
Kaisar terpana karena permaisuri tidak pernah mengizinkan putra mahkota mendekati permaisuri, sekedar memberikan salam pun diabaikan.
Kaisar menganggap ini adalah protes dari permaisuri karena cemburu, seiring berjalannya waktu, kaisar menyadari bahwa permaisuri tidak pernah peduli pada anak orang lain. Yang permaisuri pedulikan hanyalah Edrik, anak kandungnya sendiri.
Bahkan saat permaisuri mengandung anak lain setelah Edrik, selalu keguguran, kaisar menjadi khawatir waktu itu. Namun-
Ratu tidak suka dengan ide permaisuri lalu memohon kepada kaisar. "Yang Mulia, seorang anak tidak bisa dipisahkan dari ibunya. Permaisuri tidak bisa melakukan ini kepada saya."
Kaisar tidak menjawab, hanya menatap punggung permaisuri yang berjalan menjauh lalu teringat dengan gaun yang dipakai permaisuri saat ini. "Ternyata tidak hanya kaki yang terbuka tapi punggung juga? Apa yang ada di pikiran permaisuri?"
Ratu menjerit marah. "KAISAR!"
Kaisar menatap dingin ratu. "Diam!"
Ratu sontak terdiam dan menggigil ketakutan ketika melihat wajah dingin kaisar.
"Aku lebih suka melihat wanita penurut, jangan coba menginjak aku- ratu."
--------
Pendeta tinggi Rou menjadi panik ketika semua alat sihir komunikasi tidak bisa digunakan. "Bagaimana caranya aku menghubungi ratu? Kenapa di saat penting malah tidak ada yang bisa dihubungi?"
Pendeta tinggi Rou mondar-mandir di dalam kamarnya. Bagaimana jika ratu menuntut aku? Kenapa tidak ada komunikasi dari ratu? Kenapa tidak ada yang coba menghubungiku?
Pendeta tinggi Rou teringat dengan putranya yang tiba-tiba menghilang setelah kematian kakaknya. Dia pergi keluar dari kamar dan mencari para pendeta muda.
Pendeta tinggi Rou berteriak memanggil para pendeta di bawah asuhannya, tidak ada yang menanggapi.
Pendeta tinggi Rou semakin marah dan menendang pintu yang dia lewati untuk mencari mereka.
"Kemana mereka? Kenapa tidak ada yang mendengar panggilan aku?!"
Pendeta tinggi Rou semakin marah lalu masuk ke ruang doa dan melihat sosok yang membuat dia terkejut.
Punggung seorang pria yang tinggi kira-kira hampir 190cm, tubuhnya ditempa dengan medan perang selama bertahun-tahun lalu menatap patung dewa.
Pendeta tinggi Rou terjungkal ke depan ketika merasakan ada tangan yang mendorong dirinya.
Pintu ditutup dengan keras hingga menimbulkan bunyi Bam!
Pendeta tinggi Rou tidak berani bangun, dia merasa ingin pingsan.
"Pendeta tinggi Rou."
__ADS_1
Napas pendeta tinggi Rou tersengal ketika namanya disebut. "Pa- pangeran pertama."
"Hm? Apakah kamu mengenal aku?"
"Ba- bagaimana bisa saya tidak mengenal anda?"
Edrik masih menatap patung dewa yamg tinggi dan besar, di atas kepala dewa atapnya terbuka. "Aku penasaran, jika hujan- patung ini bisa basah."
"Kuil ini sudah dibangun dan dibentuk sebelum saya datang, jadi saya biarkan saja posisinya seperti di awal." Pendeta tinggi Rou mengubah posisinya dengan berlutut dan menundukkan kepala. "Pangeran pertama, apa yang membuat anda datang kemari? Bukankah ada gosip anda hilang?"
"Apakah kamu lebih suka aku menghilang?"
"Ti- tidak! Mana mungkin saya memiliki pemikiran buruk seperti itu." Geleng pendeta tinggi Rou.
Edrik berbalik dan melihat pendeta tinggi Rou berlutut dan tidak berani menatap dirinya. "Apakah pendeta tinggi selalu bersikap seperti ini? Bukankah kamu khotbah dengan berapi-api lalu menyalahkan orang lain yang bagi kamu telah melakukan dosa."
"Yang Mulia, anda salah paham. Tidak mungkin saya melakukan tindakan keji seperti itu."
"Ho- jadi kamu sudah menyadari bahwa tindakan yang selama ini dilakukan sangat keji?" Tanya Edrik sambil menginjak paha kanan pendeta tinggi Rou sekuat tenaga. "Pendeta tinggi, apakah kamu tidak takut pada dewa?"
"Saya hanya menyampaikan dan melakukan tindakan sesuai kehendak dewa. Tolong, jangan campur aduk masalah politik dengan agama Helcia kami." Pendeta tinggi Rou mencoba berkelit. "Saya melakukan yang terbaik supaya rakyat tidak kesulitan, saya juga membantu anda menenangkan rakyat dan melawan kejahatan wilayah di saat anda pergi berperang."
Edrik menatap jijik pendeta tinggi Rou. "Memangnya kamu siapa, sampai turun tangan melawan kejahatan?"
Kaki Edrik semakin menekan kaki pendeta tinggi Rou. "Aku dengar kamu menginginkan posisi pendeta agung."
"Saya tidak berani, Yang Mulia."
Edrik menekan kembali kakinya ke paha pendeta tinggi Rou.
Pendeta tinggi Rou teriak kesakitan. "Yang Mulia! Jika anda menyakiti saya- kuil tidak akan meneri- argh!"
"Kamu pikir aku akan peduli dengan tindakan pihak kuil? Aku, seorang pangeran pertama?" Tawa Edrik.
Pendeta tinggi Rou memang tahu sosok pangeran pertama, namun dia hanya tahu sifat pangeran pertama dari gosip yang di dengarnya.
Pangeran pertama selalu menuruti perintah permaisuri.
Pangeran pertama yang dibenci kaisar.
Pangeran pertama yang pergi perang, mengambil alih posisi adiknya.
Pangeran pertama yang merelakan posisinya sebagai pangeran mahkota dan diberikan ke adiknya.
__ADS_1
Lalu kenapa- kenapa pangeran mahkota yang dia hadapi sekarang memiliki sifat kejam seperti ini?
"Pangeran mahkota, saya minta maaf jika membuat anda tersinggung. Namun, tolong jangan sakiti saya- saya baru kehilangan dua anak. Putri saya meninggal karena sakit lalu putra saya menghilang karena tidak terima kakak perempuannya meninggal," isak pendeta tinggi Rou. Dia menangis bukan karena anak-anaknya tidak ada, melainkan kakinya yang diinjak sekuat tenaga oleh pangeran pertama.
Edrik menatap pendeta tinggi Rou dengan tatapan kebencian. "Pendeta."
Pendeta tinggi Rou terisak lagi.
"Apakah pendeta tidak takut berbohong di depan patung dewa Helcia?"
Jika Edrik tidak melihat langsung kelakuan Andi saat di ibu kota, mungkin dirinya akan percaya dengan tangis menyedihkan pendeta tinggi Rou.
Jantung pendeta tinggi Rou berdebar kencang. "Pa- pangeran pertama, saya tidak paham maksud anda."
"Kamu tidak paham atau-"
Kedua mata pendeta tinggi Rou bergetar. Instingnya mengatakan jika tidak bicara jujur, dia akan mati hari ini juga. "Tu- tunggu! Putra saya memang melarikan diri dari wilayah karena kakak perempuannya meninggal."
"Bagaimana kakaknya meninggal?"
"I- itu-"
"Lupakan tentang kisah tidak penting putri kamu itu, kamu- ada di pihak ratu, bukan? Apakah ratu menjanjikan kedudukan pendeta agung?"
Pendeta tinggi Rou tidak berani menjawab tapi juga tidak berani berkelit.
"Apakah saat ini kamu lupa memiliki mulut untuk bicara, pendeta tinggi Rou?"
Pendeta tinggi Rou tidak mau semua tindakannya diketahui pangeran pertama. Pangeran pertama terkenal suka menyiksa musuh-musuhnya. Dia hendak menggigit lidah untuk bunuh diri, namun pangeran pertama bergerak lebih cepat.
Mana berwarna hitam pekat mengelilingi mulut pendeta tinggi Rou supaya tidak menggigit lidah.
"Hmp! Hmp!"
Edrik bangkit dan menarik rambut pendeta tinggi Rou.
Pendeta tinggi Rou berusaha memberontak tapi sia-sia, kekuatan Edrik jauh lebih tinggi.
Edrik membuka kedua pintu secara kasar dan melihat Zuu berdiri di depan pintu.
Zuu membungkuk.
Edrik melempar pendeta tinggi Rou tepat di kaki Zuu, seolah tubuh pendeta itu hanya boneka. "Awasi dia!" Perintahnya.
__ADS_1