
Pendeta Rahul tetap khawatir dengan rencana Daniela. "Bagaimana jika ada yang menuntut balasan?"
"Hm? Kenapa mereka menuntut kita?"
"Itu-"
"Mereka sendiri yang menginginkannya." Tawa Daniela.
Pendeta tinggi Rahul sedikit merinding dengan sikap dewasa yang tidak sesuai dengan usianya.
"Ingat, pendeta. Mereka bisa saja menjatuhkan kuil bahkan menghina dewa. Lagipula jika dewa marah, siapa yang akan mendapat kerugiannya?"
"Rakyat."
"Benar."
"Hei, aku tidak pernah melakukan hal sekeji itu."
Daniela sempat terkejut lalu mengabaikan perkataan dewa yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Beritahu dia! Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu!"
Daniela pura-pura tidak menanggapi dan tetap bicara dengan pendeta tingga Rahul. Memangnya siapa yang akan mendengar perintah dewa? Konyol!
"Kamu- kamu- sudah menuduh aku yang tidak-tidak setelah aku berusaha keras mengubah kehidupan kamu yang malang?"
"Ah, ngomong-ngomong pendeta tinggi Rahul."
"Sekarang kamu pura-pura tidak mendengar aku?!"
"Ya?"
"Hei, kamu berpura-pura tidak mendengar aku?!"
"Jika dewa melakukan kesalahan kepada manusia, apa yang akan kita lakukan?"
Pendeta tinggi Rahul mengerutkan kening. "Hah? Dewa melakukan kesalahan?"
"Ya, seperti memberikan kehidupan kepada manusia yang tidak mau hidup."
Pendeta tinggi Rahul menatap Daniela dengan tatapan ngeri. "Apakah anda mengikuti sekte tertentu?"
"Eh? Tidak kok. Saya hanya iseng bertanya karena berpikir dewa pasti sombong."
"Sombong?"
"Jika manusia bisa melakukan hal yang luar biasa, di dalam hatinya pasti muncul kesombongan. Bukankah dewa juga sama?"
"Ah, dewa kehidupan. Dia menyindir anda."
"..."
Terdengar suara selain dewa kehidupan di kepala Daniela.
__ADS_1
"Tidak mungkin dewa melakukan kesombongan, Dia lah yang memberikan kehidupan untuk kita sebagai manusia."
"Oh, begitu."
"Tuh 'kan dewa, saya sudah mengatakannya berulang kali. Dia tidak mungkin mau mengulang kehidupannya, tidak ada yang bagus. Memang lebih baik menghancurkan jiwanya saja."
"Benar, hanya dia manusia yang tidak bisa mengucapkan terima kasih kepada dewa."
"Ah, ada lagi yang lain bukan?"
"Berisik! Aku melakukannya secara gratis, tidak meminta apa pun darinya. Kenapa dia tidak pernah bersyukur?"
"Bagaimana dia bisa bersyukur sementara dua kehidupan saja dia memutuskan bunuh diri."
Daniela berhenti melangkah ketika mendengar perdebatan dewa dan para pengikutnya.
Benar, jika saja dewa tidak ikut campur ke dalam kehidupanku- aku tidak mungkin menjalani kehidupan menyebalkan seperti ini. Anda saja tidak pernah membantu saat aku kesulitan, percuma juga meminta bantuan pada dewa dengan berdoa setiap hari, memuji semua sifat dewa yang agung.
"..."
"..."
Hal yang paling menyeramkan bagi seseorang yang paham ketika orang lain mengalami depresi adalah mulai tidak percaya dengan keberadaan Tuhan.
Pendeta tinggi Rahul mulai menyakini sesuatu ketika melihat Daniela yang terlihat menghargai kuil atau dewa tapi pada kenyataannya berbanding terbalik, dimulai dari mencoret patung dewa tanpa merasa bersalah.
Meskipun pendeta agung sudah memaafkan dan menjelaskan dengan baik tentang posisi Daniela, tetap saja anak berusia lima belas tahun tidak mungkin bisa melakukan tindakan senekat itu.
"..."
Bahkan di kepala Daniela pun, dewa tidak bisa berkomentar lagi.
Dewa yang tidak pernah konsisten. Tawa Daniela di dalam hati.
Di tempat dewa, para pengikutnya berusaha menahan tangan dewa untuk melempar petir ke dunia.
Di sisi lain pendeta agung menatap lurus patung dewa dan tersenyum. "Kelihatannya akan ramai nanti."
-------
Besoknya, upacara kesucian untuk putri duke Vilvred.
Para bangsawan tampak hadir karena penasaran
"Duke Vilvred adalah bangsawan terhormat, tidak mungkin memiliki anak yang tidak suci."
"Apakah kamu menyangkal masa lalu duchess sekarang yang merupakan selingkuhan duke?"
"Itu-"
"Mereka memang teman sejak kecil dan katanya saling mencintai, bahkan di wilayah Vilvred tersebar rumor dan kisah romantis mereka berdua lalu dijelaskan betapa kejam keluarga Aelthred mengambil cinta mereka berdua. Hah!"
"Bukankah itu memang kisah romantis? Pernikahan antara rakyat biasa dan bangsawan."
__ADS_1
"Ckck. Coba lihat siapa yang berbicara, bangsawan rendah tidak mungkin paham kebusukan yang ada di ibukota."
Istri bangsawan yang bertanya itu mengerutkan dirinya karena malu, dia baru tiba di ibu kota beberapa hari jadi kurang paham tentang masalah di ibu kota. Padahal dirinya sudah menyombongkan diri karena berhasil hidup di ibu kota.
"Duke pasti melakukan sesuatu demi menyelamatkan cintanya, bukankah itu menyebalkan?"
"Benar, aku tidak sabar dengan hasil tes kesucian Daniela."
Sementara permaisuri berjalan santai menuju kamar kaisar, salah satu penjaga pintu kamar terlambat menghalangi ketika terpesona melihat kecantikan permaisuri yang tidak seperti biasanya.
Ratu yang duduk di pangkuan kaisar, sontak bangkit.
Permaisuri menarik napas dan mengabaikan perilaku mereka. "Kaisar terlihat bahagia, apakah anda tidak memikirkan nasib pangeran mahkota dan pasangannya?"
Dahi kaisar berkerut tidak suka ketika melihat penampilan permaisuri. Gaunnya terlihat tertutup dari depan tapi di samping paha kanan, bisa terlihat jelas kakinya yang jenjang.
"Permaisuri, kita akan pergi ke kuil. Bersikaplah sopan."
Permaisuri mengangkat dagunya dengan angkuh. "Hm? Bukankah ini sangat sopan?"
"Itu-"
"Sebentar lagi acaranya dimulai, anda ingin datang bersama orang lain atau dengan aku?" Tanya permaisuri.
Ratu paham maksud permaisuri, orang lain adalah dirinya. "Permaisuri, apakah anda tidak bisa menghargai saya? Saya selalu menemani kaisar disaat anda sedang bersedih karena pangeran pertama menghilang."
Permaisuri menaikkan salah satu alisnya. "Pelacur pun bisa menemani suami orang di saat istrinya sedang berduka."
"Saya ratu di kekaisaran dan merupakan istri dari kaisar, anda tidak bisa menghina saya!"
Permaisuri membalas dengan sengit. "Kamu istri kaisar? Lantas aku apa?"
Ratu terdiam, dia baru ingat kalau permaisuri adalah pemilik asli kekaisaran. Jika tidak tersandung masalah gender, ratu bisa mendapatkan tahta dengan sendirinya.
Kaisar berdehem lalu berdiri. "Aku ikut bersama permaisuri, bagaimana kabar permaisuri? Sepertinya terlihat sehat."
Permaisuri menatap jijik kaisar lalu balik badan. "Lupakan, anda bisa pergi bersama pelacur itu."
"PERMAISURI!" bentak kaisar. "Apakah permaisuri sudah tidak menghargai aku sebagai kaisar?"
Permaisuri berhenti melangkah, balik badan lalu menatap lurus kaisar. "Saat saya berdoa di kamar mengharapkan dewa menyelamatkan pangeran pertama- apa yang anda lakukan? Mengirim penasehat kerajaan bersama keluarganya untuk liburan?"
"Apa yang kamu bicarakan? Aku mengirim mereka karena ada kabar pangeran pertama ada di wilayah itu."
Permaisuri terkejut sekilas lalu berhasil mengatasi terkejutnya. "Pangeran pertama ada di wilayah itu?"
Apa yang dia lakukan di sana?. Tanya permaisuri di dalam hati.
"Ya." Angguk kaisar.
Permaisuri menatap kaisar lalu ke ratu dan kembali ke kaisar. "Kaisar, tolong jangan menumpahkan air kotoran ke wajahku. Kaisar bisa membawa penari erotis dan membelikan dia status bangsawan untuk menjadi ratu. Namun tidak untuk sekarang, jika pangeran mahkota ternyata melakukan hubungan di luar pernikahan. Aku ingin dia menjadi putraku."
Kaisar terpana, dia tidak menyangka permaisuri akan mengatakan hal seperti ini.
__ADS_1