saja, hari ini Sari begitu sangat sibuk bahkan dia terus membuat mie goreng untuk nasi berkat.


ayam sudah selesai di goreng tadi jam enam, dan mie goreng akan segera selesai karena acaranya pukul dua siang.


setelah selesai membuat mie sepuluh ember besar, dia pun segera menyiapkan nasi milik tiga penceramah.


"mas tolong buahnya di taruh mana?" tanya Sari.


"itu ada di kamar kita, kamu perlu bantuan?" tanya Nanang.


"boleh mas," jawab Sari.


Nanang mengambil lima piring buah yang sudah di siapkan, tak lupa plastik pembungkus juga.


Sari beberapa kali menahan rasa sakit karena tadi tangannya sempat terkena wajan panas.


"jika kamu lelah, istirahat dulu, jika tidak kamu bisa pingsan," kata Nanang yang melihat tangan sari gemetar.


Nanang yang kesal mendengar jawaban dari istrinya pun menarik tangan Sari.


"aduh sakit mas," tapi Nanang kaget saat mendengar suara istrinya yang mengaduh.


"kamu kenapa?" kaget Nanang.


"tangan ku sakit mas, perih dan sakit..." kata Sari yang menangis.


Nanang pun menggulung lengan panjang istrinya dan kaget melihat semua bekas merah dan telapak tangan Sari lecet.


"kamu ini kenapa sih, ini kenapa sampai luka begini!" bentak Nanang.


"aku membantu membuat mie goreng tadi, dan tak sengaja sutil dari bulek Rahmah patah, jadi aku yang melanjutkan memasak sendiri tadi," jawab Sari.


"kamu mau bekerja sampai mati, kenapa kamu tak bisa menolaknya, kamu ini menantu juragan Wawan," kata Nanang.


"maaf..." kata Sari.


"cukup, setelah menyelesaikan parcel buah ini, kamu tidur dan tak boleh pergi, awas istirahat..." kata Nanang.

__ADS_1


parcel selesai, dan Sari di minta tidur, sedang dia memilih keluar untuk membelikan obat untuk Sari.


bahkan kamar pun di kunci dari luar oleh Nanang, "Wiwit menantu mu yang manja itu mana, kenapa dia tak ada, masak di suruh buat parcel buah saja sudah menghilang,"


Sari pun langsung mencari kunci cadangan kamar, dia tak mau mencoreng nama keluarga suaminya.


beruntung dia menemukan kunci kamar suaminya itu, "iya bulek,ada apa maaf baru selesai membuat parcelnya," jawab wanita itu.


"kamu ini, banyak orang sibuk kamu malah ndekem di kamar, kamu itu jadi menantu mbok ya yang Akas gitu loh bantu yang lain, jangan nunggu di suruh terus," omel wanita yang terkenal ketus itu.


"sudah lah Rahma, Sari baru saja sehat kamu bisa membuatnya sakit lagi, kamu mau Nanang ngamuk," kata Bu Wiwit.


"mbak ini terlalu memanjakan menantu mu, sekali-kali tunjukkan siapa ibu mertua jangan mau di injak," kata bulek Rahma tanpa mau berhenti mengkritik Sari.


tanpa sadar karena kelelahan, Sari pun mimisan dan tubuhnya sudah sangat lemah dan akhirnya jatuh pingsan.


bahkan gadis itu tergeletak begitu saja, "mbak Sari!" panik semuanya melihat gadis itu tak sadarkan diri.


"Sari bangun nduk, ayah!!! Nanang!!!" teriak Bu Wiwit panik.


terlebih dari hidung menantunya itu juga terus keluar darah, juragan Wawan langsung berlari masuk dan kaget melihat semua orang berkerumun.


"ada apa ini?" tanya juragan Wawan.


"ayah... Sari pingsan," kata Bu Wiwit yang begitu sedih.


bulek Rahma juga tak mengira jika menantu dari kakaknya itu begitu lemah.


Nanang kaget melihat semua orang seperti ingin melihat sesuatu,karena perasaannya tak enak, dia pun menerobos masuk.


"semuanya permisi tolong minggir," kata Nanang.


dia pun kaget saat juragan wawan ingin mengendong istrinya, "ada apa dengan Sari, ayah!"


"Nanang, cepat bawa istrimu, kita harus bawa dia ke klinik," kata juragan Wawan panik.


Nanang langsung menggendong Sari, mereka pun bergegas menuju ke klinik terdekat.


dan lagi-lagi yang jaga pas dengan dokter yang menangani sari beberapa hari lalu.


dokter pun langsung melakukan pertolongan pertama pada Sari, dan kali ini luka di tangan Sari sangat banyak.


"sebenarnya ada apa ini ayah, aku tadi memintanya untuk istirahat karena tangannya terluka, tapi kenapa kok malah sampai pingsan seperti ini," kata Nanang panik.


"ayah juga tak tau, tadi ibu mu berteriak dan menangis memeluk istrimu yang sudah tak berdaya," kata juragan Wawan.


"pasti bulek Rahma lagi, karena dari kemarin dia terus membuat istriku sibuk bahkan tak sempat makan malam semalam, kenapa sih ibu memanggilnya kesini, lihat sekarang istriku yang jadi korban," marah Nanang menonjok dinding klinik itu.

__ADS_1


semua yang antri untuk periksa kaget, pasalnya Nanang terlihat begitu marah.


"tenang Nanang, ingat ini klinik kesehatan," kata juragan Wawan menenangkan putranya.


__ADS_2