
Marchioness pergi tanpa pamit lalu mengadu kepada suaminya. Tentu saja, sang suami tidak akan pernah mendengarkan dan justru menyuruh istrinya minta maaf ke duke Aelthred.
"Duke Aelthred adalah pendukung permaisuri dan pihak kuil meskipun terlihat netral, membantu permaisuri dan pihak duke. Sebaiknya kamu jaga mulut lemak itu supaya tidak bicara hal yang merugikan keluarga atau aku mengusir kamu ke wilayah!"
"Tapi lady Daniela sudah bertindak keterlaluan dengan menghina aku, istri kamu!"
"Lebih baik dia menghina kamu daripada dia membuat keluarga kita habis!" teriak marquess dengan frustasi. "Kamu tidak lihat bagaimana dia berusaha melawan para bangsawan senior lainnya!"
"Suamiku- jangan berlebihan, dia hanya anak kecil berusia lima belas tahun yang tidak tahu apa pun."
"Hah! Itu sebabnya kenapa aku benci pada wanita yang hanya bisa bersolek! Kamu tidak akan paham apa yang ditakutkan para pria."
Marchioness masih belum paham dengan peringatan suaminya. "Kalau begitu, aku harus minta maaf kepadanya? Kenapa? Dia lebih muda dariku dan sudah bersikap tidak sopan."
"Setidaknya dia memiliki kedudukan duke di usia muda daripada kamu yang hanya marchioness."
"Apakah kamu sedang menghinaku?"
"Aku hanya membicarakan fakta. Jangan melakukan apa pun yang merugikan keluarga, atau aku mengusir kamu keluar dari rumah!"
Marchioness semakin kesal dengan ancaman suaminya dan tidak mau mengerti, dia pergi ke tempat anak sulungnya dan menangis karena diperlakukan buruk oleh duke Aelthred.
Sikap putranya tidak jauh berbeda dengan sang ayah.
"Apakah ibu ingin menghancurkan masa depanku?"
"Ibu hanya ingin mengeluh dan tidak ada yang bisa diajak bicara."
"Apakah ibu tahu gosip mengenai duke muda Aelthred?"
"Apa?"
"Banyak yang bilang, kalau duke muda dilindungi pasukan dari pangeran pertama."
"Pangeran pertama hilang dan tidak ada kabar, bagaimana bisa pasukannya melindungi anak berusia lima belas tahun yang sombong?"
"Ibu, kita tidak bisa mengabaikan gosip ini. Pasukan pangeran pertama tidak sebanding dengan nama keluarga kita, lebih baik hapus air mata dan lupakan perlakuannya kepada ibu."
Marchioness kecewa dengan sikap putranya. "Kenapa kamu juga bela dia? Dia hanya anak kecil berusia lima belas tahun yang keras kepala dan hobi bermain-main."
"Jika ibu tidak ingin kehilangan gelar, tolong dengarkan ayah dan aku."
__ADS_1
Marchioness masih tidak paham apa yang dikatakan putranya, tapi dia akan menuruti semua permintaan sang putra.
Satu minggu kemudian, marchioness paham apa yang dikatakan suami dan putranya setelah mendengar gosip panas yang dilakukan duke muda Aelthred.
Di salon, lady Vilvred mengeluh karena kakaknya merampok harta keluarga Vilvred.
"Bukankah yang diambil adalah perhiasan milik duchess sebelumnya?"
"Aku dengar duchess sekarang hanya anak dari kepala pelayan yang merupakan teman masa kecil duke sekarang."
"Sepertinya lady Daniela memang tidak ingin setengah mengambil harta keluarga ibunya."
"Bukankah sebelumnya sudah diambil?"
"Tidak, duke menyembunyikan perhiasan duchess sebelumnya dan diberikan pada duchess sekarang lalu diakui sebagai harta keluarga."
"Astaga, mengerikan sekali. Lantas bagaimana bisa lady Daniela berhasil mengambilnya?"
"Itu-"
----------
"Countess Ava, ini dokumennya. Kaisar dan permaisuri sudah setuju dengan kasus perceraian anda dan count Ava harus membayar sejumlah uang sebagai denda sekaligus tunjangan kepada anda."
Hal yang tidak pernah dibayangkan countess seumur hidup.
"Saat ini anda sudah bukan lagi countess, jadi saya harus memanggil anda sebagai-"
"Lili. Panggil saja saya Lili."
Zuu tersenyum. "Anda saat ini sudah merasa lebih baik?"
"Sebelumnya saya pikir seumur hidup akan selalu di bawah bayang count, menghadapi semua siksaan demi anak-anak, tidak saya sangka bisa cerai semudah ini."
"Sebenarnya sangat sulit untuk bercerai, mengingat pernikahan anda telah direstui kaisar dan kuil. Tapi kami sudah menunjukan banyak bukti kekerasan yang dilakukan count terhadap anda, mau tidak mau kaisar harus setuju dengan cepat setelah didesak pihak kuil."
Lili terbelalak. "Kuil ikut membantu? Bukankah itu berarti akan membuat kontra dengan kaisar?"
"Nyonya, anda selalu rajin donasi dan doa di kuil. Tidak mungkin kuil diam saja melihat anda kesulitan, mereka melakukan hal yang tepat. Hati lebih diutamakan daripada politik."
"Ah, begitu. Saya minta maaf sudah berpikiran buruk."
__ADS_1
"Tidak apa."
"Mengenai lady Daniela, kenapa saya tidak melihatnya dari tadi? Bukankah kami harus bertemu sekarang?"
"Ah, lady saat ini sedang sibuk. Anda bisa pergi dulu."
"Tapi perjanjiannya-"
"Tenang saja, saya sudah memotong pembagian harta. Anda bisa lihat dulu di dokumen yang saya berikan."
Lili menggeleng. "Tidak, saya percaya dengan kalian semua. Terima kasih sudah membantu saya selama ini."
"Ya."
Lili bangkit dari sofa dan pergi bersama putrinya, naik ke kereta yang dibelinya secara mendadak.
Zoe yang berdiri di belakang Zuu dan sempat menjaga serta mengawal Lili, bertanya. "Kenapa dia memutuskan keluar dari kekaisaran? Apakah dia sudah beli rumah di tujuannya?"
Zuu melambaikan tangan ketika dua anak perempuan Lili pamit dari dalam kereta. "Dia keluar dari kekaisaran supaya tidak dikejar count dan para pengikut lainnya. Mungkin dia akan membelinya setelah tiba ke tujuannya."
Zoe mendecak kesal. "Jika saja count bisa bersikap lebih baik terhadap istri dan anak-anaknya, mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini."
"Pada dasarnya budaya patriaki sudah mengakar di masyarakat kita. Menganggap pria adalah segalanya dan menganggap remeh wanita, dibalut dengan budaya dan agama. Sulit untuk melepasnya, harus ada contoh yang berani baru lainnya sadar dan berusaha lepas."
Zoe menghela napas. "Sekarang countess Ava- tidak, Lili. Memberikan contoh yang baik untuk para bangsawan wanita."
"Yah, begitulah." Zuu meregangkan badan. "Kita sudah mendapatkan banyak uang dari lady, beberapa hari ke depan tidak perlu khawatir dengan perawatan kuda dan lainnya. Kalau ada masalah, segera hubungi aku. Aku tidak mau merepotkan kuil lagi."
"Tunggu, kamu akan menggunakan uang yang diberikan untuk lady Daniela?"
"Ya." Angguk Zuu tanpa merasa bersalah. "Lady sudah memberikan perintah kepadaku."
"Lalu bagaimana dengan kondisi dia sendiri? Bukankah harusnya dia renovasi rumahnya sekarang?" Tanya Zoe dengan nada heran.
"Aku tidak perlu mengulang hal sama, dari awal uang yang didapatkan lady memang untuk pasukan pangeran pertama. Lady tahu, seiring berjalannya waktu, uang untuk militer akan dikurangi kaisar perlahan. Jadi, kita harus siap sedia di masa depan."
"Benarkah? Apakah dia peramal atau penyihir?"
Zuu masuk ke dalam rumah, diikuti Zoe dengan langkah yang heboh.
"Kenapa kamu tidak menjawab? Apakah ingin merahasiakan semuanya sendirian? Bukankah itu curang?"
__ADS_1
Zuu malas menanggapi saudara kembarnya.