
Peraturan hukum mengenai kekerasan rumah tangga dan kekerasan seksual baik di rumah tangga maupun di luar, telah diresmikan.
Daniela segera memberikan dua dokumen ke Zuu.
Zuu mengerutkan kening tidak mengerti. "Duke, ini-"
"Satunya milik countess dan satunya lagi milik ibuku."
"Apa?"
Daniela menarik napas dalam. "Apakah kamu bisa membantuku juga, Zuu?"
"Selama saya bisa melakukannya, saya akan membantu anda sesuai perintah pangeran pertama."
Daniela paham perkataan Zuu. Berarti pangeran pertama juga harus tahu dengan semua permintaan darinya.
"Tidak masalah, yang penting aku bisa mendapatkannya."
"Apa yang bisa saya bantu, duke?"
"Kamu bisa buka dokumen milikku, di dalamnya ada catatan yang aku inginkan. Tolong lakukan dengan hati-hati."
"Baik." Zuu membungkuk hormat dan pergi dari kediaman Aelthred dengan diam-diam atas bantuan saudara kembarnya, Zoe.
Daniela menghela napas.
Dua hari kemudian, gosip memanas dan orang-orang menjadi gempar. Countess Ava mengajukan cerai dengan meminta harta yang cukup fantastis, bisa dibilang meminta harta lebih dari lima puluh persen harta milik count Ava, dengan bantuan kuil dan kaisar sebagai saksi.
Kaisar sedikit marah tapi tidak bisa berbuat apa pun demi menjalin hubungan baik dengan pihak kuil.
Count Ava berusaha keras bertemu di kuil, bahkan kaisar harus menenangkan count.
Count Ava masih belum puas, hingga menuduh lady Daniela Aelthred berusaha menjebaknya.
Pihak kuil yang mendengar itu, segera melindungi Daniela dan mengeluarkan pernyataan lewat pendeta tinggi Rahul.
__ADS_1
"Dewa tidak akan diam saja melihat umatnya disakiti, pihak kuil juga tidak akan menutup mata melihat seorang wanita lemah memiliki luka yang cukup banyak."
Pernyataan pendeta tinggi Rahul menyatakan bahwa foto luka yang ditunjukan saat rapat bulanan, benar milik countess Ava.
Kaisar semakin tidak bisa membela count Ava.
Pihak pengadilan akhirnya meresmikan perceraian count dan countess dengan alasan count telah melakukan kekerasan rumah tangga dan seksual.
Awalnya rakyat dan beberapa bangsawan muda serta wanita bingung dengan adanya kekerasan rumah tangga dan seksual.
Setelah dijelaskan pendeta tinggi Rahul, semua mengerti dan mulai melapor dengan kekerasan yang dilakukan suami mereka. Mulai dari perselingkuhan sampai mengabaikan anak-anak.
Salah seorang bangsawan wanita tua dan memiliki pikiran kuno, mencemooh peraturan baru yang dibuat permaisuri tersebut di salon.
"Apakah kalian tidak merasa bahwa permaisuri ingin memberontak?"
"Berontak?"
"Permaisuri hanya ingin menginjak kaisar dan membuat contoh jelek untuk kita, kenapa kita harus peduli pada hal yang dilakukannya?"
"Hidup dan mati seorang istri ada di tangan suami, jangan melakukan hal aneh demi martabat suami. Apakah kalian tidak tahu mengenai hal ini?" tanya bangsawan tua dengan tatapan meremehkan para bangsawan muda. "Jika kalian sudah menikah dan menjadi seorang istri, semua yang terjadi di dalam rumah tangga- tidak boleh diketahui pihak luar demi menjaga martabat keluarga."
"Meskipun suami memukul kita tanpa sebab?" Tanya salah satu bangsawan muda.
"Tentu saja. Apakah kalian tidak pernah mendengar perkataan para pendeta untuk selalu menurut pada suami? Jika suami mulai melakukan kekerasan, berarti kesalahan ada pada kalian."
Daniela yang hadir karena mendapat undangan, berdiri dan membalas bangsawan tua itu. "Maaf, sebelumnya jika saya memotong bicara anda. Marchioness."
"Ah, duke muda yang sombong. Saya kira salon ini tidak cocok sebagai tempat bermain anda, apakah anda mulai bosan dengan pertemuanbpara pria?" tanya bangsawan senior dengan nada sarkas dan bibir ditutup dengan kipas, menutup senyum sinis yang tidak sopan.
"Marchioness, saya hanya ingin bertanya satu hal kepada anda."
"Apa itu?"
"Saat ibu saya diabaikan lalu dipukul ayah hanya karena melahirkan saya, di mana anda?"
__ADS_1
"Apa?"
"Saya sudah membaca berbagai macam artikel yang beredar di perpustakaan mengenai pernikahan duchy Vilvred dan pertengkaran antara duke dengan duchess, pasti seru sekali kalian semua mendengarnya bukan?" tanya Daniela. Sebenarnya dia malas mencari berita lama, tapi demi melawan orang-orang yang memiliki pemikiran konyol, dia rela membaca sampai larut malam.
"Lady Daniela, sangat tidak pantas membahas rumah tangga di depan umum." Nasehat marchioness.
Daniela tertawa sinis. "Jika bagi anda tidak pantas, lantas kenapa sedari tadi anda membahas masalah orang lain? Apakah jika keluar dari mulut orang lain, berubah menjadi tidak pantas tapi jika keluar dari mulut sendiri- itu berarti sangat, sangat pantas?"
"LADY DANIELA!" bentak marchioness sambil meletakan cangkir tehnya di atas meja dengan kasar.
"Ibu saya disiksa secara psikologis dan fisik di rumah Vilvred, tidak ada yang menolongnya sama sekali hanya karena dia tidak memiliki latar belakang keluarga. Lantas, apakah orang yang hanya menonton, pantas berkomentar?" tanya Daniela dengan geram. "Saya mendukung peraturan yang dibuat permaisuri supaya tidak ada wanita yang mendapat perlakuan sama dengan ibu dan countess Ava!"
Marchioness menatap Daniela dengan marah. "Lakukan semua hal yang kamu mau, aku tidak bisa ikut campur."
"Anda tahu tidak perlu ikut campur, karena itu jangan berkomentar hal yang bisa menyakiti perasaan orang lain. Anda tidak pantas melakukannya."
"Kurang ajar! Apakah ini didikan yang dilakukan duchess Vilvred sebelumnya?!" teriak marchioness.
Daniela membalas dengan tidak kalah sengit. "Aku tumbuh sebelum ibuku bisa menyelamatkan dirinya sendiri, jika anda ingin menyalahkan masalah pendidikan saya- kenapa tidak menyebut duke Vilvred yang terhormat?!"
"Lady Daniela, tenanglah." Salah satu bangsawan muda menepuk bahu Daniela dan berusaha menenangkannya.
Daniela mengucapkan terima kasih dan tersenyum kecil lalu senyumnya menghilang ketika menatap wanita bangsawan itu. "Wanita selalu salah dan para pria selalu benar, huh? Saya jadi ingat bahwa anda memiliki anak laki-laki, tidak ada perempuan. Saya jadi penasaran, wanita bodoh mana yang bersedia menikah dengan anak-anak anda? Semua orang sudah mendengar pendapat anda yang terlalu bias terhadap pria."
Marchioness menatap sekeliling ruangan dengan panik, anak-anaknya sudah masuk usia nikah dan berusaha mencari pasangan di kesempatan kali ini, tapi tidak disangka Daniela malah mengacaukan semua rencananya.
Para bangsawan muda menatap cemas dan melangkah mundur ketika Daniela bertanya. "Siapa yang mau menikah dengan putra anda?"
Marchioness menatap Daniela dengan marah. "Kamu berusaha menghancurkan masa depan pernikahan anak-anakku?"
"Yang menghancurkannya adalah anda sendiri, pendapat anda adalah racun bagi mereka. Pernikahan itu mengenai dua orang, bukan satu orang. Jika salah satu melakukan kekerasan, bukan pernikahan namanya."
Para lady bangsawan muda saling berbisik takut, sesekali melirik marchioness.
Marchioness mengancam Daniela. "Saya akan beritahu kaisar mengenai perilaku anda, lady Daniela."
__ADS_1
Daniela tertawa kecil. "Satu hal supaya anda bisa dihargai para lady di sini, ingat posisi diri sendiri."