
"Di wilayah kami, pendeta tinggi menjelaskan bahwa menyakiti diri sendiri itu dilarang."
"Memang benar, ada di ajaran Helcia." Jawab Zuu.
Edrik tidak pernah dekat dengan dewa manapun, hanya belajar sedikit tapi tidak mengimaninya. Lebih suka perang daripada hanya duduk berdoa, canggung rasanya membahas masalah ini.
"Warga di wilayah Fei menganggap tidak boleh memberikan apapun di dalam tubuh, sakit ataupun sehat merupakan jalan bagi dewa."
Edrik terbelalak. "Apakah masih ada orang yang seperti itu? Dulu memang ada tapi bukankah sudah tidak ada lagi? Keras kepala tentang masalah vaksin."
"Ya, bagi mereka vaksin itu hanya buang uang, tidak berguna dan merupakan penghinaan untuk dewa. Meskipun saya sendiri bukan penganut Helcia, tapi rasanya sedih jika anak menjadi korban."
"Apakah ada korbannya? Dia sakit?"
"Ya, kena virus hingga membuat kakinya tidak bisa jalan."
Edrik memijat kening.
"Saya- saya sebenarnya tidak masalah dengan ajaran yang mereka anut, saya juga tidak mau ikut campur. Tapi melihat anak-anak yang menjadi korban karena keras kepala orang tua, saya menjadi sedih."
Zuu mendecak. "Kalau sudah sampai seperti ini memang keterlaluan."
"Para orang tua beranggapan tubuh mereka sehat tanpa harus vaksin apa pun, padahal semakin waktu berputar banyak, pasti muncul penyakit baru. Saya pernah belajar sedikit pada perawat senior, tapi ilmu itu sekarang tidak bisa digunakan di tempat ini."
Edrik memberikan perintah pada Zuu. "Suruh salah satu orang mengikuti wanita ini bersama dokter untuk periksa anak-anak."
"Bagaimana jika kuil tahu perbuatan kita?" Tanya Zuu yang khawatir.
"Aku yang akan menanggungnya, kita tidak bisa diam saja atau menunggu." Jawab Edrik.
"Penyakitnya menular, saya takut anda semua akan tertular." Khawatir pemilik anjing. "Lebih baik serahkan saja pada pendeta agung."
Zuu mengangguk setuju. "Kita tidak mungkin mengambil resiko dengan mengirim satu orang ke sana. Tolong dipikirkan kembali."
"Penyakit tidak bisa ditunggu sesuka hati." Jawab Edrik dengan tenang, meskipun di dalam hatinya sedikit kesal karena ulah pendeta gadungan. "Jika tidak ada yang mau ke sana, aku akan pergi sendiri."
"Tidak!" Teriak Zuu. "Jangan buat saya sakit jantung, anda tetap tidak boleh ke sana tanpa penjagaan ketat."
__ADS_1
"Jika kamu melakukan itu, bukankah akan ketahuan?"
"Saya akan mengirim satu orang yang memiliki daya tahan baik."
Edrik menepuk pelan pundak Zuu. "Terima kasih."
-----------------
Daniela melihat balutan perban di lengan atas di depan cermin, lalu menghela napas. "Apa yang harus aku lakukan?"
Edrik pasti terluka, Daniela tidak bisa sembarangan menghubungi orang itu lagipula jika dilihat dari bekas luka, hanya goresan bagi ksatria macam Edrik.
"Daniela."
Daniela balik badan lalu membungkuk hormat ke ratu yang mendadak datang untuk bertemu dengannya di kuil.
Ratu duduk di sofa dengan angkuh. "Apakah kamu merasa lebih cantik setelah melihat cermin?"
Daniela balik bertanya. "Apakah saya tidak boleh melihat cermin?"
"Sifat kurang ajar kamu- pasti keturunan dari pihak ibu. Seingat aku, Ella yang dididik langsung oleh duke Vilvred, tidak pernah bersikap tidak sopan kepadaku."
"Kamu masih berusia lima belas tahun, belum paham politik ataupun hubungan antar bangsawan. Jangan terlalu cepat memutuskan sebelum menyesal."
Setelah duke Vilvred kembali dari kuil, langsung pergi ke istana ratu untuk menghadapi Daniela. Jika ratu tidak melakukan itu, duke mengancam akan potong aliran dana untuk pangeran mahkota.
Tangan ratu gemetar saat memegang cangkir teh dan berteriak di dalam hati. Sekarang kamu bisa mengancam aku, suatu hari nanti jika pangeran mahkota bisa menjadi kaisar, aku akan menghancurkan kamu, duke Vilvred.
Tadi ayah dan sekarang ratu, apakah mereka bekerja sama? Ah, benar. Bodohnya aku! Tentu saja mereka kerja sama. Batin Daniela. "Ada yang bisa saya bantu? Kebetulan duke tadi datang menemui saya dan langsung pulang."
"Kita langsung ke intinya saja. Karena kamu yang membuat masalah dari awal, bisakah menyelesaikan tanpa melibatkan pihak manapun."
Kedua mata Daniela menyipit. "Anda ingin saya menyelesaikan sendiri?"
"Itu kesalahan kamu, Ella dan putraku tidak perlu dilibatkan."
Daniela tertawa muram. "Saya tidak pernah mencaci, memukul dan menyudutkan pangeran mahkota ataupun Ella, mereka yang mulai dan saya harus bertanggung jawab?"
__ADS_1
"Putraku belum tidur dengan adik kamu, jadi jangan menyebarkan rumor buruk mengenai mereka berdua." Ratu menatap tajam Daniela. "Jangan menceritakan kebohongan, dewa pasti akan menghukum kamu."
"Apakah anda menganggap semua perkataan saya hanyalah omong kosong?" Tanya Daniela.
"Jika kamu tidak bisa melakukannya, aku bisa memakai otoritas kaisar dan ratu untuk memaksa kamu." Ratu mengabaikan pertanyaan Daniela.
"Otoritas apa yang ingin anda tunjukan kepada saya?" tantang Daniela. "Seorang ratu yang hanya mengandalkan hidupnya pada kaisar, pria yang hanya seorang menantu dari kaisar sebelumnya."
Ratu menyiram wajah Daniela dengan teh. "Kamu berani menghina ratu?"
Daniela tidak bergerak, meskipun wajahnya sudah basah dengan teh. "Permaisuri jauh lebih tinggi dari anda, ratu. Saya menghargai dan menghormati anda hanya demi permaisuri."
Ratu tertawa. "Aku juga tidak butuh dukungan dari keluarga duke penghianat!"
"Ah, tentu saja anda tidak butuh. Mantan penari telanjang, tidak akan paham nilai permata sesungguhnya."
Ratu menggeram marah, mengabaikan wajah wibawa yang sudah dilatih selama berada di istana. "Menilai diri sendiri adalah permata, bukankah terlihat sombong."
"Apakah tidak boleh?"
"Tentu saja, sifat sombong bisa membuat hidup hancur, sama seperi yang dialami leluhur Aelthred."
Daniela tidak gentar menghadapi ratu selama permaisuri masih berdiri mendukungnya dan pangeran pertama mampu mengambil tahta dari orang-orang bodoh.
Seharusnya di masa lalu pangeran pertama tidak perlu menunggu pangeran mahkota meninggal untuk mendapatkan tahta, mengalahkan orang-orang serakah yang tidak tahu tempat sangatlah mudah menghancurkan mereka. Batin Daniela. Tapi-
Daniela di masa lalu tidak pernah bisa mengenal dengan baik suaminya, meskipun Daniela jatuh cinta dan berusaha mengejarnya dengan berbagai cara, Daniela masih belum bisa mengenal pangeran pertama.
Di kehidupan sekarang, perlahan Daniela sudah mulai sedikit mengenal pangeran pertama yang menyayangi adiknya sehingga membuat mata dan hatinya tertutup rapat.
Daniela tersenyum. "Hal yang sama berlaku untuk anda, ratu. Bersikap sombong di depan saya tidak ada gunanya."
"Jika pangeran mahkota menjadi kaisar-"
Daniela tersenyum. "Ratu, seperti yang saya tegaskan dari awal, ancaman tidak akan berguna bagi saya. Permaisuri adalah pemilik sah kekaisaran, pangeran pertama adalah putranya. Bukankah terlalu dini untukĀ merasa percaya diri tentang pewaris tahta? Bisakah saya sebut- uhm- anda sedang sombong sekarang?"
"DANIELA AELTHRED!" bentak ratu sambil memukul meja taman. "Apakah kamu ingin dihukum mati?!"
__ADS_1
Daniela tidak peduli dengan bentakan atau intimidasi ratu.