
Kedua tangan Marquess Bill gemetar. Bukan karena marah atau ketakutan tapi bingung karena yang dikatakan Daniela memang benar.
Kedua anaknya sekarang sudah memiliki pendapat yang berbeda, bahkan istrinya pun menangis dan minta tolong untuk menjauh dari permaisuri, lebih baik bersikap netral.
Marquess Bill tidak pernah bisa melakukan itu, yang memberikan keluarganya posisi dan kekayaan adalah kaisar sebelumnya karena loyalitas yang diberikan. Dia tidak bisa menjadi pengkhianat.
Marquess Bill pun tidak bisa menahan anak-anaknya untuk bertemu dengan anggota keluarga cabang lainnya.
"Apa hubungannya anak-anak saya dengan wilayah yang ingin anda tangani?"
"Jadilah pahlawan untuk melindungi pasukan pangeran pertama di wilayah itu."
"Wilayah itu dikuasai Viscount Fei, bagaimana saya bisa ikut campur?"
"Anda penasehat kerajaan dan sekarang diberikan kekuasaan kaisar untuk cek wilayah tanpa persetujuan bangsawan yang berkuasa."
Marquess Bill terbelalak. "Kamu- ingin memanfaatkan celah ini?"
"Ya. Bukan hanya satu atau dua wilayah tapi banyak wilayah, pasti ada masalah di dalamnya. Turunkan anak-anak anda untuk mengatasi masalah di sana sebagai perwakilan anda."
"Jika saya mengeluarkan mereka, siapa yang akan menjamin keselamatan mereka?"
"Tentu saja saya yang akan menjaminnya, anda bisa menuntut saya jika terjadi sesuatu."
Zoe tidak menyangka Daniela akan membuat pertukaran tidak masuk akal. "Tunggu dulu, kenapa jadinya anda-"
"Saat ini yang paling penting adalah nyawa anak-anak di wilayah itu." Sahut Daniela. Namun jauh lebih penting adalah nyawa pangeran pertama yang terjebak di wilayah itu.
Marquess Bill menatap tajam Daniela lalu menghela napas. "Saya tidak mungkin minta jaminan ke anak kecil berusia lima belas tahun, yang bahkan belum mencetak namanya di kekaisaran."
Daniela tersenyum dengan perasaan kesal. "Oh, begitu."
"Karena anda bersedia menjamin diri sendiri, saya bersedia kerja sama."
"Bagus."
__ADS_1
"Anggap saja saya sedang bertaruh, mau pilih mana pun pasti saya akan kena tapi jauh lebih baik melakukan hal yang berguna daripada hanya diam saja di ibukota. Malam ini saya akan mengirim kedua anak saya diam-diam, tentu saja saya ingin ada pengawal dari pihak permaisuri."
"Kenapa permaisuri? Bukankah kaisar akan semakin curiga jika anda tidak menggunakan orang-orangnya?"
"Saya akan membuat alasan ke kaisar, biar bagaimana pun seorang ibu tidak mungkin diam saja mendengar anaknya hilang tanpa jejak. Jika kaisar berusaha menahan orang-orang permaisuri atau mengirim mata-mata, maka namanya akan jelek. Kaisar tidak mau melakukan itu."
Daniela tidak setuju dengan ide gegabah marquess, masalahnya pangeran pertama ada di sana, jika sampai ketahuan kaisar- entah hukuman apa yang akan menanti. "Saya lebih suka jika anak-anak anda datang bersama para ksatria dari rumah anda."
Marquess menggeleng tidak setuju. "Tidak, ksatria saya bukan spesialis perang- saya tidak ingin mengambil resiko jika menyangkut kedua anak saya."
Daniela menjadi bingung, masalahnya pangeran pertama hanya menyisakan Zoe. Jika Zoe pergi menemani dua anak Marquess- bagaimana dengan nasib dirinya?
"Duke?" Tanya Marquess Bill.
Daniela melirik Zoe dan bertanya. "Apakah kamu bisa pergi menjaga anak-anak Marquess sampai ke wilayah Viscount Fei?"
Zoe menggeleng tidak setuju. "Saya ditugaskan menjaga anda, saya tidak bisa sembarangan pergi."
Satu masalah sudah selesai dan sekarang timbul masalah lain, Daniela sedikit kesal dengan situasi yang dihadapinya.
"Bagaimana duke Aelthred?" Tanya Marquess Bill.
"Ya?"
"Jika anda yang berangkat, kaisar tidak mungkin menyentuh anak-anak anda atau mengirim pembunuh bayaran, jika kaisar masih bersikap nekat- hal pertama yang dicurigai permaisuri adalah kaisar."
Raut wajah Marquess Bill berubah keruh lalu menjadi tenang ketika mendapat jawaban. "Benar, kaisar tidak akan bisa menyentuh saya selama masih memiliki token untuk mengawasi wilayah bangsawan dan mencari pangeran pertama."
"Marquess, saya ingat kalau istri anda dulunya seorang dokter."
"Benar, Sasha dulunya dokter. Sekarang juga masih menjadi dokter untuk di dalam rumah saya. Ada apa? Apakah anda membutuhkan dokter?"
Daniela menggelengkan kepala. "Tidak, bawa istri anda juga ke sana. Mungkin akan sedikit berguna, mengingat hanya ada satu dokter di sana."
"Satu? Kemana dokter lainnya?"
__ADS_1
"Saya tidak tahu cerita detailnya. Karena istri anda seorang dokter, pasti memiliki koneksi beberapa dokter atau pelajar yang belajar kedokteran dan tanaman herbal di tempat anda."
"Bagaimana anda tahu?"
Daniela mengetahuinya setelah coba meraba ingatan masa lalu berdasarkan gosip yang di dengar. Rasanya Daniela ingin mengutuk masa lalunya yang tidak berguna karena hanya mengandalkan gosip dan pertemanan tidak berguna daripada menjalin koneksi untuk mengembangkan nama Aelthred.
"Saya hanya menebak, profesi manapun pasti punya banyak koneksi."
Marquess Bill mengangguk paham. "Benar, orang yang cerdas membutuhkan hubungan koneksi- bukan menjalin hubungan yang tidak berguna."
Entah kenapa Daniela merasa disindir pria tua ini. "Hahahaha-"
Zoe memutar bola matanya.
Marquess Bill bangkit dan bahas rencananya ke Daniela. "Saya akan berangkat malam ini bersama istri dan anak-anak, saya juga akan mengirim surat ke kaisar."
Daniela terpana. "Secepat itu?"
"Kita tidak bisa membuang waktu, saya tidak tahu ada masalah apa di sana- tapi setidaknya saya harus melihat dengan mata kepala sendiri jika ingin menjadikan kedua anak saya sebagai pahlawan."
Daniela mengangguk paham. "Ya, jauh lebih bagus seperti itu. Saya juga akan memberikan beberapa saran sebelum kembali ke rumah."
Marquess Bill menaikkan salah satu alisnya.
Di malam hari, kamar kaisar. Salah satu asistennya mengirim surat mendadak Marquess Bill. Setelah membacanya, surat itu diremas dan dibuang ke perapian.
Kaisar menggeram marah. "Pria tua itu memanfaat situasi dengan pergi berlibur, menggelikan. Yah, bukan salahku jika nantinya permaisuri tahu dan marah- atau aku berbaik hati mengirim kabar ini ke permaisuri? Bagaimana menurut kamu?" Tanyanya ke asisten kaisar.
Asisten kaisar yang menunjukkan wajah lelah, hanya bisa menjawab dengan sabar. "Kaisar, saya sudah mengirimkan kabar kepergian Marquess ke permaisuri atas permintaan Marquess."
"Apa?!" Tanya kaisar dengan wajah terkejut. "Apakah dia tidak takut akan dimusuhi permaisuri? Mengajak keluarganya pergi berlibur?"
"Tapi Marquess sudah minta izin ke saya untuk pergi ke wilayah Viscount untuk mencari pangeran pertama. Katanya ada seseorang yang melihat pangeran pertama lewat ke wilayah itu dengan tubuh penuh luka."
Kedua mata kaisar membesar. "Dia terluka? Benarkah?"
__ADS_1
Kaisar bahagia mendengar pangeran pertama terluka, kalaupun mati juga tidak akan menjadi masalah. Pangeran pertama adalah titik sakitnya karena bersedia menikah dengan anak kaisar.
Meskipun dirinya berhasil mendapat kedudukan kaisar, tetap saja memalukan bagi pria- bahkan ada sekelompok bangsawan yang menertawakan dirinya karena menjadi menantu bawaan.