
Suasana di dalam ruangan menjadi hening, setelah mendengar teriakan Daniela.
"Duke, apakah anda yakin ada istri bangsawan yang menjadi korban?" tanya kaisar dengan nada malas.
"Sejauh ini yang saya ketahui baru satu bangsawan yang mau angkat bicara. Jika kita membuat undang-undang kekerasan rumah tangga, mungkin akan ada banyak wanita yang angkat bicara." Jawab Daniela dengan lugas.
"Lady, jangan sembarangan bicara. Selama ini para pria selalu memenuhi kebutuhan para wanita, kehidupan mereka terjamin. Kenapa harus ada peraturan hukum? Yang Mulia, saya rasa lady sudah kehilangan akal sehatnya," kata count Ava yang disambut tawa para bangsawan lainnya.
"Contoh inilah yang saya maksud, Yang Mulia. Saya seorang duke tapi banyak memanggil saya lady, bahkan kaisar sedari awal sudah mengingatkan semua orang di sini tentang kedudukan saya. Apakah para bangsawan sekarang sudah mulai tidak mendengarkan anda?"
Tawa para bangsawan menghilang ketika mendengar kalimat Daniela sekaligus lirikan tajam kaisar.
Daniela sengaja menyinggung rasa bangga kaisar di depan bangsawan lainnya.
"Tidak, Yang Mulia. Kami tidak bermaksud-"
Kaisar angkat tangan untuk menghentikan bangsawan lain bicara. "Teruskan, duke Aelthred."
Masih segar di dalam ingatan Daniela ketika membaca di internet mengenai kasus seorang istri yang menjadi kekejaman egois suaminya, tapi dia juga harus mengerti bahwa di dunia sekarang adalah pria yang berkuasa dan wanita harus tunduk.
Daniela harus pelan-pelan membujuk para bangsawan konservatif lain yang menghargai pernikahan melalui kaisar. Meskipun perselingkuhan sudah menjadi rahasia umum bangsawan, tetap saja dianggap tidak bermoral dan para bangsawan konservatif tidak bisa ikut campur kecuali mendukung tuntutan Daniela, meskipun di awal mereka menertawakan resolusinya karena usia yang masih muda dan dianggap belum berpengalaman.
"Saya hanya tidak ingin ikut campur masalah rumah tangga bangsawan lain, Yang Mulia. Saya hanya ingin membuat kenyamanan dan keamanan untuk para wanita yang sudah menjadi seorang istri."
Kaisar menjadi tertarik. "Hoo-"
Istri. Kaisar jadi ingat dengan permaisuri dan ratunya.
"Duke Aelthred, bisa dijelaskan maksud anda?" tanya Count Eklif. "Sebelumnya saya minta maaf karena bersikap tidak sopan kepada anda."
Count Eklif adalah salah satu bangsawan yang menghargai istrinya, tidak ada wanita lain meskipun anak mereka hanya satu dan seorang anak perempuan.
"Saat ini pihak kuil sedang melindungi seorang wanita bangsawan dan kedua anaknya."
__ADS_1
Count Ava hendak potong perkataan Daniela tapi ditahan teman-temannya. Mereka mulai tertarik dengan isi pembahasan Daniela.
Trik pertama Daniela adalah menunjukan kelemahan tapi juga jangan tunjukan terlalu lemah, tidak semua pria menyukai wanita lemah. Wanita lemah itu membosankan dan wanita kuat itu terlalu malas untuk dilihat, jadi harus berada di tengah-tengah.
"Bangsawan wanita itu selalu datang ke kuil dalam keadaan pakaian tertutup dan tidak menarik minat siapa pun, tapi sayang sekali di mata dunia sosial pakaian selalu dinilai. Saya tidak sengaja melihat luka di lengan dan cepat-cepat ditutupi begitu ketahuan. Akhirnya saya coba dekati dengan bantuan pendeta tinggi Rahul." Daniela menangkup kedua telapak tangan seperti berdoa. Menunjukan kelemahan seorang istri bangsawan.
Maafkan aku, pendeta tinggi Rahul. Nanti aku belikan anggur berkualitas terbaik setelah memenangkan kasus ini, count Ava uangnya banyak, lebih banyak dari duke Vilvred. Batin Daniela.
Daniela membuka mata dan menatap kaisar dengan yakin. "Ada kode etik yang selalu tertanam di dalam benak para istri. Jika ada masalah dengan suami, orang lain tidak boleh tahu. Saya kagum dengan beliau yang selalu bersikukuh mengatakan tidak ada masalah apa pun diantara mereka meskipun sang suami memang memiliki simpanan dan anak haram."
Kekuatan istri mengenai kode etik.
"Karena itu dia hanya bisa menangis dan melarikan diri bersama anak-anaknya."
"Hah! Dari tadi bicara kamu berputar-putar, dari awal memang tidak ada yang namanya kekerasan rumah tangga!"
Daniela memutar kepalanya dan menatap polos count Ava. "Count, dari tadi- kenapa anda yang paling frontal menghina saya? Saya hanya ingin mengajukan peraturan hukum untuk perlindungan istri di kekaisaran ini."
Daniela terbelalak. "Astaga, saya tidak tahu masalah itu. Yah, karena semua orang tahu sebagai mantan tunangan pangeran mahkota, dulu saya hanya pergi ke pesta dan ke kuil pun untuk bertemu para pendeta saja. Saya tidak pernah bertemu dengan countess Ava atau ingatan saya memang salah?"
Sontak semua orang mengingatnya. Countess Ava semenjak menikah memang tidak pernah keluar rumah dan menunjukan wajahnya.
Para bangsawan menatap count Ava dengan penasaran. Apakah yang dikatakan lady itu benar?
Count Ava membantah. "Tidak, kalian semua tahu aku selalu sibuk bekerja di luar. Countess tidak punya waktu pergi ke pesta dan harus mengurus rumah!"
"Wah, count. Semua orang tahu bagaimana kesibukan count, kok. Tidak perlu panik." Daniela tertawa kecil. "Jadi tidak perlu berpikiran aneh-aneh, seperti masalah yang saya bahas sekarang."
Count Ava menatap marah Daniela dan tidak bisa berkata-kata. "Kamu-"
Kaisar menguap bosan. "Lanjutkan."
Daniela mengangguk kecil. "Para pendeta tinggi saat ini mengobati luka di dalam tubuh wanita itu, anda bisa melihatnya di sini."
__ADS_1
Daniela membuka kotak kayu kecil, dan muncul foto-foto seperti layar proyektor. "Saya meminjam kotak ini dari pendeta ag-"
"LADY AELTHRED!" teriak count Ava seperti orang kesetanan.
Semua orang berusaha menahan count supaya tidak menyerang Daniela.
"KAMU BERUSAHA MEMPERMAINKAN AKU! JELAS-JELAS ITU TUBUH ISTRIKU!"
"Count, saya hanya menunjukan bekas luka di tangan dan wajah, hanya kulit memar. Tidak ada tanda khusus istri anda di sana." Daniela mengerutkan kening tidak suka. "Tidak bisakah anda tidak mengganggu saya?"
Kaisar menatap kagum foto-foto itu. "Apakah ini kekuatan ajaib pendeta agung? Selama ini kita hanya bisa mendapatkan gambar dari pelukis, ini bukan buatan pelukis?"
"Tidak, Yang Mulia. Pendeta ag-"
"KAMU BIARKAN TUBUH ISTRIKU DILIHAT PRIA LAIN?!"
Daniela mendecak kesal. "Yang Mulia, tidak bisakah orang ini ditutup mulutnya? Berisik sekali."
Kaisar menjentikkan jarinya dengan malas.
Bangsawan pengikut kaisar sontak menutup mulut count Ava dengan kain.
"Nah, lanjutkan." Kata kaisar.
Daniela mengangguk kecil. "Ini namanya foto, yang saya tunjukan adalah foto memar di tangan dan wajah, masih ada lagi di tubuh lain dan saya tidak berani menunjukannya di depan umum karena tidak sopan, memar di tubuh lain mengindikasikan adanya kekerasan seksual."
"Kekerasan seksual?" tanya kaisar.
"Bagaimana bisa menjadi kekerasan seksual? Bukankah dia seorang istri?" tanya bangsawan muda lainnya.
"Wanita yang tidak pernah menunjukan tubuhnya kepada siapapun, memotong semua komunikasi dengan dalih demi kehormatan keluarga, bertahan tidak mengatakan siapa pelakunya. Menurut semua bangsawan terhormat lainnya di sini, siapa yang paling pantas menjadi pelakunya?" tanya Daniela dengan senyum lebar.
Semua orang di dalam ruangan menatap count Ava dalam diam.
__ADS_1