
Di kuil, para bangsawan yang menjadi saksi memutuskan pulang ke rumah masing-masing. Hanya pendukung ratu dan kaisar yang berjanji akan hadir.
"Aku tidak menyangka anak berusia empat belas tahun, ternyata berusia delapan belas tahun. Kenapa tubuhnya masih sekecil itu?"
"Mungkin faktor penyakit."
"Penyakit? Apakah dia sakit?"
"Bukankah ibunya sakit? Aku dengar ibunya sejak kecil sakit dan harus minum banyak obat-obatan, saat istriku mengunjungi istri Duke- betapa terkejutnya dia saat melihat istri Duke masih muda dan cantik."
"Ah, bisa jadi. Rasanya mengerikan jika memang seperti itu."
"Berarti selama ini pangeran mahkota selingkuh dengan adik dari Duke Aelthred?"
"Rumor sudah sering beredar tapi kita tidak bisa mengungkapkannya di depan umum. Kaisar dan ratu sangat menyayangi pangeran mahkota."
Ella harusnya menikah dengan pernikahan yang mewah dan bahagia bisa menaikan statusnya. Dengan begitu tidak akan ada yang mengejeknya diam-diam sebagai anak haram duke Vilvred.
Kekacauan di ruang pembuktian, membuat duchess pingsan dan demam sehingga duke tidak bisa datang ke upacara dan harus menemani istri tercinta.
Ella tahu, yang ada di hati duke Vilvred hanya ibunya bukan dia. Duke hanya sayang karena dirinya adalah darah daging dari wanita yang dicintai.
Ella harus mandi besar karena telah melakukan perbuatan kotor lalu memakai gaun tertutup hingga ke leher yang disediakan kuil.
Ella menjerit sedih begitu melihat pakaian serba tertutup itu, padahal dia punya gaun pernikahan impian yang akan dipakai saat menikah dengan pangeran mahkota.
Karena posisi pangeran mahkota juga dilucuti, dia tidak bisa memakai mahkota kekaisaran. Saat ingin meminjam pun, tetua Vilvred menolak keras permintaan itu.
Ella berlutut di kaki ayahnya untuk memohon. "Ayah, tolong aku. Apakah ayah ingin melihat anak kesayangan dipermalukan seperti ini?"
Duke Vilvred menatap dingin Ella. "Kamu ingin aku melakukan apa? Aku selalu menutup mata dan telinga untuk semua perbuatan konyol kamu! Bahkan aku harus menanggung semuanya, sementara kamu dengan tidak tahu malunya masih melempar kotoran ke wajahku!"
"Ayah! Aku melakukan semua demi keluargaku! Aku ingin menaikan nama ibuku."
Duke Vilvred luluh ketika Ella menyebut ibunya.
"Izinkan aku memakai mahkota keluarga."
Wajah Duke Vilvred kembali marah.
"Ayah, aku tidak bisa memakai gaun pengantin serta mahkota kekaisaran. Satu-satunya cara, aku memakai mahkota milik keluarga kita."
Duke Vilvred menolak dengan tegas. "Tidak!"
Raut wajah Ella berubah pucat. "Ayah."
__ADS_1
"Kamu memang darah dagingku dan aku sangat menyayangi kamu, tapi aku masih bisa berpikir."
Ella masih tidak paham perkataan ayahnya.
"Kamu tahu tidak pernah bisa memakai nama keluargaku, tapi kamu tidak pernah berupaya menarik perhatian para tetua dan pengikut supaya bisa memakai nama keluarga. Buat apa aku repot-repot kehilangan posisi hanya karena kamu ingin memakai mahkota?'
Ella tidak bisa berkata-kata. "Ayah."
"Menikahlah dengan tenang, ayah harus mengurus ibumu."
Ella melihat punggung ayahnya yang berjalan menjauh lalu menangis keras.
Tidak adil!
Semuanya tidak adil!
Kenapa aku tidak bisa memakai nama keluarga?
Kenapa aku tidak bisa memakai mahkota?
Kenapa mereka masih membenciku?
"Nona Ella, waktunya sudah tiba. Anda tidak bisa bersantai."
------
Duke Vilvred sempat ketakutan jika ayahnya mengetahui hal ini, namun untungnya yang datang hanya dua tetua.
"Kamu masih memanjakan Ella? Anak haram itu? Sudah aku bilang, tidak ada manfaatnya mendukung anak itu.
"Masih jauh lebih baik Daniela, anak itu tidak pernah menentang kita."
"Duke, putri kesayangan kamu akan menikah dengan pangeran mahkota yang dilengserkan karena memiliki moral bejat di usia muda. Banyak bangsawan bertaruh pangeran mahkota akan jatuh ke pangeran pertama."
Duke Vilvred menjawab dengan percaya diri. "Pangeran pertama tidak akan mengambil tahta."
"Kenapa kamu bisa seyakin itu? Pangeran pertama dianggap cocok menggantikan posisi pangeran kedua sebagai pangeran mahkota."
Duke Vilvred sedari awal tidak ingin mendukung pangeran pertama karena permaisuri masih berhubungan baik dengan Aelthred. Jika dirinya mendukung pangeran pertama maka secara tidak langsung mendukung Daniela.
Salah satu tetua menatap Duke Vilvred dengan tatapan curiga. "Apakah karena Daniela?"
Duke Vilvred menipiskan bibirnya.
"Jadi benar karena Daniela. Kenapa kamu benci darah daging sendiri?"
__ADS_1
Tetua lain mengerutkan kening. "Duke membenci putrinya sendiri?"
"Dilihat dari sudut mana pun, dia benci Daniela."
"Apa? Aku kira dia sayang dan bersikap keras untuk menjadikan dia pewaris."
Kali ini Duke dan tetua lain yang terkejut.
"Bagaimana bisa seorang wanita menjadi pewaris?"
"Aku pikir- duke ingin membantu Daniela supaya balas dendam karena kehancuran Aelthred. Aelthred sudah berjasa untuk keluarga kita, mereka keluarga bersejarah- lalu duke membawa wanita lain ke rumah untuk dijadikan duchess supaya bisa merawat Daniela.
"Aku awalnya tidak setuju karena wanita itu anak dari kepala pelayan, namun- astaga! Aku tidak menyangka Duke bisa membenci darah dagingnya sendiri. Kenapa? Apakah karena dia berasal dari Aelthred?"
Duke Vilvred menutup mata sekilas lalu menatap tegas dua tetua yang berdiri di hadapannya. "Tidak penting aku benci Daniela dan ibunya atau tidak, yang terpenting- jangan halangi semua keputusanku."
Kedua tetua tercengang mendengar jawaban juniornya.
"Baik, terserah kamu mau bersikap bagaimana. Tapi, yang pasti mahkota keluarga Vilvred saat ini hanya bisa dipakai Daniela."
"Benar, aku dukung. Aku tidak percaya kamu memiliki perilaku buruk."
"KEPALA PELAYAN! KIRIM MAHKOTA KELUARGA VILVRED SUPAYA DIPAKAI DANIELA MENGHADIRI PESTA PERNIKAHAN ADIK TIRINYA SENDIRI!"
Duke Vilvred tidak membantah, yang ada di pikirannya hanyalah memegang erat wanita yang paling dia cintai.
Kedua tetua menatap tajam Duke Vilvred lalu pergi meninggalkannya.
Duke Vilvred bergegas pergi menuju tempat istrinya, cinta pertama dan terakhir.
Di saat ayah kandung Ella sedang menjaga ibunya. Ella harus menangis karena menjadi pengantin yang paling menyiksa hidupnya.
"Nona, jika anda terus menangis- saya tidak bisa menaburi bedak di pipi." Tegur pelayan kepercayaan permaisuri.
"Apakah aku bisa tidak menikah saja? Aku tidak ingin menikah sekarang, bahkan aku belum melakukan debut. Jahat sekali menikahkan aku sekarang."
"Apakah anda tidak bisa berpikiran jernih? Permaisuri memberikan hadiah pernikahan dengan anggota keluarga kekaisaran dan anda menolaknya?"
"Tapi- orang tua aku tidak ada."
"Orang tua anda tidak bisa hadir, kenapa anda cemas?"
"Bukankah orang tua harus menemani anaknya seumur hidup?"
"Lalu bagaimana dengan Duke Aelthred? Dia saat ini tanpa orang tua dan bisa menghadapi hidup dengan tenang. Dia bahkan lebih muda dari anda."
__ADS_1
Tangis Ella berhenti lalu menatap marah pelayan itu. "Usiaku masih empat belas tahun!"
"Ya, ya. Sekarang diam dan jangan mengulur waktu lagi."