AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
ENAM PULUH TIGA


__ADS_3

Semua bangsawan yang hadir sebagai saksi termasuk kaisar dan duke Vilvred penasaran dengan metode lain yang akan digunakan untuk tes lain.


Apakah jauh lebih menyakitkan daripada menggunakan satu tetes darah?


Ella yang dipaksa masuk ke dalam ruangan dan melihat Daniela berdiri berhadapan dengan pendeta muda itu tadinya merasa malu dan takut, namun setelah pelayannya mendekati dan melaporkan, senyumnya merekah meskipun harus disembunyikan.


Daniela menatap Andi dengan bingung. "Kali ini, apa yang kamu inginkan?"


Andi menyeringai. "Saya ingin menghukum pendosa."


"Apakah dia dewa sehingga bisa membunuh orang seenaknya?"


Andi mengikuti ajaran dewa.


"Dewa marah dan membunuh manusia karena telah merusak tatanan alam, wajar. Tapi, jika ada manusia yang suka membunuh dengan alasan ajaran agama, bukankah dia merasa dirinya seorang dewa?"


Daniela tidak bisa membantahnya.


"Kamu masih suci, namun tidak ada yang boleh tahu kamu suci."


Hah? Kenapa?


"Saat ini kamu bisa bicara padaku yang seorang dewa, tadinya aku memutuskan tidak turun tangan dan hanya melihat semua. Rupanya aku memang harus turun tangan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan."


Hal yang tidak diinginkan?


Daniela semakin bingung dengan perkataan dewa yang berubah-ubah.


"Kalau dipikir kembali, sebaiknya memang tidak perlu melakukan tes untuk kamu."


"Dewa, kenapa anda tersenyum seperti itu? Apakah anda tidak merasa bersalah?"


"Berisik!"


Daniela bisa membayangkan wajah ķonyol dewa yang merasa tidak bersalah pada dirinya. Memang seharusnya aku tidak perlu percaya pada dewa sialan ini.


"Tunggu, aku akan mencari bantuan untuk menyelamatkan kamu."


Daniela semakin cemas. Apakah akan ada petir lagi yang akan menyambar tempat ini? Atau api? Bagaimana caranya menyakinkan semua jika aku tidak melakukan tes?


Andi menyeringai lalu menengadahkan satu tangan. "Lady?"


Daniela menjadi gugup. Sebenarnya dia tidak perlu khawatir karena masih suci, dia gugup hanya karena perkataan dewa bahwa orang lain tidak boleh tahu dirinya masih suci.

__ADS_1


Daniela menoleh ke pendeta tinggi Rahul yang berdiri tidak jauh darinya. "Dia akan melakukan apa? Aku tidak masalah jika hanya mengambil satu tetes darah."


Pendeta tinggi Rohan menjelaskan dengan sabar. "Hanya tersengat sedikit."


Kedua mata Daniela terbelalak. "Disengat?"


Pendeta tinggi Rohan mengangguk singkat lalu Daniela kembali menatap tidak percaya Andi. Meskipun dewa sialan itu suka mengatur hidupnya, Daniela juga tidak akan mengabaikan perintah dewa demi kepentingan dirinya.


Masalahnya jika Daniela mengabaikan perintah dewa, yang ada malah orang tidak bersalah kena imbasnya.


BRAK!


Pendeta agung masuk dengan memakai topeng kepala burung phoenix.


Semua orang di dalam ruangan menoleh ke arah pintu masuk.


Pendeta tinggi Rohan sigap menarik tangan Daniela untuk menjauh dari Andi setelah mendapat kode dari mata pendeta agung.


Andi terdorong mundur lalu Daniela dipegang erat pendeta tinggi Rohan supaya tidak jatuh.


Daniela masih bingung.


"Siapa yang mengizinkan Daniela disentuh oleh pendeta rendahan?" Tanya pendeta agung dengan suara bergema di dalam ruangan.


"Kenapa saya tidak bisa menghalangi?"


"Anda hanya pendeta agung dan tidak memiliki hak untuk menghalangi, saya ingin menunjukkan ke semua orang bahwa malaikat yang mereka puja lebih menjijikan daripada lady yang mereka hina di belakang," kata permaisuri sambil menaikkan nada suaranya.


Pendeta agung menatap lurus permaisuri seolah menantang. "Daniela adalah salah satu orang kuil kepercayaan saya, tangan kanan saya. Apakah saya akan membiarkan perempuan menjijikan mendekati saya, permaisuri?"


Permaisuri tidak menjawab.


"Daniela masih suci," kata pendeta agung.


Duke Vilvred tertawa mengejek. "Darimana anda tahu dia masih suci? Kita semua belum melihat hasil tes kesuciannya."


"Apakah anda meragukan otoritas saya, duke?"


"Tentu saja. Anda mempermalukan putri saya lalu sekarang kami tidak boleh tes kesucian Daniela?" Duke Vilvred marah ketika mengingat pakaian dalam putrinya ditunjukan di depan umum oleh dayang permaisuri.


Pendeta agung menertawakan kebodohan duke Vilvred. "Jika anda ingin marah, kenapa harus menyalahkan Daniela? Kenapa tidak menyalahkan orang lain yang telah membuat kesalahan?"


Duke Vilvred masih tidak paham dengan perkataan pendeta agung. "Apa maksud anda?"

__ADS_1


"Siapa yang membawa Andi ke kuil? Bukankah ratu, kaisar dan anda? Lalu siapa yang sudah melakukan perbuatan tidak bermoral sebelum melakukan tes kesucian?" Tanya pendeta agung ke duke Vilvred lalu mengalihkan tatapannya ke pangeran mahkota. "Sepertinya ada yang percaya diri, bisa membohongi orang lain atas nama dewa."


Kaisar berteriak marah. "Kami hanya memanggil pendeta tinggi, kenapa yang datang malah pendeta tidak kompeten?"


Andi berusaha menahan amarah.


Pendeta agung menjawab dengan tenang. "Yang datang adalah anaknya, kenapa anda jadi memarahi kami? Tentu saja kami menerima anak pendeta tinggi Rou dengan senang hati, karena perintah dari kekaisaran tidak bisa dibantah sama sekali."


Ella berlutut dan memegang erat celana ayahnya sambil menangis. "Ayah, tidak adil aku mendapat perlakuan seperti ini! Tolong bantu aku! Putri kesayangan ayah!"


Duke Vilvred semakin marah begitu mendengar ratapan kesedihan putri yang paling dia sayangi.


Pendeta agung bicara ke permaisuri. "Tidak ada tes kesucian, Daniela masih suci dan saya bisa bertanggung jawab atas perkataan saya."


Permaisuri akan membantah.


Pendeta agung bicara ke Daniela. "Daniela, kemari."


Daniela bergegas pergi ke belakang pendeta agung.


Pendeta agung kembali bicara ke permaisuri. "Beberapa tahun sebelum duchess Vilvred melahirkan, saya mendengar pasangannya menyembunyikan anak di luar nikah. Namun, kenapa sekarang beritanya berubah menjadi duke Vilvred membawa anak berusia muda ke rumah duke?"


Daniela menjadi bingung.


Pendeta agung menatap Ella yang duduk di bawah kaki ayahnya. "Sekarang, saya jadi penasaran- anak berusia empat belas tahun mampu menarik perhatian pangeran mahkota dengan wajah malaikat dan hidupnya diganggu saudara tiri? Apakah benar dia berusia satu tahun lebih muda dari Daniela?"


Duke Vilvred membantah. "Omong kosong apa yang anda bicarakan?"


"Bukankah tahun ini waktunya putri anda melakukan debut?" Tanya pendeta agung ke duke Vilvred.


Daniela semakin bingung. Usianya masih lima belas tahun sementara debut kekaisaran di usia delapan tahun, satu tahun lebih tua daripada kerajaan di negara lain. Siapa yang tahun ini harus melakukan debut?


Semua bangsawan di dalam ruangan menjadi gempar ketika mendengar pertanyaan pendeta agung.


"Daniela berusia lima belas tahun, bukankah belum cukup umur untuk melakukan debut?"


"Tapi tadi pendeta agung cerita mengenai gosip duke yang memiliki anak di luar pernikahan- apakah kamu mendengarnya?"


"Aku sempat dengar, tapi gosip itu dipatahkan dengan rencana pernikahan duke dan duchess sebelumnya setelah Aelthred memutuskan melindungi Vilvred."


"Aku kira gosip itu palsu."


Para bangsawan yang menjadi saksi, sontak menatap heran Ella.

__ADS_1


Ella menggeleng tidak berdaya. "Tidak! Usiaku empat belas tahun, satu tahun lebih muda dari kakak Daniela!" Jeritnya.


__ADS_2