AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
LIMA PULUH SATU


__ADS_3

Kaisar merasa ketakutan setiap melihat kedua mata arogan putranya, ciri khas keluarga kerajaan yang bisa melahap isi hati setiap orang. Warna mata akan berubah merah setiap marah lalu biru muda seperti air jika hatinya sedih.


Semua orang di kekaisaran telah melupakan keunikan mata anggota keluarga kekaisaran yang sesungguhnya.


Hal inilah yang membuat kaisar mati-matian menjaga permaisuri meskipun ratu sempat marah karena cemburu.


Meskipun Edrik adalah darah dagingnya setelah dia mati-matian minta tes darah lewat kuil, tetap saja kaisar merasa takut.


Edrik tidak hanya memiliki mata yang menjadi ciri khas, tapi juga wajah yang sama dengan sang kakek. Seolah kaisar sebelumnya bereinkarnasi dan menuntut pembalasan.


"Aku tidak bisa membiarkan anak itu lama-lama di istana, aku harus memastikan apakah dia masih hidup. Jika masih hidup, aku akan mengirim dia kembali ke medan perang dan mengamankan posisi pangeran mahkota." Gumam kaisar dengan ketakutan. Benar, aku sudah menggenggam erat dunia di tangan. Tidak akan kubiarkan keturunan kaisar yang sudah menghancurkan hidupku, mengambilnya lagi.


Kaisar tidak tahu, Daniela sudah memperhitungkannya.


"Pangeran pertama kembali atau tidak, kaisar tetap tidak akan suka kehadirannya. Jika kembali dalam keadaan hidup, dia akan mengirimnya ke medan perang lagi dengan alasan pertahanan atau apalah tapi jika pangeran pertama kembali dalam keadaan mati, dia akan bahagia." Cerita Daniela ke Zoe, begitu tiba dari rumah.


Marquess Bill sudah menyadari fakta itu, dia tidak punya pilihan selain mencari pangeran pertama, untuk menyelamatkan keluarganya.


"Marquess mati-matian melindungi keluarganya, namun melindungi dengan hanya menggunakan satu tenaga itu percuma. Marquess diserang dari berbagai sudut, dia tidak akan bisa melindungi keluarganya sendirian."


"Marquess punya istri yang cerdas dan anak-anak yang juga mampu berpikir bijak, tapi kenapa anda berpikir mereka bertiga akan mengkhianati Marquess?"


"Seperti yang aku bilang di awal, manusia jika sudah tersudut akan memilih dua pilihan. Menyerah atau terus berjuang sampai mati. Untuk seseorang yang sering berhadapan dengan nyawa hidup dan mati seseorang, Marchioness pasti lebih memilih hidup untuk anak-anaknya, dan dengan rasa cinta yang besar- dia tidak ingin juga kehilangan suaminya.


"Satu-satunya cara terbaik untuk mereka adalah menyerah dan berdiri di pihak kaisar. Wanita selalu mengambil keputusan dengan perasaan, tidak dengan logika.


"Jika kita diam saja dan tidak menyelamatkan salah satu bangsawan terbaik untuk pangeran pertama, kita akan kehilangan mereka."


Zoe menatap kagum Daniela. "Duke, anda berpikir cerdas- saya tidak menyangka anda bisa berpikir sejauh itu."


Daniela membusungkan dadanya dengan bangga, meskipun melalui cara curang. Setidaknya ada yang mengakui kecerdasannya.


"Pangeran pertama memang hebat dalam memilih orang, tidak saya sangka bisa menemukan otak pintar di anak perempuan berusia lima belas tahun."


Daniela kesal mendengar kesan buta Zoe dan naik ke atas. "Menyebalkan!"

__ADS_1


Zoe menatap bingung Daniela sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hm? Kenapa dia tiba-tiba seperti itu?"


Keesokan harinya, berita mengenai kepergian Marquess Bill bersama istri dan kedua anaknya menimbulkan kegemparan di kekaisaran.


"Apakah dia berusaha kabur dari kaisar setelah mendapat tekanan?"


"Mencari pangeran yang hilang bagaikan jarum yang hilang di tumpukan jerami, pangeran pertama sangat ahli bersembunyi."


"Marquess tidak mungkin kabur begitu saja dengan membawa keluarganya, dia merupakan penasehat kerajaan. Apa yang ada di dalam pikirannya?"


"Sudah aku bilang, Marquess kabur karena terlalu banyak tekanan dan mulai menyerah. Sebentar lagi dia akan mendapatkan hukuman dari kaisar karena tidak menemukan pangeran pertama."


"Aku merasa tidak seperti itu."


Tidak hanya di antara bangsawan, permaisuri pun terpaksa dikelabui Marquess Bill.


"Tidak ada kabar dari Marquess, apakah dia mencoba kabur dari kekaisaran?" Tanya permaisuri pada dayangnya.


"Saya rasa bukan seperti itu, Yang Mulia."


"Yang Mulia, sebaiknya anda tidak ikut campur. Posisi Marquess sangat rentan karena tekanan kaisar."


"Aku tahu, makanya aku tidak menghubungi dia selama putraku menghilang."


Permaisuri menanggapi kepergian Marquess Bill dengan tenang, pihak kaisar yang tadinya ingin melihat reaksi panik permaisuri karena ditinggalkan, menjadi kecewa setelah mendengar sikap tenangnya.


Kaisar yang mendapat laporan itu, mengabaikannya. Dia jauh lebih tertarik menunggu kabar kematian pangeran pertama daripada kesedihan permaisuri.


Ella yang mendengar kabar kepergian penasehat kerajaan yang hebat, pergi menemui pangeran mahkota di akademi. "Apakah anda sudah mendengarnya pangeran?"


"Ya."


"Apakah posisi penasehat kerajaan sekarang kosong?"


"Tidak, Marquess Bill masih mengisi tempat itu meskipun pergi jauh. Dia mendapat perintah dari ayahku, ada apa?"

__ADS_1


Tadinya Ella ingin memberikan rekomendasi saudara sepupunya dari pihak ibu sebagai penasehat kerajaan, dia melupakan rencana itu begitu mendengar jawaban dari pangeran mahkota. "Tidak, hanya bertanya. Aku cemas karena posisi mendadak kosong."


"Tidak perlu cemas, sebentar lagi mereka akan dihukum mati karena pengkhianatan."


"Eh?"


"Marquess Bill tidak bisa menemukan kakak dalam waktu yang ditentukan ayahku, lalu sekarang dia pergi bersama keluargany- bukankah ayahku akan semakin marah."


Ella merinding jika melihat kaisar marah. "Saya tidak bisa membayangkan kaisar marah, pangeran mahkota harus selalu di sisi kaisar untuk menenangkannya."


"Tentu saja! Aku harus ada di sisi kaisar." Kata pangeran mahkota. "Ngomong-ngomong kenapa kamu datang ke sini?"


"Ah, aku hanya bertanya soal posisi penasehat kerajaan sih."


Pangeran mahkota menaikkan salah satu alisnya. "Apakah kamu punya rekomendasi yang lebih baik?"


Ella hendak menjawab tapi mendadak diam, instingnya mendadak merasakan hal buruk jika mengutarakan pemikirannya. "Tidak, hanya bertanya."


Pangeran mahkota mengangguk puas. "Ibuku selalu mengatakan, wanita dilarang ikut campur urusan politik. Kamu lebih bijak dari Daniela yang sok tahu itu, padahal saat berhadapan dengan duke Vilvred hanya diam ketakutan."


Diam-diam Ella menghela napas lega.


"Mengenai tes kesucian, ayah sudah mendapat pendeta tinggi yang akan bekerja sama dengan kita. Dia terkenal menjunjung tinggi keadilan mengenai hubungan di luar nikah, jadi orang-orang tidak akan meragukannya."


Ella menggigit bibirnya dengan cemas. "Benarkah? Sekarang ada di mana pendeta tinggi itu?"


"Masih di wilayah Fei, sebentar lagi dia akan berangkat ke ibukota dengan pengawalan ketat dari ibu."


"Kaisar?"


"Jika kaisar melakukan itu, akan menimbulkan kecurigaan karena masih diawasi kuil pusat. Jadi, lebih baik ibu turun tangan bersama dengan Duke Vilvred."


Ella mengangguk singkat lalu menatap pangeran mahkota dengan tatapan menyedihkan. "Maaf, saya tidak tahu ada peraturan seperti itu sebelum menikah."


"Justru aku yang minta maaf karena minim pengetahuan, kamu sudah membuktikan cinta sejati terhadapku. Jika ada yang berusaha melawan- aku dan ratu akan maju melindungi kamu." Kata pangeran mahkota sambil memeluk Ella dengan erat.

__ADS_1


Ella mengangguk di dalam pelukan pangeran pertama.


__ADS_2