AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
TIGA PULUH EMPAT


__ADS_3

Daniela dan pendeta tinggi Rahul mendengarkan dengan seksama penjelasan Andi mengenai agama yang dianut dan diajarkan ayah kandungnya sebagai pendeta tinggi kuil.


Tidak ada boleh kejahatan, wanita yang melanggar aturan yang ditetapkan harus mendapat hukuman mati, bahkan jika wanita itu adalah keluarganya sendiri, lalu hewan yang dianggap kotor.


Daniela bertanya dengan hati-hati. "Untuk memiliki agama, setahu aku yang diwajibkan adalah memiliki akal, bukan?"


Pendeta tinggi Rahul mengangguk. Hanya manusia yang memiliki pikiran sehat bisa menjalankan kewajiban ibadah atau menjalankan agama yang dianut, berbeda jika manusia tersebut tidak memiliki akal atau gila, lalu hewan yang hanya mengandalkan insting."


"Sekarang kita bahas tentang hewan dulu," kata Daniela. Menurutnya, membahas hewan adalah yang paling mudah karena termasuk golongan makhluk tidak memiliki akal dan hidupnya sering diremehkan manusia. Baik di kehidupan kuno maupun modern.


"Menurut Andi, hewan memiliki akal?"


"Tentu saja tidak, bagaimana mereka bisa memiliki akal? Jika mereka punya itu, sangat menakutkan. Mereka akan menjadi monster. Lagipula ada beberapa hewan yang bisa digunakan untuk manusia."


Daniela mengangguk paham. "Ah, jika hewan ini tidak menguntungkan bagi manusia, maka pantas disiksa atau dibunuh?"


"Mereka mengotori tempat suci dan orang-orang."


Ada satu hal yang membuat Daniela menjadi rancu di kehidupan modern. Sebenarnya tidak masalah jika ada larangan memakan atau menyentuh hewan tertentu jika dilarang dalam aturan agama, tapi masalahnya mereka menyakiti atau menyiksa hewan dengan menggunakan agama.


Apakah hal itu ada di ajaran agama? Tentu saja tidak! Tidak ada agama apapun yang menyuruh manusia menyiksa makhluk hidup lain. Lalu kenapa ada manusia yang berani melakukan hal itu? Tentu saja peran dari pemuka agama lebih penting, seperti petinggi kuil sekarang.


Secara psikologis, manusia yang suka menyiksa hewan merupakan bakal dari psikopat, tidak punya rasa empati atau simpati terhadap manusia sesamanya.


Daniela ingat di kehidupan modern saat bekerja di suatu tempat, bertemu dengan salah satu teman kerja yang kesal dengan tikus karena menghancurkan barang-barang di tempat kerja lalu menangkap dengan lem tikus dan menyiksanya dengan dalih hama boleh dibunuh, ingat dibunuh ya- bukan disiksa.


Hal sama juga terjadi pada Andi yang beranggapan, hewan manapun yang merugikan atau dianggap hama, boleh disiksa. Jika mereka ditanamkan pikiran seperti ini, lambat laun akan berubah menjadi manusia yang sudah merugikan kehidupan mereka dan agama, pantas mati.


Psikologis inilah yang sering diabaikan negara berkembang atau negara miskin.


Daniela juga tidak bisa menyalahkan rakyat yang memiliki pemikiran seperti ini karena tidak ada yang membimbing mereka. Manusia yang memiliki pendidikan rendah dan hanya memikirkan kerja, tidak mau memikirkan hal rumit.


Daniela menghela napas. "Bagaimana jika hewan-hewan ini tidak sengaja masuk ke dalam kuil?"


"Hukum dan bunuh mereka." Jawab Andi dengan kebencian meluap.

__ADS_1


"Bagaimana jika pihak kuil justru menghentikan tindakan kamu?" tanya Daniela.


Sorot mata kebencian Andi berubah menjadi takut. "Untuk apa kuil mencari aku? Apakah mereka ingin menghukum aku?"


"Apakah kamu ingin dihukum?"


"Buat apa aku hidup jika dibenci dewa?"


"Kamu ingin meninggalkan dunia ini, apakah kamu menyesal telah melukai saudara kamu?"


Andi tertawa seperti orang gila. "Bagaimana bisa aku menyesal? Dia sudah menghina dewa dan menghancurkan kehormatan ayah sebagai pendeta tinggi. Dia menjual tubuhnya untuk pria dengan alasan bertahan hidup, hah! Mana ada yang seperti itu?"


"Jadi, meskipun keluarga sendiri- kamu akan beranggapan yang salah pantas mati? Lalu, apakah yang kamu maksud adalah martabat dewa atau martabat ayah kandung?"


"Apa?"


"Apakah pendeta tinggi atau kamu bisa mendengar perkataan semua perkataan dewa? Dewa menginginkan kematian untuk pengikutnya, dewa menginginkan kehancuran untuk siapa pun yang menyinggung martabatnya?"


"Apakah kamu buta?! Di dalam ajaran ada, semua hal sudah masuk di dalam buku kitab. Apakah kamu tidak bisa membaca dengan benar?!"


Andi merangkak untuk menyerang Daniela tapi terpental karena kekuatan pelindung pendeta tinggi Rahul.


Andi yang tidak terima menjerit. "DEWA TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN ORANG-ORANG YANG MENGHINANYA!"


Daniela bangkit dan mengajak pendeta tinggi Rahul untuk keluar dari tempat itu.


Sebelum menutup pintu, Daniela memberikan nasehat ke Andi. "Kamu tidak akan bisa mati di dalam kuil, jika kamu mati, darah kamu akan mengotori kuil. Kamu tidak ingin itu terjadi bukan? Mati sebagai aib."


Andi menggigil ketakutan begitu mendengar ancaman Daniela lalu menutup dua telinga dengan dua tangan dan berteriak sekuat tenaga.


"AAAAAAAA!!!!!"


Pendeta tinggi Rahul mengikuti Daniela yang sudah berjalan lebih dulu. "Lady, apakah sudah selesai?"


Daniela menjawab. "Bicara dengan orang itu tidak akan ada habisnya, panggil pendeta lain dan periksa tubuhnya."

__ADS_1


"Eh? Kenapa?"


Daniela balik badan dan menatap tegas pendeta tinggi Rahul. "Dia punya prinsip, mati di jalan Dewa akan mendapatkan tempat tertentu atau menjadikan dia pengikut dewa yang hebat. Karena itu dia tidak akan takut mati, itulah kesimpulan saya."


Mulut pendeta tinggi Rahul menganga lebar dan segera lari menemui pendeta yang memiliki kekuatan penyembuh dan pelacak.


Daniela berdoa, semoga apa yang ada di dalam pikirannya salah.


--------------


"Penganut agama ekstrim?" tanya permaisuri ketika mendapat informasi dari dayang seniornya. "Apakah dia berbahaya?"


"Saat ini pihak kuil sedang menahannya dan pangeran pertama pergi ke wilayah tempat penganut agama ekstrim."


Permaisuri menaikan salah satu alisnya. "Bukankah ini sangat berbahaya? Tapi, juga menarik."


"Permaisuri!"


"Jika kaisar mendengar setelah kuil menyelesaikan semuanya dengan baik, siapa yang akan disalahkan? Kaisar bukan? Masyarakat akan berbalik menyerang sang kaisar, aku tidak sabar melihatnya."


"Yang Mulia, tolong jaga pikiran anda. Ini masih di istana."


"Ini istana permaisuri, bukan kaisar. Apa yang harus ditakutkan?" Tanya permaisuri dengan nada polos. "Apakah dia mengirim mata-mata ke tempat kita lagi?"


"Tidak, para pendeta tinggi sudah memberikan perlindungan di tempat ini. Anda tidak perlu khawatir, tapi juga harus berhati-hati."


Permaisuri hanya bisa memasang senyum menyedihkan. "Terkadang hidup ini terlalu tidak adil untuk dijalani atau memang ada orang bodoh yang memilih jalan itu?"


"Permaisuri, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri."


"Yah, apapun jalan yang aku pilih- tetap harus dilewati dengan tenang, beritahu aku jika ada berita tentang putraku dan Daniela selanjutnya, aku berharap mendengar berita bagus dari hubungan mereka."


"Baik, permaisuri." Dayang senior membungkuk rendah dan pergi meninggalkan kamar permaisuri.


Permaisuri menghela napas.

__ADS_1


__ADS_2