
Pendeta tinggi Rohan menepuk kening. Penjelasan pendeta tinggi Rahul semakin memperkeruh suasana. Dia juga lupa kalau pendeta tinggi Rahul juga tidak terlalu menyukai Kaisar, kebencian semakin meningkat ketika bersama duke Aelthred yang malang.
Rohan maju selangkah untuk menjelaskan. "Yang Mulia, maafkan kedua pendeta kuil kami. Selama ini kami hanya berinteraksi di dalam kuil sehingga tidak bisa menjelaskan dengan baik."
"Kami hanya bicara jujur." Celetuk pendeta tinggi Rahul.
Pendeta tinggi Rohan tersenyum sambil menginjak kaki pendeta tinggi Rahul, tanpa menoleh ke belakang.
Pendeta tinggi Rahul berusaha menahan teriakannya.
Pendeta tinggi Rohan memberikan perintah ke pendeta muda untuk menunjukkan sebuah batu di atas nampan.
Kaisar mengerutkan kening tidak mengerti. "Batu? Batu apa ini?"
Batu itu berwarna cokelat gelap, sesuai dengan warna mata kaisar. Warna batu itu tidak gemerlap atau terlihat mewah seperti batu berharga lainnya.
Pendeta agung dan pendeta tinggi Rahul mengerutkan kening ketika melihat batu berwarna cokelat yang sudah diasah dengan baik. Bukankah batu itu terlihat tidak terlalu berharga?
"Namanya batu akik, Yang Mulia." Jawab pendeta tinggi Rohan.
Kedua mata kaisar melebar. "Batu akik? Aku baru pertama kali dengar. Apakah ini batu berharga?"
Pendeta agung akhirnya mulai mengerti tujuan pendeta tinggi Rohan lalu bertanya pada pendeta tinggi Rahul dengan suara kecil. "Apa yang akan dilakukan Rohan? Apakah dia ingin menipu kaisar?"
Pendeta tinggi Rahul juga tidak begitu mengerti. "Entah."
Pendeta tinggi Rohan tidak peduli dengan pertanyaan dua pendeta di belakangnya. "Batu akik ini terbuat dari magma pegunungan. Batu akik dipercaya sebagai sumber keberanian, perlindungan, penyembuhan, serta memberikan efek menenangkan. Apakah anda tahu pasukan Pangeran Pertama menggunakan batu ini?"
Kedua mata kaisar terbelalak tidak percaya. "Benarkah? Benarkah pasukannya menggunakan batu ini?"
Kerutan dahi pendeta agung dan pendeta tinggi Rahul semakin dalam. Hah?
"Benar, Yang Mulia Kaisar. Anda bisa mencobanya, tapi batu ini bukan untuk disembah. Hanya untuk menampung doa kita ke dewa, anggap saja seperti jimat."
Para bangsawan yang hadir semakin bingung, pendeta tinggi yang notabene hanya percaya pada dewa sekarang memberikan kepercayaan untuk sebuah batu?
Kaisar mengangguk puas. "Baik, anggap saja aku tidak mendengar perkataan yang menyinggung tadi."
"Oh, rupanya dia bisa tersinggung." Celetuk pendeta agung.
__ADS_1
Pendeta tinggi Rahul menjauhkan kakinya dari pendeta tinggi Rohan.
"Nah, kita masih bisa bekerja sama dengan baik, bukan?" Kaisar melebarkan tangan untuk memeluk pendeta agung.
Pendeta agung yang tubuhnya lebih tinggi dari kaisar, menegang.
"Kita pasti akan bisa menjalankan kerja sama dengan baik." Tawa kaisar. "Nah, pendeta agung. Berkati kaisar ini dengan baik."
Hanya pendeta tinggi Rohan dan Rahul yang tahu tatapan jijik pendeta agung ke kaisar.
"Bisa saya mulai?" Tanya pendeta agung.
"Tentu saja." Kaisar kembali duduk di singgasananya, pendeta mengikuti dari belakang lalu memberikan berkat, membelakangi orang-orang yang melihat proses.
Pendeta agung mulai berdoa, dan muncul cahaya di tangan kaisar.
Agenda hari ini adalah membahas kerja sama sekaligus mendoakan kaisar untuk keselamatan kekaisaran di masa depan. Tapi agenda pertama adalah pendeta agung mendoakan kaisar terlebih dahulu.
Semua orang melihat proses dengan berdebar. Selama ini kaisar tidak terlalu menyukai kuil karena cenderung mendukung permaisuri meskipun tidak menunjukkan secara terang-terangan.
Sekarang kaisar didoakan oleh pendeta agung.
Pendeta agung segera menyingkir.
Kaisar menatap orang itu dengan tatapan tidak suka. "Ada apa? Apa kamu tidak melihat kami sibuk?"
Orang itu menggigil ketakutan lalu berlutut. "Yang Mulia, saat ini rakyat sedang terkena wabah!"
Semua orang di dalam ruangan terkejut. "Wabah?"
"Yang Mulia, tolong, tolong berikan perintah ke kuil untuk menolong rakyat yang terkena wabah."
Pendeta agung mendengus tidak senang.
Wajah kaisar juga terlihat tidak baik, jika kali ini pendeta diberikan panggung- maka pihak kuil akan mendapat keuntungan dan mencari gara-gara. "Tidak!" Perintahnya dengan tegas.
Pendeta tinggi Rahul dan Rohan sudah menduga jawaban kaisar.
"Apakah kamu gila? Tugas pendeta kuil cukup banyak dan tidak harus diberikan tugas berat, cukup turunkan dokter atau petugas kesehatan lain untuk melihat kondisi mereka."
__ADS_1
Dari luar, kaisar terlihat membela pihak kuil namun sebagian orang mengerti maksud kaisar yang tidak ingin pihak kuil ikut campur.
Pendeta agung bertanya ke kaisar. "Itu berarti kuil tidak boleh ikut campur menangani rakyat yang terkena wabah?"
Kaisar mengangguk. "Ya, pendeta agung cukup duduk di kuil dan berbincang pada dewa."
Pendeta tinggi Rohan menahan pendeta tinggi Rahul yang hampir maju untuk menantang kaisar karena telah menghina pendeta agung.
Pendeta agung mengangguk lalu turun dari tangga singgasana. "Baik, anggap saja kali ini kerja sama dan niat baik antara pihak kuil dan kekaisaran tidak ada, saya harap di masa depan kita bisa bekerja sama dengan baik. Pihak kuil juga akan menutup pintu."
Pendeta tinggi Rohan dan Rahul terlihat tidak setuju, tindakan pendeta agung terlalu jauh.
Kaisar tertawa mengejek, kali ini harus dirinya yang bisa menjadi pahlawan. "Benar, pihak kuil tidak bisa ikut campur masalah kesehatan orang lain."
"Saya minta tanda tangan atas perintah anda, Yang Mulia. Kami sangat menghormati semua keputusan Anda."
Kaisar mendengus lalu mengambil pena bulu dan kertas yang diberikan bawahannya untuk membuat surat perintah.
Para pendeta menunggu dengan sabar.
Setelah selesai ditulis tangan oleh kaisar secara langsung, bawahannya bergegas lari menuju pendeta agung dan memberikan surat perintah itu.
Pendeta agung memeriksa dan mengangguk puas. "Perintah ini sangat detail dan saya akan menerimanya dengan senang hati, saya tidak akan mengganggu pihak Kaisar."
Kaisar mengangguk puas lalu teringat dengan hadiahnya. "Batu itu-"
Pendeta agung menyuruh pendeta muda memberikan batu itu ke bawahan kaisar. "Tentu saja kami tidak bisa mengambil hadiah yang ditujukan untuk Yang Mulia."
Kaisar puas karena semua orang mulai tunduk pada perintahnya.
Melihat wajah puas dan sombong kaisar, pendeta tinggi Rahul mendengus pelan. Orang serakah memang tidak bisa menutupi keserakahannya.
Pendeta tinggi Rohan kali ini tidak mengucapkan apa pun. Kaisar sudah bertindak keterlaluan di saat pertemuan penting untuk masa depan kekaisaran.
Kaisar berjalan keluar dari ruangan setelah memberikan perintah mengirim obat dan dokter untuk tempat yang terkena wabah. Namun, tiba-tiba ada salah satu bangsawan yang teringat dengan perintah kaisar sebelumnya dan berkata dengan gugup.
"Bu- bukankah para dokter yang berkompeten berasal dari wilayah Marquess Bill? Aku dengar Marquess membawa semua dokternya keluar dari wilayah atas persetujuan kaisar."
Sayangnya kaisar tidak mendengar perkataan bangsawan itu.
__ADS_1