aku istrimu, bukan pembantumu

aku istrimu, bukan pembantumu
pasangan kejam


__ADS_3

jadi malam itu Nanang, Azila dan bu Wiwit pergi dari kota itu dan mencari tempat baru untuk melanjutkan hidup.


Bu Wiwit sangat kaget saat Azila bilang jika ia hamil anak Nanang, tapi dia bersyukur karena ternyata perkataan dokter salah.


"hei tuan apa yang sedang kau pikirkan, Kenapa aku di cuekin dih," kata Azila dengan manja.


"maaf ya, aku sedang mengingat sesuatu, yang aku lupakan, jadi apa yang di inginkan oleh istriku ini?" tanya Nanang mengusap perut Azila.


"hentikan atau kamu bisa membuatku terpancing," gumam Azila.


"dasar nyonya ini," kata Nanang yang langsung mencumbu wanita itu.


sedang di tempat lain, Sari sedang duduk menikmati suasana malam ini, dia bisa melihat bulan yang bersinar terang di langit malam ini.


"mbak ini kenapa sih kok duduk di tempat seperti ini, dingin tau," kata Tata yang duduk di sebelah kakaknya itu.


"tidak apa-apa, mbak sedang merasa gerah," kata Sari yang tertawa mendengar ucapan adiknya itu.


"kenapa tertawa, aku serius loh," kesal Tata.


"iya maaf ya dek, memang ada apa sih, kok tumben kamu mau menemani mbak seperti ini?"


"sebenarnya Tata mau bilang, mungkin sebentar lagi pacar Tata akan datang melamar," kata gadis itu dengan sedih.


"loh kenapa sedih, bukankah itu bagus, karena dia pria yang bertanggung jawab, tak perlu memikirkan harta yang bisa di cari, asalkan kalian saling mencintai, pasti mbak yakin kalian pasti bisa bahagia."


Tata memeluk mbaknya itu dengan erat, "tapi apa aku tak keterlaluan ya, akan bahagia padahal mbak baru saja bercerai?"


"tak masalah dek, mbak akan bahagia saat melihat mu juga bahagia, lagi pula kamu sudah sial menjadi istri kok," kata sari tersenyum.


saat memeluk sari, tanpa sengaja Tata melihat ada bekas keras yang sedikit memudar di dada kakaknya karena baju tidur sari sedikit longgar.


dia pun melihat sari, "jika mbak mencintai seseorang bukankah mbak juga bisa menikah,"


"tidak semudah itu dek, sudahlah aku tak masalah oke, jadi kamu menikah dan hidup bahagia ya," kata Sari.


akhirnya mereka pun berpisah,sari memilih kembali ke rukonya dan mengunci pintu ruko itu.

__ADS_1


dia pun hanya bisa menangis sendiri di dalam kamarnya, kenapa nasib selalu saja mempermainkannya.


juragan Wawan kembali ke rumah yang pernah di tinggali oleh Adelia, "juragan sudah datang," kata seorang wanita yang memang bertugas membersihkan rumah itu.


"iya bik, ada apa?" tanya juragan Wawan merasa aneh


"anu juragan, saya ingin menunjukkan sesuatu pada juragan, saya menemukan kardus ini tiga hari yang lalu, dan saat saya buka, maaf saya lancang, itu isinya semua barang anak kecil dan barang mbak Adelia yang di pakai saat pergi terakhir kali," kata wanita itu.


"apa..." kata juragan Wawan yang langsung mengeluarkan semua isi di dalam kardus.


"apa ada tulisan atau semacamnya bik?"


"saya kurang tau juragan," jawab wanita itu.


juragan Wawan pun menemukan ada kertas yang terlipat, dia pun mengambil dan membuka kertas itu.


"ayah... aku sebenarnya sudah membawa kotak ini dari lama, maaf aku lupa memberikannya, semoga bisa mengobati rindu ayah, ini ada mainan kesayangan dari Dino, dan juga beberapa barang kesayangan mbak Adelia, mantan menantu mu yang sudah kamu anggap putrimu, Sari."


juragan Wawan pun terduduk lemas, "apa bibik menemukan sesuatu yang lain saat membersihkan rumah ini?"


"iya juragan, di dalam kamar yang juragan tinggal berantakan, saya menemukan sebuah kalung ini, apa Juragan mengenalinya?" tanya wanita itu menunjukkan kalung emas dengan liontin hati berwarna merah.


sedang Sari tidak bisa tidur dengan tenang, dia terus menerus mengingat kejadian buruk itu.


dia yang berniat mengembalikan kardus milik Adelia, mah harus menerima kekerasan oleh orang yang sangat dia percayai.


siang itu Sari datang dengan pakaian yang cukup sopan, dia masuk karena memang pernah di berikan kunci serep oleh Adelia.


"kenapa rumah ini berantakan," gumamnya me aduh kotak itu di meja ruang tengah.


dia juga meletakkan tasnya di sana juga, saat dia mulai berbenah, dia mendengar suara lirih ada yang menangis.


karena rasa penasarannya, sari pun mencari sumber suara dan menemukan sosok ayah mertuanya yang sedang meringkuk di atas ranjang.


Sari kaget saat ayah mertuanya itu membuka mata dan melihatnya, "ayah maaf..." kata sari yang takut di sebut lancang.


saat Sari ingin pergi, juragan Wawan langsung memeluknya erat, dia berontak karena mencium aroma alkohol pada tubuh ayah mertuanya.

__ADS_1


"tolong jangan seperti ini ayah, sadarlah ayah," mohon Sari yang terus berusaha lepas.


tapi permintaannya seperti tak di gubris tenaganya kalah kuat, dan nama yang terus di panggil oleh juragan Wawan adalah Adelia.


"akhirnya kamu datang Adelia... aku sudah sangat merindukan mu.." kata pria itu yang memeluk tubuh Sari.


"ayah... ku mohon sadar jangan seperti ini,aku sari ayah!!" teriak sari yang kaget karena juragan Wawan melemparkan dirinya ke ranjang.


dan akhirnya satu pun tak bisa melawan pria yang sedang dalam pengaruh minuman keras itu.


siang itu dia pun di paksa melayani semua kebutuhan nafsu dari ayah mertuanya.


bahkan sore juga, akhirnya Sari bangun dengan tubuh yang remuk redam, dia tak mengira jika stamina ayah mertuanya begitu mengerikan.


setelah memunguti bajunya yang tercecer di lantai,dia pun bergegas pergi karena tak ingin terus berada di rumah itu.


di dalam mobil, Sari merapikan rambutnya dan juga memoles make-up sedikit agar tak ada orang yang curiga.


tangannya gemetar saat memakai bedak dan lip tint, "tenang sari, jika kamu seperti ini semua orang akan curiga..." kata sari menguatkan dirinya tapi air matanya tak berhenti menetes.


sesampainya di rumah Sari langsung mandi sang berusaha menghilangkan semua bekas yang ada di tubuhnya.


meski bagaimana pun dia menggosoknya, bekas-bekas itu tak mau hilang dari kulitnya.


"tidak!!" kata sari yang terbangun dari tidurnya


dia tak bisa terus seperti ini, Bu Menuk yang mendengar teriakan dari pun melihat putrinya itu.


dia naik ke lantai dua ruko di samping rumahnya, "sari kamu mimpi buruk lagi nduk?"


dia kaget melihat satu yang sudah meringkuk menangis si sudut kamar, Bu Menuk langsung memeluk putrinya itu.


"ibu..." tangisnya sesenggukan.


dia tak bisa menahannya lagi, dia harus jujur pada ibunya, karena bagaimanapun dia tak mau menyimpannya sendiri.


Sari menceritakan semuanya, dan tanpa mereka sadari pak Wasis mendengarnya.

__ADS_1


"apa yang harus aku lakukan, aku tak sanggup melihat dan bertemu ayah Wawan lagi Bu," kata sari yang masih ketakutan.


"kalau begitu pergi dari sini dan tenangkan dirimu, jika kamu sudah siap dan tenang,kembali ke sini,bapak tak marah karena ini bukan kesalahan mu," kata pak Wasis yang mengirim Sari pergi jauh.


__ADS_2