
sari sudah selesai membuat risoles dan lumpia dan menyimpannya di freezer.
Bu Wiwit datang untuk menjemput suaminya, saat sampai dia melihat dari yang sedang membersihkan rumah.
"assalamualaikum Bu..."
"waalaikum salam, aduh rajinnya, ayah mu mana nduk?" tanya Bu Wiwit
"ada di dalam Bu, tadi katanya mau istirahat dulu, ibu masuk saja ke kamar tamu Bu," jawab Sari.
Bu Wiwit pun langsung masuk dan senang melihat rumah yang begitu bersih dan wangi.
dia pun masuk kedalam kamar, Nanang yang sempat mendengar suara ibunya keluar tapi hanya melihat Sari.
"loh dek, barusan aku denger suara ibu deh?" kata Nanang mencari sosok itu.
"iya mas, ada di kamar mau ketemu bapak mungkin, sudah jangan di ganggu," ajak Sari keluar.
Sari duduk bersama Nanang di dalam toko, melihat kaki putih istrinya.
tangan Nanang mulai jahil, dia menyentuh kaki itu dan mengejutkan istrinya.
"mas ih..." kesal Sari.
pasalnya ini pertama kali dia di sentuh di area kaki, melihat reaksi istrinya itu.
Nanang langsung memeluk sari dan langsung mengecup bibir istrinya itu, "mas tolong hentikan... ini di luar rumah," kata Sari malu.
"tiga bulan dek, aku belum meminta hak ku sebagai suamimu," kata Nanang yang sudah mulai meraba beberapa area sensitif.
"iya, tapi tidak disini mas, malu..." lirih Sari yang berusaha lepas dari suaminya.
beruntung ada pembeli yang membuat Nanang berhenti, "tumbas..."
"iya Bu,mau cari apa?" tanya Sari yang langsung menemui pembeli itu.
Nanang pun menghela nafas dan langsung memilih masuk, tapi dia malah melihat ibunya dan ayahnya.
__ADS_1
"ya ini, yang manten baru belum, eh ayah dan ibu sudah nyengkot ternyata," kata Nanang.
"Halah... setelah ini toko di tutup, rumah di tutup, sudah nikmati waktu mu dengan Sari, terus cepetan buat cucu, ibu sudah gak sabar mau gendong cucu, habis ayah mu gak jelas, masak anaknya baru jadi manten eh malah di pisahkan tiga bulan," kesal Bu Wiwit.
"ya maaf bu, sudah ayah dan ibu pamit pulang, kalian lanjutkan saja, terus pelan-pelan ya le," kata juragan Wawan.
Sari mengantar kedua mertuanya yang pergi, tak lupa dia juga menitipkan permintaan dari Yuni.
"sudah tutup tokonya ya dek, aku ingin bermesraan dengan mu," mohon Nanang.
"iya mas, tapi bantuin ya," kata Sari.
Nanang pun dengan senang hati bergegas menutup toko di rumahnya itu.
tapi baru juga selesai menutup tokonya, Fendi, Arip dan Ripin datang.
"woilah... sek sore wes di tutup tokone, padahal kami ingin ngopi dan mau minta oleh-oleh nih," kata Fendi.
"tau nih, jangan gitulah bos, kami udah bantuin loh," kata Ripin.
"ya sudah gak jadi tutup, aku buka lagi,dek tolong buatin kopi untuk mereka, kalau bisa tolong buatkan cemilan juga ya dek," kata Nanang.
dia pun segera membuat apa yang di minta suaminya, sedang Nanang kembali membuka toko kelontong itu.
"sek tunggu di sini, aku tak ngambil oleh-oleh buat kalian," kata Nanang
Sari keluar dengan empat kopi, setelah itu dia masuk dan membawa tiga piring gorengan dan satu toples kacang asin.
"Monggo sekecaaken..." kata wanita itu.
tak lama Anang keluar dengan membawa bungkusan, "ini di bagi gak usah gelut, oh ya bagaimana proyek yang semalam kamu katakan Arip?"
"buyar bos, kalah tender, Fendi se gak mau bantuin aku, jadi blangsak akunya," kata Arip kesal.
"salah sendiri kamu awalnya bilang aku gak di butuhin, jadi aku tak mau bantu, kalau kamu kalah tender itu urusan mu c*k," kesal Fendi.
"alah... gayamu ngomong tender barang, Trimo gawe tembok makan umum ae kakean gaya cok," kesal Ripin yang mendengar ucapan Arip.
__ADS_1
mereka tertawa bersama, ya bukan apa karena lumayan jika bisa memenangkan penawaran itu.
"tapi lek aku ya mending gak usah, daripada nanti ada apa-apa kamu yang di salahkan, itu sudah bener," kata Nanang.
"setuju sih, tak mudah untuk menjadi pemborong untuk tempat-tempat seperti itu, karena tanggung jawabnya dunia akhirat bro," kata Fendi.
"baiklah, sekarang bantuin cari pekerjaan dong," kata Arip.
"orang sudah kerja ya kok sek mau cari lagi, sudah deh jangan mengadi-ngadi deh, sudahlah fokus kerja yang ada sekarang, Ripin besok jangan lupa ya waktunya pemeriksa rutin di bagian peternakan sapi kan?" tanya Nanang.
"bener tuh bos, ha-ha-ha," kata Ripin tertawa.
sedang Fendi satu-satunya orang yang tak bekerja di bawah naungan kekayaan dari juragan Wawan.
itulah kenapa dia sangat santai dan berani menawarkan tanah yang strategis untuk Sari.
toko terlihat ramai, dan ada tamu yang cukup mengejutkan bagi keempatnya.
sepeda motor Mio berwarna hijau itu berhenti di pelataran rumah dari Nanang.
"halo Nanang, halo yang lain juga, aku datang mau bagi undangan nih," kata Adelia yang menunjukkan undangan di tangannya itu.
"heh... siapa yang mau nikah, jangan bilang itu kamu ya?" tanya Nanang.
"tentu saja tidak lah, tak ada pria yang pantas menjadi suamiku,ayo Azila jangan diam saja, bilang dong," kata Adelia menarik temannya itu.
"sepertinya Azila ya yang menikah, selamat ya," kata Fendi.
"ah iya, aku di jodohkan orang tuaku, karena mereka bilang aku makin tua dan sudah waktunya," kata gadis itu.
"kalau begitu selamat ya mbak, kenapa sedih orang nikah itu enak kok, benarkan mas?" kata Sari yang datang memberikan rokok pada suaminya.
Adelia hanya tersenyum melihat Sari, "benarkah, kalau begitu kenapa kalian belum memiliki anak, tanda-tanda saja belum ada, jangan bilang si Nanang adiknya gak berguna," ledek Adelia.
"cocot mu cok, ngawur lek ngomong, kami mah memang mau menikmati semuanya dulu," kata Nanang.
"sudah mbak Adelia dan mbak Azila mau minum apa?" tanya Sari dengan suara terdengar sopan tapi nyatanya tidak begitu.
__ADS_1
"boleh deh minta es teh,lumayan capek nih aku sengaja kirim ke sini terakhir karena mau lihat pengantin baru," kata Adelia yang menyerempet Sari.
tapi Sari hanya tak nyaman dengan Azila, "boleh kok, kalau mbak Azila mau di buatkan air minum dengan mas Nanang, boleh kok," kata Sari.