
Pendeta tinggi Rahul memimpin upacara pernikahan Ella dan pangeran kedua dengan disaksikan bangsawan fraksi kaisar dan ratu.
Tidak ada kaisar dan ratu, bahkan perwakilannya. Menandakan kekecewaan mereka terhadap pangeran mahkota yang harus kembali menjadi pangeran kedua.
Pihak Ella Fleur juga sama.
Yang menarik perhatian adalah kedatangan Daniela yang menggunakan mahkota milik permaisuri saat masih muda, begitu juga dengan gaunnya.
Salah seorang bangsawan tua fraksi kaisar yang mengenali gaun itu karena putrinya sempat ribut ingin memiliki gaun berwarna putih yang menunjukan dada, namun tertutup di bagian leher dan lengan.
Mahkota yang dipakai Daniela pun hanya sederhana namun terlihat mewah dengan ornamen berlian yang memukau.
"Bukankah yang dipakai Daniela adalah gaun dan mahkota milik permaisuri?"
"Ya. Tidak salah lagi, pertama kalinya permaisuri muncul di publik memakai gaun dan mahkota yang dibuat langsung atas perintah kaisar."
"Kenapa Daniela memakainya?"
"Jangan-jangan- apakah gosip itu benar? Permaisuri sempat ingin menjodohkan Daniela dengan pangeran pertama tapi malah berakhir ke pangeran kedua karena pangeran pertama pergi ke medan perang."
"Astaga!"
Daniela sudah menduga akan menjadi pusat perhatian daripada pemeran utama. Rasanya ingin menghindar tapi tidak bisa, jika tidak menerima kebaikan permaisuri, dirinya harus menerima kebaikan dari keluarga Vilvred.
Permaisuri juga sengaja memakaikan Daniela gaun masa kecilnya hingga para bangsawan berspekulasi dan tidak akan ada yang berani menyentuhnya, terutama dari keluarga Vilvred.
Pendeta tinggi Rahul sudah selesai mengucapkan sumpah bersama dua pengantin lalu pangeran kedua dan Ella berjalan keluar dari altar. Sepertinya pihak kuil memang sengaja melewatkan ciuman karena perilaku tidak bermoral Ella dan pangeran kedua.
Daniela merasa ironi ketika mengingat kehidupan keduanya, pasangan yang melakukan tindakan tidak bermoral, hari itu juga dipaksa menikah, sama seperti yang dialami Ella dan pangeran kedua.
Ella terkejut melihat gaun dan mahkota yang dikenakan Daniela, jauh lebih mewah daripada yang dipakainya. "Kenapa dia bisa memakai mahkota?" Tanyanya ke pangeran kedua.
Pangeran kedua menoleh dan terkejut melihat kecantikan Daniela. "Bagaimana bisa dia secantik itu?"
Ella menatap kesal pangeran kedua. "Pangeran kedua, anda sudah punya saya. Kenapa harus melihat wanita dari keluarga yang hancur?"
"Dan wanita itu adalah kakak kamu. Astaga, bahkan aku menikah dengan wanita penipu usia." Ejek pangeran kedua. "Apakah kamu sekarang merasa hebat karena sudah menjadi anggota keluarga kaisar?"
Kedua mata Ella terbelalak ketika mereka berjalan melewati kursi Daniela sementara pangeran kedua masih menatap kecantikan Daniela. "Pangeran!" Serunya.
Para bangsawan fraksi kaisar dan ratu yang hadir, bisa melihat percakapan sepasang suami istri muda. Memang benar, Daniela yang terlihat memakai make up berlebihan dan gaun yang tidak sesuai dengan usia, sekarang terlihat seperti malaikat, bahkan pendeta agung sendiri yang menyatakan kesucian Daniela.
Tidak ada yang berani menentang perkataan pendeta agung yang sudah diberikan berkah oleh dewa Helcia.
Daniela yang tanpa sadar menjadi tokoh utama, menguap lelah. Mengharapkan yang terbaik untuk wilayah yang ditangani Edrik.
"Hei."
"..."
__ADS_1
"Aku yakin kamu mendengar jelas aku."
Dahi Daniela berkerut semakin dalam.
"Apakah kamu ingin ke tempat orang itu?"
Apa?
"Aku bisa mengantar kamu, asal membantu aku."
He- Hei!
"Bantu aku memurnikan patung di kuil suci lalu menjernihkan pikiran orang-orang."
Tanpa persetujuan dewa, Daniela tiba-tiba sudah berpindah tempat.
Daniela berteriak marah. "BUKANKAH TUGAS MEMBERSIHKAN PATUNG ADALAH PENDETA?! KENAPA AKU YANG HARUS MEMBERSIHKANNYA?!"
"Bagaimana bisa aku menyuruh mereka sementara mereka tidak mau mendengarkan aku?"
"Kau bisa bicara ke pendeta agung, nanti dia akan menyuruh beberapa pendeta untuk ke wilayah yang bermasalah!"
"Ah, buang-buang waktu dan tenaga. Lebih baik bicara padamu secara langsung."
Daniela menggumam marah. "Dewa sialan!"
"SIAPA YANG MASIH ADA DI DALAM KUIL? MENYERAHLAH!"
Daniela menoleh lalu melihat Edrik membuka pintu.
Zuu yang ada di belakang Edrik terkejut. "De- dewi?"
Daniela yang masih memakai gaun dan mahkota permaisuri, terkejut dikatakan dewi oleh orang lain.
"Ibu?"
Zuu dan Daniela lebih terkejut lagi ketika Edrik menyebut 'ibu'.
Daniela melipat kedua tangan. "Apakah kalian mulai berhalusinasi, pantas saja dewa mengirim aku ke sini karena khawatir melihat kalian berdua terkena ilusi pendeta tinggi."
"Suara ini-" Zuu terpana.
Edrik tersadar begitu mendengar suara yang dikenalnya. "Daniela?"
Daniela mengangguk puas. "Akhirnya kalian mengenaliku."
Zuu menjadi bingung. "Tu- tunggu! Kenapa anda tiba-tiba ada di sini? Bukankah anda ada di ibukota?"
Daniela mendecak.
__ADS_1
Edrik mengeluarkan pedang dan menatap curiga Daniela. "Hati-hati! Bisa saja dia musuh!"
"Musuh?"
Daniela yang terpancing, mengangkat tangan lalu mencari sesuatu. "Tunggu dulu! Tidak adil lawannya memakai pedang."
Edrik tidak peduli.
Daniela terpaksa mengambil sepatu di kakinya dan muncul mana di sekitar sepatu hingga berubah menjadi pedang.
Suara pedang beradu muncul di dalan ruangan, Edrik dan Daniela saling menatap.
"Apakah kamu iblis yang disembah para pendeta di kuil ini?"
"Hah! Bahkan jenderal hebat seperti Pangeran Pertama tidak bisa membedakan antara manusia dan iblis!"
Edrik menyipitkan kedua mata dan mendorong pedangnya tanpa mengendurkan kekuatan. "Daniela tidak akan pernah sekuat ini."
Daniela sekuat tenaga menahan tenaga Edrik. Memang sebelum reinkarnasi dan menjadi permaisuri, tidak pernah mengendur latihan, bahkan setelah reinkarnasi hanya berlatih sedikit lalu lupa karena harus bekerja di kuil. Latihan sendiri berbeda dengan latihan di medan perang.
Daniela mundur karena dorongan Edrik, bahkan pangeran gila perang tidak mengendur pada seorang anak kecil.
Daniela yang tingginya tidak sampai dada Edrik, bahkan harus membuat pangeran itu membungkuk untuk melawan Daniela, mencoba cari celah yang pas untuk mendorong Edrik.
"Siapa kamu?"
Daniela tidak bisa mengendur lalu teringat dengan kelemahan pria di bagian itu, sontak Daniela menendangnya sekuat tenaga.
Edrik melotot marah, menjatuhkan senjata dan tidak berteriak sedikit pun.
Daniela mengatur napas ketika Edrik lengah dan memegang bagian tengah ************ yang ditendangnya
Zuu menjadi takjub ketika Daniela dengan berani menendang sekaligus memaki pangeran pertama. "Duke Aelthred."
Marquess Bill yang mendengar ada penyusup dan tidak sabar menunggu lama pangeran pertama dan Zuu, bergegas lari ke ruangan yang dicurigai, lalu terkejut.
Posisi yang dilihatnya sangat canggung dan tidak pantas dilihat orang lain.
Daniela memaki pangeran pertama sekaligus menendangnya dengan kesal meskipun terlihat tidak bertenaga, lalu pangeran pertama yang berlutut sekaligus membungkuk sambil melindungi bagian tengah ************ tanpa bersuara.
Marquess Bill segera menutup pintu di belakangnya. "Apa yang terjadi, apakah dia- Duke Aelthred?"
Zuu menghela napas. "Sekali lihat, anda pasti mengenalinya, Marquess."
"Bagaimana bisa-"
Zuu hanya bisa mengangkat kedua bahu.
Marquess Bill dan Zuu menunggu sampai kedua pasangan itu selesai bertengkar.
__ADS_1