
Daniela tertawa ketika mendengat para tetua ingin bersikap baik kepadanya. "Apa yang ada di pikiran mereka? Minta maaf? Sekarang?"
Satu hal yang Daniela pahami. Kemungkinan besar mereka ingin berhubungan baik setelah posisi pangeran mahkota sudah kosong. Pangeran kedua yang didukung mati-matian malah mengecewakan pihak kuil dan pernikahannya pun diadakan sederhana, padahal saat ini Ella satu-satunya putri Duke.
"Apakah Duke tahu mengenai mahkota yang dipinjamkan kepadaku?" Tanya Daniela dengan hati-hati.
"Duke tahu."
"Apakah kamu tahu reaksinya?" Tanya Daniela sambil mengeluarkan satu koin emas ke pelayan Vilvred.
Pelayan Vilvred menerima dengan senang hati dan menjawab pertanyaan Daniela. "Saya mendengar gosip sedikit kalau duke tidak peduli dan hanya fokus menemani duchess."
Daniela mengangkat salah satu alis. Memang sudah menjadi sifat Duke dengan buta terhadap istrinya sendiri. Tidak aneh jika mendengarnya dari orang lain. "Aku tidak akan menerima mahkota Vilvred, aku tahu tujuan para tetua hanya untuk membuat Ella kesal dan Duke Vilvred menyesal. Hanya saja dua orang ini memiliki sifat dari keturunan yang sama, sehingga aku tidak mau menambah resiko lain."
"Ta- tapi, kedua tetua bersikeras supaya anda memakainya. Jika anda tidak menerimanya, saya akan dihukum. Saya mohon bantuannya, Yang Mulia." Pelayan berlutut di kaki Daniela untuk memohon.
Daniela tidak ingin memakai mahkota keluarga Vilvred. Mahkota Aelthred sudah diselamatkan oleh permaisuri dan dijaga ketat di istana, hanya saja keluarga Aelthred saat ini tinggal nama dan wilayah yang bangkrut. Jika memaksakan diri, maka akan menjadi kecaman publik karena duke miskin masih mampu memakai mahkota mahal.
Mungkin, satu-satunya cara adalah meminjam mahkota kerajaan supaya dirinya tidak memakai mahkota keluarga Vilvred. Apakah permaisuri mau meminjamkannya?
"Aku-"
Di saat Daniela bingung, salah seorang dayang kepercayaan permaisuri datang dan membawa kotak di tangannya, di belakang ada dua ksatria kepercayaan permaisuri.
"Duke Aelthred.'
Daniela dan pelayan Vilvred menoleh bersamaan ke sumber suara.
"Duke, permaisuri ingin anda memakai mahkota milik permaisuri untuk mewakili posisi permaisuri dan pangeran pertama."
Daniela menaikkan salah satu alisnya dan langsung mengerti maksud permaisuri. "Apakah ini- lamaran pernikahan?"
Dayang tersenyum karena Daniela cepat paham. "Pangeran pertama membutuhkan wanita secerdas anda, pendeta agung sudah menjadi wali sehingga anda tidak perlu khawatir mengenai pernikahan."
Pelayan Vilvred menjadi panik. "A- apa? Pendeta agung menjadi wali lady Daniela? Kenapa bisa? Duke Vilvred adalah ayah kandungnya."
"Sepertinya Duke tidak cerita kepada tetua, kamu sampaikan saja ke tetua mengenai hal ini. Aku tidak akan memakai mahkota keluarga Vilvred, aku hanya memakai mahkota yang diberikan permaisuri." Daniela mendekati dayang tersebut. "Terima kasih sudah mengantar mahkota ini."
__ADS_1
"Sama-sama, duke."
Daniela dan orang-orang kepercayaan permaisuri berjalan meninggalkan pelayan keluarga Vilvred.
Pelayan itu bergegas pergi ke duchy dan segera melapor. Dua tetua yang terkejut, segera pergi ke kamar Duchess dengan suara menggelegar, tidak peduli tentang sakitnya Duchess.
"KAMI SUDAH MENDENGARNYA, APAKAH KAMU SUDAH GILA?!"
"Bagaimana bisa duke Vilvred melakukan kegilaan seperti itu?!"
Duchess yang baru bangun dari pingsannya dan dibantu minum oleh Duke, menatap tidak mengerti sang suami. "Ada apa?"
Duke tidak suka dengan situasi yang dihadapinya. "Pendeta agung sudah minta izin ke permaisuri, bagaimana bisa aku menolaknya?"
"DUKE!" Jerit salah satu tetua. "Aku akan mengadukan hal ini ke ayah kamu! Bagaimana bisa kamu melakukan hal kejam seperti itu?!"
Duchess bertanya pada Duke. "Kenapa tiba-tiba pendeta agung menjadi wali Daniela? Apakah anda tidak bersikeras? Anda ayah kandungnya 'kan?"
"Aku memang ayah kandung dia tapi dia sudah punya jalan sendiri, aku tidak bisa melarangnya." Jawab Duke Vilvred sambil meletakkan gelas di atas nakas. "Tetua, tolong hormati keputusan yang lebih muda."
"Daniela adalah keturunan murni bangsawan! Bagaimana bisa duke lebih memilih batu daripada permata?!"
Duchess memegang dadanya dan menjadi sakit hati karena Ella dihina. "Tetua, saya juga melahirkan Javier. Bahkan anak itu dibesarkan langsung oleh ayah di wilayah supaya bisa menjadi penerus. Bagaimana bisa anda berkata hal yang menyakitkan?"
Duke Vilvred menatap tajam kedua tetua. "Tetua, apakah anda tidak bisa menghargai istriku?"
"Hah! Aku tahu kamu berusaha supaya duchess sebelumnya tidak punya anak. Untung duchess sebelumnya cerdik sehingga berhasil melahirkan anak secantik Daniela lalu kamu selalu mengupayakan yang terbaik untuk Duchess sekarang supaya melahirkan anak laki-laki dan membungkam kami semua. Apakah kami terlihat bodoh di mata Duke?"
Duke Vilvred tidak bisa berkomentar banyak.
"Kami diam saja karena Duke bisa memiliki Javier, tapi kami tidak akan diam jika Duke mengacaukan rencana kami, para tetua."
Duke Vilvred menatap tajam kedua tetua. "Kalian semua yang melakukan kesalahan, kenapa aku yang harus menanggung?"
"Karena kedudukan pewaris, makanya kami berharap padamu, Duke. Seandainya Duke tidak bisa melakukan keinginan kami dari awal, kami akan mencabut posisi pewaris."
Duke Vilvred tidak suka situasi ini, dia masih butuh obat mahal untuk kekasih tercintanya.
__ADS_1
"Kami juga tahu Duke Vilvred memakai harta milik Aelthred untuk menyenangkan Duchess sekarang dan anak-anaknya dengan tidak tahu malu, tapi tidak kami sangka kalau Duke malah mengabaikan anak dari keturunan Alethred."
"Kami sangat kecewa, Duke."
Duke Vilvred menggenggam erat kedua tangan istrinya.
"Jika Duke tidak bisa membawa Dania ke wilayah Vilvred, turunkan posisi wanita pelayan itu sebagai Duchess dan kami akan mencarikan bangsawan sepadan untuk Duchess Vilvred."
"Kami tidak akan mendapatkan gosip dan penghinaan, Duke."
Duke Vilvred tidak menjawab.
Kedua tetua keluar dari kamar dan melempar tatapan jijik ke Duchess.
"Sebaiknya wanita menjijikan seperti kamu berhenti bermimpi menjadi bangsawan."
"Uang Vilvred tidak digunakan untuk pelacur seperti kamu!"
Hati Duchess sakit mendengarnya, dia menangis di dalam pelukan Duke. Tidak ingin kehilangan pria yang paling dicintainya.
"Duke-"
"Tenang, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, kamu tetap Duchess Vilvred."
Saat Duchess sedih mendengar ancaman dari kedua tetua dan Duke berusaha mencari jalan keluar, Daniela menatap takjub dirinya yang dirias di depan cermin.
"Apakah ini aku?"
Daniela memakai gaun serba berwarna putih serta lambang kekaisaran di bagian dada. "Kenapa aku memakai lambang kekaisaran? Apakah tidak masalah?"
"Gaun ini sebenarnya milik permaisuri saat berusia dua belas tahun."
Senyum Daniela memudar. "Gaun ini? Apakah ini gaun untuk anak kecil?"
"Permaisuri mempertimbangkan bagian dada dan anda juga terlalu kurus untuk anak berusia lima belas tahun, sepertinya Duke Vilvred tidak menjaga anda dengan baik."
Akhirnya Daniela mengerti kenapa permaisuri memilih gaun miliknya saat berusia dua belas tahun di samping Daniela yang terlihat kekurangan gizi.
__ADS_1