
Tok! Tok!
Terdengar suara pintu diketuk, Marquess dan Marchioness memisahkan diri dari pelukan lalu menghapus air mata masing-masing.
Setelah melihat istrinya siap menerima tamu, Marquess mempersilahkan tamunya masuk.
Zuu membuka pintu sementara Edrik berdiri menjulang di belakangnya.
Marquess Bill mengerutkan kening begitu melihat pria yang berdiri menjulang di belakang Zuu. Mengingatkannya pada sosok pangeran pertama tapi- sudah lama dirinya tidak melihat sosoknya, jadi sedikit lupa dan merasa tidak yakin. "Anda-"
Zuu yang menyadari arah pandang curiga Marquess Bill memperkenalkan diri. "Saya salah satu tangan kanan pangeran mahkota di bagian administrasi Zuu. Kakak saya, Zoe yang selalu ikut pangeran mahkota pergi berperang."
"Ah." Marquess Bill mengangguk paham.
Zuu tersenyum dan bertanya ke Marquess dan istrinya. "Anda semua rela pergi dari ibu kota ke wilayah terpencil ini, apakah ada masalah atau-"
"Saya sudah menyerahkan surat dari duke Aelthred, apakah duke tidak memberikan instruksi kepada anda?" Tanya Marquess Bill dengan penasaran.
Zuu menggeleng. "Tidak, sayangnya duke Aelthred hanya menulis supaya kita mengikuti perintah Marquess, sementara kami ehem! Maksudnya pasukan pangeran pertama seperti kami tidak tahu apa yang harus dilakukan."
Marquess Bill mengerutkan kening. "Saya tidak bisa mengatakannya langsung jika tidak melihat situasi, besok saya lihat dan memutuskan langsung. Apakah tidak masalah?"
"Ya, tidak masalah. Justru saya yang merasa tidak enak karena tidak memberikan waktu istirahat. Selamat beristirahat."
Marchioness tersenyum ke Zuu. "Terima kasih."
Zuu menarik tangan Edrik untuk memberikan waktu istirahat pasangan Bill.
Edrik membuka tudung mantel ketika sudah berjalan menjauh dari kamar. "Marchioness dan anak-anaknya mencari jalan aman untuk menyelamatkan wilayah dan nyawa banyak orang, aku merasa bersalah jika tidak peduli pada mereka. Sekarang mataku sedikit terbuka."
Zuu berusaha mencairkan suasana. "Memangnya selama ini mata anda kemana?"
Edrik yang kesal dengan humor rendah, menjawab dengan nada kesal. "Kelilipan!"
Zuu nyengir, merasa tidak bersalah.
"Ngomong-ngomong, apakah kamu sudah mengawasi kuil? Bagaimana dengan pendeta tinggi di sana?"
"Ada lima pendeta tinggi dan salah satu yang memimpin adalah ayah kandung dari pria yang anda selamatkan, pangeran pertama. Sangat aneh- bukankah satu kuil hanya diisi satu pendeta tinggi baru beberapa pendeta muda?"
__ADS_1
"Satu atau dua orang pendeta tinggi tidak menjadi masalah tapi lima- patut dicurigai."
"Seharusnya duke mengatakan ini kepada pendeta agung, supaya kita tidak terkesan ikut campur ke dalam wilayah kuil." Kata Zuu.
Edrik menatap kesal Zuu. "Sekarang kamu baru menyesalinya 'kan?"
"Tidak." geleng Zuu. "Saya tidak pernah menyesali semua keputusan yang sudah diambil, saya hanya ingin menyampaikan pendapat saja."
Edrik menatap Zuu dengan tatapan kesal. "Jangan membuat aku lebih kesal karena tidak paham, Daniela sudah membuat perasaanku jelek dan ditambah kamu-"
Zuu tersenyum. "Ah, iya. Satu lagi saya lupa menyampaikan kepada anda. Salah satu pendeta tinggi bersikeras keluar dari wilayah dan pergi menuju ibukota. Paman ingin melepasnya, namun karena ketahuan oleh saya- pendeta itu tidak bisa keluar dari wilayah.
"Alasan apa yang kamu buat?"
"Virus, sampai dia selesai cek kesehatan- baru boleh keluar. Masih punya waktu sampai besok Marquess cek wilayah."
"Viscount Fei dijamin tidak akan mengganggu?"
"Paman memiliki sifat licik dan cari aman sendiri, sudah bisa dipastikan tidak akan keluar bersama keluarganya."
"Pangeran pertama."
Edrik dan Zuu saling bertukar tatapan penuh arti.
---------
"Bagaimana bisa kalian semua memperlakukan saya, pendeta tinggi seperti ini? Saya ke ibukota hanya ingin mencari putra saya yang hilang saat di ibukota, apakah kalian semua mau bertanggung jawab?! Teriak pendeta tinggi Rou sambil menunjuk para petugas dengan marah. "Dewa Helcia akan mengutuk kalian, karena berani menghina salah satu pengikut tertingginya!"
"Pendeta tinggi Rou, Andi memang menulis tujuan perginya dan memakai rute yang sesuai, tapi kami benar-benar tidak bisa mengizinkan anda keluar karena keputusan tuan wilayah."
"Aku dan pemilik wilayah ini! Mana yang lebih penting?!" Teriak pendeta tinggi Rou sambil menggebrak meja. "Keluarkan aku dari wilayah ini atau temukan putraku sekarang!"
Edrik dan Zuu yang sudah tiba di lokasi dengan panduan ksatria yang telah melapor, melihat pemandangan menjijikan. Seorang pendeta yang seharusnya menjadi contoh untuk masyarakat malah bertindak seperti tidak berpendidikan.
"Kasihan sekali pendeta tinggi Rou."
"Iya, aku dengar putrinya meninggal karena bunuh diri lalu putranya kabur ke ibukota."
"Benar, sekarang malah putra yang diharapkan hilang tanpa kabar."
__ADS_1
"Apakah kalian semua tidak merasa aneh?"
"Apa?"
"Kepergian putri pendeta tinggi Rou bersamaan dengan hilangnya sang putra, menurut kamu- apakah pelakunya sang putra?"
"Ah, bisa jadi. Persaingan antar saudara tidak akan aneh lagi, terutama waktu itu anak laki-laki ingin menjadi pendeta kuil sementara anak perempuan akan menjadi saintess."
"Aku kasihan dengan anak perempuannya yang meninggal karena bunuh diri, katanya terlalu takut mengemban tugas sebagai saintess dan menyerahkannya ke putri lain yang jauh lebih berharga."
"Maksud kamu putri Ella?"
"Sssttt! Jangan kencang-kencang bicaranya."
Edrik dan Zuu yang mendengar percakapan mereka, terkejut dengan rencana busuk pendeta tinggi Rou.
"Dia- bahkan mengorbankan anak-anaknya demi keserakahan?" Tanya Edrik tidak percaya. "Mereka darah dagingnya, bagaimana bisa mereka melakukan hal sekejam itu?!"
Zuu menatap simpati Edrik. Apakah anda sendiri tidak bercermin? Sikap kaisar juga sama dengan pendeta tinggi Rou. Jadi tidak akan ada yang heran dengan keserakahan seorang ayah.
Edrik dan Zuu mendengar teriakan pendeta tinggi Rou bersama kerumunan masyarakat yang juga hendak keluar dari wilayah.
"APAKAH KALIAN SEMUA TIDAK TAHU BAHWA AKU DIPANGGIL RATU?!" jerit pendeta tinggi Rou.
"Akhirnya dia mulai bicara." Zuu tertawa geli.
"Dia putus asa sehingga mengeluarkan kartu as miliknya." Jawab Edrik.
Petugas yang duduk dan menghadapi kemarahan pendeta tinggi, bersikap dengan tegas. "Tidak peduli anda siapa, harus tetap patuhi peraturan. Anda tidak bisa bersikap seenaknya meskipun menyebut nama anggota keluarga kekaisaran, saya rasa kaisar juga pasti memiliki pendapat yang sama."
Petugas itu bukan penduduk asli ataupun petugas wilayah Viscount Fei, dia merupakan bawahan Edrik. Meskipun tubuhnya lebih kecil dari para ksatrian lain, tapi otak dan kekuatan fisiknya sangat gesit. Cocok untuk dijadikan mata-mata dengan berbaur pada masyarakat setempat.
"Kalian- sebentar lagi ada acara suci dan aku harus datang ke sana! Jika aku tidak datang, kepala kalian semua akan dipenggal oleh ratu!"
Zuu tertawa kecil. "Yah, pendeta itu salah lawan karena tidak takut pada ratu atau pun kaisar, tapi lebih takut ditinggalkan pangeran pertama."
Ezard memutar bola matanya dengan perasaan kesal. "Apakah kita berpikiran sama?"
"Ya, duke Aelthred sudah bergerak."
__ADS_1