AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
TIGA PULUH LIMA


__ADS_3

"Pengikut agama ekstrim? Paman baru mendengarnya." Viscount Fei berusaha mengingat sesuatu lalu menggeleng saat sudah duduk di ruang kerjanya. "Paman juga tidak ingat ada hal aneh di sini."


"Paman tidak pernah mendengar? Bagaimana dengan kuil di wilayah paman? Apakah pendetanya tidak melakukan hal aneh?" Tanya Zuu ke pamannya.


"Hal apa?" tanya viscount Fei yang tidak mengerti. "Selama ini paman hanya mengurus wilayah dan tidak terlalu peduli masalah kuil, jika orang-orang ingin pergi ke kuil, tidak mungkin paman melarang mereka."


Zuu dan Edrik bertukar tatapan.


"Apakah kamu datang ke sini memang berniat mencari tahu hal tersebut? Paman pikir sebaiknya kamu tidak usah ikut campur masalah kuil." Nasehat viscount Fei.


"Kenapa? Apakah ada masalah?" Tanya Zuu.


Viscount Fei menghela napas. "Kamu tahu, kepercayaan masyarakat Helcia tidak hanya satu, tapi beberapa dan jumlahnya sangat sedikit. Ada salah satu kepercayaan yang menyembah alam dan memberikan persembahan untuk alam tapi pendeta Helcia mengutuk mereka dan mengatakan sia-sia telah membuang persembahan."


Edrik mengerutkan kening ketika mendengar itu. "Bagaimana bisa pendeta tinggi melakukan hal seceroboh itu?"


"Yah, benar. Aku juga tidak bisa ikut campur, jika aku turun langsung- pendeta tinggi mengutukku dan akan mengirim surat ke kaisar karena salah satu bangsawan Helcia sudah menghina kepercayaan Helcia. Sejak itu, aku tidak mau ikut campur lagi."


"Apa yang membuat paman sempat turun langsung?" Tanya Zuu.


"Ada dua kejadian berurutan. Pendeta tinggi Rou menyinggung salah satu penganut kepercayaan menyembah alam, salah satu keluarga penyembah alam ini tidak terima dan mengungkit masalah tanah bermasalah yang dipakai pendeta tinggi Rou untuk membangun patung dewa.


"Paman turun tangan dan membantu bukti kepemilikan tanah salah satu keluarga penganut kepercayaan alam untuk menunjukan kebenaran, tapi pendeta tinggi Rou malah mengutuk dan menuduh kami telah menghina dewa."


Edrik menghela napas panjang. "Ternyata kasusnya jauh lebih parah."


Zuu mengangguk singkat.


"Ah, beberapa hari ini paman tidak melihat kedua anaknya. Entah mereka kemana, mungkin melapor ke kuil pusat mengenai masalah tanah tadi. Zuu, bagaimana ini? Bagaimana jika kuil marah dan kaisar malah semakin murka?" Panik viscount Fei.


Zuu menenangkan pamannya. "Paman, tenang saja. Kami akan mengatasinya dengan baik, dan jika paman memang tidak terlibat, semua akan baik-baik saja."


Viscount Fei menggebrak meja dengan marah. "Apa maksud kamu dengan jika aku tidak terlibat? Tentu saja aku tidak pernah terlibat, aku tidak mau melibatkan diri pada orang-orang yang berusaha merugikan keluarga dan nama baik kami!"


Zuu tertawa canggung sementara Edrik merenungkan perkataan Daniela kembali waktu itu. Meskipun Daniela tidak menjelaskan dengan detail, Edrik bisa sedikit paham.

__ADS_1


Yang dilakukan pendeta tinggi Rou kemungkinan besar berhubungan dengan kepentingan politik.


Zuu dan Edrik pamit keluar dari ruangan Viscount lalu pergi ke kamar dengan bantuan kepala pelayan.


Setelah tiba di kamar, Edrik melihat dua tempat tidur di dalam kamar.


Zuu menjelaskan kepada Edrik. "Paman berjanji pada ayah untuk menjaga kami, meskipun hanya kewajiban. Kamar ini milik kami sejak kecil dan tidak dirubah."


"Entah aku harus menilai bagaimana kepada paman yang melempar keponakannya sendiri ke medan perang."


"Menuruti ego bangsawan memang sulit. Dulu, sewaktu pangeran mahkota hendak dikirim ke medan perang, para pengikut ratu menolak keras terutama saat permaisuri mengumumkan yang berangkat hanyalah ksatria dari kalangan rakyat, para bangsawan menolak dengan dalih menolak pengangkatan bangsawan baru lagi saat krisis.


"Anda sendiri tahu 'kan, setiap kalangan rakyat yang menjadi ksatria memenangkan peperangan, selalu diberikan gelar bangsawan, paling rendah adalah baron."


Edrik mengamati bunga di atas nakas, memisahkan dua tempat tidur. "Aku tahu bagian itu, pada akhirnya anak-anak keturunan bangsawan selain pewaris yang berangkat."


"Hal itu menjadi olokan dari beberapa bangsawan karena ternyata anda yang berangkat dan banyak yang berpikiran sama, mereka mulai mengirimkan kerabat mereka untuk mewakili anak-anaknya." Zuu tersenyum sedih.


"Setidaknya kita pulang dengan membawa kemenangan berkali-kali, tidak perlu menyesalinya." Edrik menguap dan langsung berbaring di tempat tidur. "Aku lelah, ingin tidur sebentar. Besok kita menemui pendeta tinggi."


"Ya."


"Baik, saya akan mencari informa-"


"Tidak perlu, istirahatlah. Kita sudah melakukan perjalanan panjang, aku akan diomeli Zoe jika tidak bisa menjaga kamu dengan baik."


Zuu melihat pangeran pertama langsung tertidur setelah sedikit mengomel, dia menuruti perintah pangeran pertama.


-----------------


Andi yang meringkuk di pojok ruangan, terkejut ketika melihat banyak orang masuk. "Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?"


Pendeta tinggi Rahul segera memberikan perintah setelah mendapat persetujuan dari pendeta agung. "Periksa dia!"


Andi melindungi dirinya. "Kalian tidak bisa menyentuhku! Pergi! Menjauh!"

__ADS_1


Dua pria yang memakai seragam pendeta muda dan bertubuh kekar, menahan tangan Andi di masing-masing sisi.


Andi berontak. "Jadi ini yang kalian inginkan sejak awal? Pantas saja ayah membenci kalian semua! Tidak bisa menjaga pengikutnya dengan baik!"


Pendeta tinggi Rahul sedikit kesal dengan perkataan Andi dan membalasnya. "Ayah kamu hanya iri karena tidak bisa menjadi pendeta agung!"


Tidak ada yang bisa memastikan kebenaran perginya pendeta tinggi Rou beberapa hari setelah pengangkatan pendeta agung.


Andi tertawa. "Kalian pikir tugas suci bisa dipermainkan begitu mudah? Kalian hanya menyebarkan kebohongan! Demi nafsu pribadi, kalian sebenarnya mendukung penjahat asli, permaisuri."


Di saat pendeta tinggi Rahul menangani Andi, Daniela pergi ke perpustakaan ibu kota untuk meminjam buku dan tanpa sengaja bertemu dengan Ella dan dua orang temannya.


"Kakak, tidak aku sangka kita bisa bertemu di sini, padahal kakak tidak suka membaca." Ella berjalan mendekati Daniela.


Daniela melangkah mundur sambil menatap lurus Ella. "Apakah kamu ingin menghina aku sekarang?"


"Eh?"


Dua orang teman Ella tidak suka dengan kata-kata Daniela.


"Lady Daniela, apakah anda tidak bisa menghargai lady Ella?"


"Bersikaplah sopan."


Dilihat dari pakaian mereka, Ella sedang bersama teman-teman akademi.


Daniela sebenarnya sempat merasakan akademi selama satu tahun tapi pada akhirnya tidak bisa diteruskan demi fokus belajar pendidikan calon istri pangeran mahkota.


Daniela tidak menanggapi dua teman Ella. "Kenapa kamu ada di perpustakaan umum? Bukankah di istana jauh lebih baik dan lengkap?"


"Tempat ini dekat dengan akademi," jawab Ella.


"Kamu belum mendapat pendidikan calon istri pangeran mahkota?"


"Tidak, belum sekarang. Pangeran pertama hilang, permaisuri sedang berdoa. Tidak mungkin aku tiba-tiba muncul dan memperkenalkan diri di depan kaisar."

__ADS_1


Daniela menghela napas ketika mengetahui kebodohan anak ini. "Kaisar tahu siapa kamu, pangeran pertama hilang, tidak hanya satu atau dua kali saja, tidak perlu khawatir."


__ADS_2