
Pria yang diselamatkan Zoe dan Edrik, keras kepala ingin bunuh diri sehingga Zoe terpaksa membuatnya pingsan.
"Anda tidak akan marah saya melakukan ini bukan?" tanya Zoe sambil mengangkat pria itu seperti karung beras.
Edrik berdiri dan menepuk celananya dari debu. "Ayo, kita kembali ke kuil. Sepertinya dia butuh pencerahan dari para pendeta dan kuil."
Setibanya di kuil, Edrik dan Zoe meletakan pria itu di ruang khusus pasien yang disediakan pendeta tinggi Rohan.
"Pria ini-"
"Apakah anda mengenalnya, pendeta?" tanya Edrik.
"Di mana anda menemukannya?" tanya pendeta tinggi Rohan.
"Dia akan bunuh diri di jembatan dekat kuil, sepertinya dia depresi karena berkali-kali menyebut dewa membencinya."
"Sepertinya saya harus panggil pendeta agung, bisakah anda menunggunya sebentar? Saya takut dia kabur."
"Baik, aku tunggu."
"Terima kasih." Ucap pendeta tinggi Rohan lalu berlari ke tempat pendeta agung.
Zoe dan Edrik menunggunya dengan sabar.
Sementara di duchy Vilvred, Ella menemui ayahnya yang sedang duduk melamun di ruang kerja.
Ella mengetuk pintu yang terbuka. "Ayah."
Duke Vilvred tersadar dari lamunan dan melihat putri kesayangannya datang. "Ella, ada apa?"
Ella melihat wajah ayahnya yang terlihat menua hanya dalam waktu kurang dari seminggu karena ulah Daniela. "Ayah, apakah tempat kita akan bangkrut."
Duke Vilvred menghela napas panjang begitu mendengar pertanyaan putrinya. "Ayah tidak tahu, tapi tenanglah- duchy kita tidak akan hancur."
"Ayah, aku sudah bicara dengan pangeran mahkota. Dia tidak akan memutuskan pertunangan kami, ayah bisa tenang."
Duke Vilvred menghela napas lega. "Senang mendengarnya, ayah khawatir karena kaisar sangat mementingkan kekuasaan. Jika terjadi sesuatu pada keluarga kita, ayah-"
"Ayah, bagaimana dengan tempat kakak?"
"Kenapa dengan dia?"
"Ayah mengirim orang untuk mengawasi tempat itu, tidakkah ayah melihat keanehan di dalam rumah?"
"Tidak, sayangnya tidak. Hanya Daniela yang keluar masuk rumah itu."
"Apakah orang suruhan ayah bisa masuk ke dalam rumah itu selama kakak tidak ada di rumah?"
__ADS_1
"Tidak, ayah tidak bisa melakukannya."
"Kenapa?"
"Meskipun dari dalam tidak ada gerakan, di luar gerbang ada para pengawal suruhan permaisuri untuk melindungi Daniela. Ayah tidak bisa bertindak sembarangan."
"Begitu ya."
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu bertanya? Apakah ada yang aneh dengannya?"
"Tidak, aku hanya penasaran. Kelihatannya kakak hidup damai, lalu penasaran buat apa semua harta yang dia ambil, termasuk kompensasi."
"Ayah tidak tahu, berusaha mencari tahu pun permaisuri melindunginya. Menyebalkan."
"Jadi, sekarang kita tidak punya uang banyak?"
"Ayah sedang menanamkan bisnis ke tempat lain, hanya saja pendapatannya tidak sebanyak dulu. Tanah dan properti milik keluarga Aelthred pun sudah diambilnya, Daniela memang serakah seperti ibunya."
"Ayah, tidak bisakah kerja sama dengan kakak?"
"Kerja sama?"
"Ya, ayah menawarkan diri untuk membantu mengelola dengan imbalan beberapa persen. Kakak masih berusia lima belas tahun dan tidak tahu apa pun, jadi ayah bisa muncul dan membantunya."
Dahi duke Vilvred berkerut tidak setuju.
"Selain itu, jika ayah bisa mengambil kesan baik di mata permaisuri, bukankah akan semakin menguntungkan keluarga kita?"
"Ya, ayah sendiri yang bilang- begitu ayah bicara, kakak tidak bisa membalas. Sepertinya kakak masih memikirkan posisi ayah."
Duke Vilvred tertawa. "Benar, putriku memang cerdas."
Ella tersenyum.
Kembali ke kuil, pendeta agung yang memakai topeng burung hantu sudah datang ke ruang pasien yang untungnya hanya ada satu orang yaitu pria yang berusaha bunuh diri.
"Ini-"
Pendeta tinggi Rohan mengangguk. "Benar, dia anak dari pendeta tinggi Rou."
Edrik mengerutkan kening tidak percaya. "Apakah pendeta kuil boleh menikah? Bukankah mereka tidak boleh menikah?"
Pendeta tinggi Rohan mengibaskan tangan dengan santai. "Jika pendeta muda, mereka tidak boleh menikah karena masih dalam pendidikan. Jika ada yang melanggar, diusir dari kuil. Untuk pendeta tinggi dan pendeta agung, diizinkan menikah tapi harus memiliki satu istri seumur hidup."
Zoe tidak percaya dengan pendengarannya. "Lalu kenapa banyak dari pendeta tinggi yang terlihat belum menikah?"
"Ah, itu karena kami lebih mengutamakan dewa dan kegiatan sosial sehingga tidak punya kesempatan untuk mencari pasangan, lebih tepatnya sudah nyaman dengan pekerjaan sekarang." Tawa pendeta tinggi Rohan.
__ADS_1
Pendeta agung tiba-tiba bicara. "Kamu sudah bangun?"
Pria itu bangun dan melihat kanan-kiri. "Di mana ini?"
"Kuil utama kekaisaran Helcia, anda baik-baik saja?" tanya pendeta tinggi Rohan. "Nama kamu- Andi, bukan?"
"A- anda tahu nama saya?" tanya Andi.
"Tentu saja saya tahu, ayah anda adalah pendeta tinggi Rou. Kenapa anda datang ke kekaisaran? Apakah ada urusan?"
Andi menggelengkan kepala. "Saya telah melakukan dosa besar yang tidak bisa dimaafkan, bahkan dewa pun enggan."
"Dari mana anda tahu dewa tidak akan memaafkan sebelum mencoba?" tanya pendeta tinggi Rohan.
"Ayah yang bilang, katanya tidak ada tempat untuk anak pembangkang seperti saya. Saya harus mati."
Edrik bertanya. "Kejahatan apa yang kamu lakukan sampai dewa dan pendeta tinggi marah?"
Andi menundukkan kepala, tidak mau menjawab.
"Bagaimana dengan kakak perempuan kamu? Di mana dia?" tanya pendeta agung.
Andi menggenggam erat selimut. "Kakak sudah tidak ada di dunia ini."
"Kenapa? Apakah dia sakit?" tanya Edrik.
"Ayah membunuhnya." Jawab Andi dengan nada gemetar. "Saya- saya disuruh ayah, ikut membunuh kakak."
"Kenapa kamu menurutinya?" tanya Edrik.
"Apa yang bisa saya lakukan? Saya hanya bisa patuh dengan perintah ayah, jika saya tidak patuh, dewa akan marah." Balas Andi dengan nada gemetar. "Kakak juga salah, jika kakak tidak berbuat kesalahan- nyawa kakak tidak akan hilang begitu saja."
"Kamu-"
Zoe berusaha menahan Edrik. "Tolong tenangkan diri anda."
"Kamu disuruh membunuh orang karena ayah tapi kamu juga takut dengan dewa? Bukankah dewa sangat membenci pembunuhan?"
"Ta- tapi jika dibiarkan, dosa kakak akan mengalir terus ke ayah. Ini masalah kehormatan keluarga." Jawab Andi.
"Lalu kenapa kamu sampai bunuh diri jauh-jauh ke tempat ini?" tanya pendeta agung.
Andi kembali menundukkan kepala, tidak menjawab.
Edrik yang sudah kembali tenang, menawarkan diri ke pendeta agung. "Bagaimana jika aku yang interogasi dia? Aku kesal melihatnya diam terus-terusan!"
Pendeta tinggi Rohan menolak keras. "Ini masalah kuil, anda tidak bisa ikut campur. Terima kasih sudah menolongnya, anda bisa kembali."
__ADS_1
Zoe menarik Edrik keluar dari ruangan. "Pangeran pertama, tolong tenangkan emosi anda. Anak itu masih terlihat muda, wajar menuruti perintah ayahnya."
Edrik tahu anak seusia Andi yang masih sekitar belasan tahun, tidak bisa memutuskan sendiri, hanya bisa didampingi orang tua. Tapi masalahnya tidak semua orang dewasa pantas menjadi orang tua.