
Pendeta tinggi Rohan memberikan khotbah untuk para bangsawan yang hadir sebagai saksi sekaligus mengajukan sumpah untuk mereka supaya tidak membenci anak perempuan yang akan melakukan tes kesucian.
"Kita semua harus bisa menghargai tindakan lady Ella Fleur demi cintanya terhadap pangeran mahkota."
Para bangsawan yang hadir, kecuali keluarga Vilvred dan keluarga kaisar terlihat tidak setuju.
Permaisuri hanya diam tidak berkomentar dan menutup bibirnya dengan kipas, sementara ratu duduk di bawah tangga. Tidak ada kursi singgasana untuk ratu atau wanita yang melakukan perselingkuhan yang dianggap penghinaan perjanjian kepada dewa.
Ratu bisa mendapatkan kursi singgasana kehormatan dari kuil jika permaisuri yang meminta dan sekarang hati permaisuri sangat jelek.
Kaisar juga tidak berniat merayu permaisuri demi mendapatkan kursi untuk ratu, dia tidak mau dinilai jelek. Sudah cukup dengan memberikan posisi ratu kepada seorang penari erotis.
Daniela yang melihat dari lantai atas bersama pendeta Rahul sebagai perwakilan pendeta tinggi, tertawa di dalam hati.
Di kehidupan pertama, Daniela tidak pernah memiliki kesempatan untuk melihat pemandangan seperti ini karena posisi permaisuri terlalu lemah setelah menghilangnya pangeran pertama dan bangsawan di bawah naungan permaisuri perlahan berkurang.
Bahkan bangsawan di posisi netral pun tidak akan mengharapkan permaisuri yang sakit atau pangeran pertama yang gila, dan itulah awal dari pemberontakan pangeran pertama.
Daniela kembali melihat Ella yang berdiri di depan pendeta tinggi Rohan, anak itu terlihat tenang dan bahkan bisa berdandan dengan cantik.
"Ckckck, dasar anak tidak tahu malu. Tahu akan menjadi pusat perhatian malah menunjukkan penampilan mewah," kata pendeta tinggi Rahul yang memiliki pemikiran sama dengan Daniela.
Daniela tertawa. "Pendeta tinggi, jangan seperti itu- perempuan pasti akan berpenampilan cantik demi pria yang dicintainya."
"Bagaimana dengan anda?"
"Ya?"
"Apakah anda tidak sakit hati melihat mantan tunangan mencintai adik tiri? Pasti sangat sakit dan tidak bisa dilupakan, butuh waktu yang lama untuk melupakan atau- paling tidak cari penggantinya."
Daniela menatap takjub pendeta tinggi Rahul.
Rahul yang ditatap merasa tidak nyaman. "Apa? Ada yang salah dengan saya?"
Daniela menjawab dengan tawa kecil. "Biasanya hal pertama yang saya dengar dari pemuka agama adalah harus bersyukur, tabah atau harus merelakan semua yang terjadi. Namun anda malah mencoba mengerti posisi saya."
Pendeta tinggi Rahul tersenyum kecil. "Ini berkat pendeta agung yang mengajarkan saya banyak hal."
"Pendeta agung?"
"Pendeta agung mengajarkan kami untuk tidak berpikiran sempit. Saya akui, jika tidak ada pendeta agung- mungkin kami akan berpikiran sama dengan pendeta tinggi Rou yang lebih lama dari pendeta agung."
"Eh?"
"Apakah anda tidak tahu? Pendeta tinggi Rou dulunya adalah salah satu kandidat untuk menjadi pendeta agung. Ah, acaranya sudah di mulai."
__ADS_1
Daniela melihat salah satu pendeta yang memakai pakaian pendeta menggantikan posisi pendeta tinggi Rohan yang menyingkir ke kiri.
Ella yang melihat pendeta itu mengerutkan kening. "Hm? Bukankah anda masih muda?"
Andi menatap angkuh Ella karena tersinggung. "Meskipun saya masih muda, apakah terlihat tidak pantas memimpin upacara?"
Ella menjadi panik lalu menatap ayahnya, pangeran mahkota serta keluarga kaisar lainnya.
Permaisuri melirik Daniela yang berdiri di lantai atas lalu menatap kembali Ella. "Ada apa lady, sudah waktunya upacara kesucian."
Ratu tiba-tiba bangkit dan menatap ngeri pemandangan di mimbar. "Di mana pendeta tinggi Rou?"
Pendeta tinggi Rohan mengerutkan kening. "Pendeta tinggi Rou?"
"Bu- bukankah dia yang memimpin upacara? Kenapa malah anak muda yang tidak memiliki pengalaman?" Tanya ratu.
Andi menepuk dadanya dengan bangga lalu tersenyum. "Yang Mulia, pendeta tinggi Rou adalah ayah kandung saya. Saya akan memastikan tindakan adil untuk semuanya."
Perasaan ratu campur aduk, antara lega dan khawatir. "Jadi, kamu sudah tahu tugas kamu yang sebenarnya bukan?"
Andi merasakan kebanggaan karena ratu bicara padanya. "Anda bisa menyerahkannya kepada saya. Ayah selalu bilang semuanya kepada saya."
Ratu kembali duduk dan terlihat lega, wajah lega juga terlihat di duke Vilvred.
Permaisuri bisa menangkap tindakan mereka berdua di balik kipasnya. "Hmm, sepertinya ratu tidak terlalu percaya pada pendeta kuil di ibukota. Namun, apakah boleh mengganti atas permintaan ratu?" Tanyanya ke pendeta tinggi Rahul yang berdiri di samping Daniela.
"Baguslah, jika memang seperti itu." Permaisuri tersenyum di balik kipasnya.
Andi berdehem dan mulai menjalankan ritual. "Kita mulai ritualnya."
Ella maju dan memejamkan mata.
Andi mulai berdoa dengan suara lantang.
Daniela turun dari lantai atas, sudah waktunya dia bergerak.
Pendeta tinggi Rahul yang diserahkan tugas menjaga Daniela oleh pendeta agung, buru-buru mengikutinya.
Andi mulai menjelaskan upacara kesucian. "Dewa hanya ingin meminta satu tetes darah kepada lady dan meneteskannya di atas nampan yang terbuat dari batu suci yang sudah diberkati oleh dewa."
Daniela yang sudah turun ke lantai bawah, melihat sepanjang proses, bertanya ke pendeta tinggi Rahul. "Andi tahu proses ini?"
"Ya, pendeta lain sempat mengujinya dan dia sudah hafal di luar kepala."
Ella tidak tahu proses ini membutuhkan darah. "Darah? Butuh darah? Harus melukai aku?"
__ADS_1
Andi mendecak kesal. "Hanya satu tetes bukan seluruh tubuh!"
Duke Vilvred bertanya ke Andi. "Pendeta, prosedur apa yang anda lakukan sampai harus melukai tangan putri duke Vilvred?"
Andi menatap tidak suka duke Vilvred. "Ini adalah metode kuno yang selalu dipakai para pendeta, selalu akurat."
"Akurat? Tapi sebelumnya ada lady yang juga melakukan tes yang sama- tidak harus melakukan tes darah." Duke Vilvred masih tidak mau melihat putrinya terluka.
Daniela yang melihat ayahnya itu, hanya bisa merasakan sakit di hati lalu melihat bekas luka di tangan saat mengancam sang ayah. "Bahkan saat aku terluka, dia tidak berkedip sekalipun." Gumamnya.
Pendeta tinggi Rahul menepuk pelan kepala Daniela. "Jika manusia tidak ada yang mencintai kamu- dewa tetap mencintai kamu."
"Hahahaha- benar apa yang dia katakan, aku cinta kamu, Daniela. Saranghae, aishiteru, i love you."
Daniela memutar matanya ketika mendengar suara berisik itu lagi di kepalanya. Lalu terkejut dengan kalimat dewa.
"Kamu terkejut? Tentu saja terkejut, aku dewa kehidupan Helcia! Pasti tahu semua hal."
Daniela bertanya. "Memang, tapi bukan berarti dewa-"
Pendeta tinggi Rahul menoleh. "Ada apa dengan dewa?"
"Aaaaa! Lepaskan!" Teriak Ella yang berusaha menarik tangannya.
Andi menarik tangan Ella lalu melukai jari telunjuknya. "Hanya satu tetes! Apakah anda ingin menghina dewa sekarang?"
"Aku bisa melakukan apa pun, bahkan jika mengeluarkan petir sekarang-"
Petir?
Daniela menggeleng ngeri. "Tidak."
"Hm? Tidak?" Tanya pendeta tinggi Rahul yang tidak mengerti.
"Bersiaplah, kamu akan melihat keajaiban dewa."
"Tidak! Jangan sekarang!" Geleng Daniela.
Tetesan darah Ella jatuh ke nampan suci.
BLAR!
"TIDAK!"
Petir mendadak muncul, menyambar patung pengikut dewa bersamaan dengan teriakan tidak Daniela.
__ADS_1
Semua orang di dalam ruangan terkejut dengan peristiwa ini, atap kuil rusak, patung yang terbakar api perlahan padam karena tiba-tiba muncul hujan.
Daniela berlutut dan menatap atap kuil yang bolong. Dasar dewa sialan, tidak berguna!