
"Lady, terima kasih. Berkat anda, saya dan anak-anak merasa aman sekarang."
"Ratu sudah mengumumkan peresmian hukum tentang kekerasan, anda bisa mengajukan cerai setelahnya melalui saya."
Countess Ava menatap dalam Daniela yang duduk di sampingnya. "Saya penasaran, apakah selama ini duke Vilvred tidak pernah menjaga lady dan duchess sebelumnya dengan baik?"
"Eh?"
"Anda bersikeras mengajukan hukum terlepas usia masih muda dengan nekad di hadapan bangsawan lain, ini tidak mungkin hanya soal harta saja bukan?"
Daniela menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan canggung. Gimana ya? Faktanya memang uang yang aku pikirkan hahahaha-
Daniela tahu tidak bisa berkata jujur, dan juga tidak ingin mengingat kenangan yang menyakitkan. "Sebenarnya duke tidak terlalu kasar pada saya dan duchess sebelumnya, dia hanya berusaha menghindari kami seolah penyakit menular. Kami sendiri juga tidak bisa menyalahkan posisinya tapi juga merasa tidak adil, pernikahan politik jatuhnya selalu tidak adil bagi wanita. Karena itu hanya ini yang bisa saya pikirkan untuk menebus kesalahan masa lalu."
"Menebus kesalahan masa lalu?"
"Saya masih terlalu kecil untuk paham arti kekerasan, yang saya tahu hanya kelahiran saya tidak diharapkan. Seberapa besar saya berusaha, ayah tidak akan pernah peduli pada saya dan saat saya melihat kondisi anda, saya jadi memikirkan nasib saya di masa lalu."
Countess Ava tersenyum sedih. "Benar, kami menikah karena politik. Count tidak benar-benar mencintai saya, dia hanya menurut perintah orang tua. Anak penurut memang sangat dibanggakan orang tua, tapi mereka bisa menyakiti orang lain. Dari dulu saya selalu mengharapkan anak-anak perempuan saya tidak menjadi anak penurut seperti ayahnya, pembangkang jauh lebih baik supaya tidak menyakiti orang lain."
"Countess-"
"Sayangnya ternyata anak-anak saya menjadi anak penurut semua, tidak berani membantah perkataan ayahnya."
"Apakah anda tidak pernah bertanya perasaan anak-anak anda?"
"Apa?"
"Anak anda memang masih dianggap kecil, tapi tidakkah anda bertanya apa yang mereka inginkan? Mungkin saja mereka tidak ingin menjadi anak penurut seperti yang anda pikirkan."
Countess Ava memikirkan perkataan Daniela sampai malam dan mencoba bertanya kepada dua anak perempuannya, sebelum mereka tidur.
"Jika ibu berpisah dari ayah, apakah kalian tidak masalah?" tanya countess Ava yang berusaha memberanikan dan mempersiapkan diri kemungkinan semua jawaban anak-anaknya.
"Tidak apa."
"Justru itu yang kami inginkan."
__ADS_1
"Kalian tidak marah? Kita akan kehilangan banyak hal dan tidak bisa tinggal di tempat mewah lagi."
"Apa bedanya dengan tidak ada ibu di sana?"
"Di sana dingin, tidak ada yang bisa diharapkan."
"Ayah juga tidak peduli pada kami."
"Kami bertahan demi ibu."
"Karena ibu mencintai ayah."
Kedua mata countess Ava berkaca-kaca. Selama ini ternyata bukan dirinya yang bertahan demi anak-anak tapi justru mereka yang bertahan demi ibu.
"Jika kami menikah secara politik juga sesuai kehendak ayah, siapa yang menjaga ibu? Makanya kami bertahan di tempat itu supaya ibu bisa tenang."
"Jika kami keluar dari tempat itu, kami tidak perlu menikah politik dan bisa melakukan apa yang kami sukai."
Countess Ava tidak bisa berkata-kata.
"Ah, kami mendapat undangan pesta ulang tahun ayah. Ibu, kami tidak ingin hadir."
"Ayah tidak pernah mencintai kami, kami tidak mau hadir."
"Kapan ibu akan mengajukan cerai?"
"Sebentar lagi." Jawab countess Ava.
"Ibu sudah memiliki kami berdua, meskipun kita semua perempuan- kita bisa saling melindungi."
"Tidak perlu berharap pada ayah yang sudah memunggungi kita bertahun-tahun."
Countess Ava tidak tahu, bagaimana bisa anak-anaknya memiliki pola pikir seperti ini. Mereka berdua memang marah pada ayahnya tapi alih-alih balas dendam, mereka pilih menjauh dan hidup damai, tidak meributkan harta ayah mereka. Tidak satupun anak-anaknya menyebut gaun atau perhiasan, mereka hanya menyebut masa depan.
Terkadang hal inilah yang dilupakan seorang ibu. Ibu yang tidak pernah terjun dunia masyarakat karena anggapan wanita tidak perlu berpendidikan tinggi atau bekerja, harus bersandar pada suami dan keluarga, melupakan perasaan demi anak-anak dan masa depan tapi mereka tidak pernah bertanya apa yang diinginkan anak-anaknya.
Tidak semua anak ingin melihat salah satu anggota keluarganya menderita dan ditinggalkan begitu saja.
__ADS_1
Dan itulah yang dirasakan Daniela sekarang ketika melihat langit malam di rumahnya.
Aku merindukan ibu, apakah ibu sudah bahagia di atas sana? Aku reinkarnasi karena keegoisan dewa, seharusnya aku sudah bahagia bersama ibu di sana.
"Daniela, kenapa kamu ada di sini? Kenapa tidak masuk ke dalam?"
"Aku hanya ingin melihat bintang. Di tempatku dulu, bintang tidak sejelas sekarang."
Daniela membahas kehidupan modernnya.
Edrik menjadi bingung. "Hah?"
"Anda lebih baik masuk ke dalam sebelum masuk angin."
"Hah! Coba lihat, siapa menghawatirkan siapa? Di dalam ada makanan dari kuil, makan sebelum dingin. Ngomong-ngomong seharian kamu keluyuran kemana saja?"
"Sudah saya bilang, saya cari uang. Anda harus menggantikan semua tugas saya, untung saja pihak kuil mau mengerti."
"Lihat cara bicara yang sombong ini." Edrik mulai kesal. "Sudah berhasil membuat pangeran pertama bekerja keras, sekarang malah bicara sembarangan."
"Jika anda sadar kedudukan anda pangeran pertama, harusnya anda tidak menyerahkan tahta pada pangeran kedua."
"Itu lagi yang dibahas, padahal sudah aku jelaskan."
"Saya akan membantu anda naik tahta."
"Tidak, tidak perlu. Aku lebih nyaman dengan posisi sekarang."
"Apakah anda tidak memikirkan orang-orang anda dan permaisuri? Kaisar curiga karena orang-orang anda bekerja sama dengan kuil untuk menolong countess, padahal jika dia bukan orang picik, dia tidak perlu mencurigai hal yang tidak penting."
"Lady Daniela."
"Apakah menyelamatkan orang lain harus dicurigai dulu? Saya paham count Ava adalah salah satu pengikut kaisar, tapi tetap saja tidak masuk akal jika seorang pemimpin mengabaikan nasib rakyatnya." Daniela menatap lurus Edrik dengan penuh tekad. "Anda harus bisa memikirkan nasib orang lain sebelum memutuskan hal lain, pangeran pertama."
Edrik memang tidak mau naik tahta supaya adiknya tidak turun perang dan ibu permaisurinya aman, tapi setelah dipikirkan kembali apakah semua keputusannya selama ini tepat?
Ayah kaisar tidak mengumumkan pencarian pangeran pertama dengan alasan tidak ingin musuh tahu, ratu yang dikabarkan mengadakan pesta yang bangsawan lain tidak tahu tujuannya untuk apa, di saat permaisuri sedang berduka untuk mendoakan pangeran pertama yang hilang lalu adiknya yang dikabarkan dekat dengan adik tiri Daniela.
__ADS_1
Daniela pergi meninggalkan Edrik yang masih berdiri diam memikirkan perkataannya. Di dunia ini, kita tidak bisa berpikiran naif, Yang Mulia. Jika kita mengabaikan perjuangan orang-orang demi kita, tidakkah mereka akan kecewa? Sama seperti seorang anak yang kecewa dengan pilihan salah satu orang tuanya yang sudah babak belur dalam pernikahan tapi masih bertahan dengan alasan anak.