
Marchioness masuk ke dalam ruangan setelah dipaksa dokter untuk bertemu dengan Edrik dengan susah payah. "Ada apa, dokter? Bukankah anda bisa mengatasi semuanya sendiri?"
Keringat dokter semakin banyak muncul. "Saya tidak bisa mengatasinya sendiri, Marchioness."
"Ada ap-" Marchioness terdiam begitu melihat sosok Edrik dan memberikan salam hormat. Suaminya sudah bicara mengenai sosok pangeran pertama. Terutama wajahnya yang mirip dengan permaisuri.
Edrik mendecak lalu menutup pintu dengan keras, menggunakan mana. "Apakah Marchioness bisa membantu aku?"
"Jika ada yang bisa dibantu, saya akan membantu."
Tanpa malu, Edrik membuka kaki. "Obati aku."
"Ya?" Tanya marchioness yang masih belum paham dengan maksud Edrik.
Dokter segera menjelaskan ke marchioness.
Marchioness diam-diam kagum dengan perempuan yang bisa menendang bagian kebanggaan pria. "Sangat canggung saya menyebutnya 'itu' bagaimana jika saya sebut piala? Bukankah para pria selalu membanggakannya seperti piala?"
Entah kenapa Edrik merasa marchioness sedang menyindirnya.
"Saya kebetulan memiliki es yang disimpan menggunakan kekuatan sihir, salah satu dokter kami adalah penyihir. Namun, anda harus tidak memakai apa pun supaya bisa dikompres." Marchioness menjelaskan dengan hati-hati. "Apakah bengkak?"
"Ya, dan sangat menyiksa." Angguk Edrik.
"Apakah anda canggung jika saya memeriksanya?" Tanya marchioness dengan tatapan polos.
Edrik langsung melindungi piala dan menutup kedua kaki. "Tidak! Tidak! Aku hanya butuh es untuk meredakan bengkaknya!"
"Bagaimana jika saya panggil salah satu anak saya untuk periksa? Sepertinya dokter tidak terlalu paham masalah ini."
Dokter mengangguk kecewa. "Ya, tidak ada yang pergi ke dokter saat sakit yang anda alami."
Marchioness tertawa geli lalu memanggil salah satu anaknya.
Tidak butuh waktu lama anak laki-laki marchioness datang dan memeriksa piala Edrik.
Edrik menggerutu. "Kamu harus memeriksanya dengan benar, jangan sampai salah diagnosa."
"Baik, Yang Mulia."
Tidak butuh waktu lama untuk si anak melapor ke marchioness dan dokter. "Memang agak bengkak, kemerahan. Sepertinya itu yang terkena seperti pukulan."
Marchioness dan dokter menatap sekilas Edrik yang tangannya sibuk membersihkan pedang supaya mengkilap.
Dokter bertanya pada marchioness. "Apakah di ibukota ada berita mengenai kebejatan Pangeran Pertama?" Tanyanya dengan khawatir.
Marchioness menggeleng singkat lalu menatap putra sulungnya.
__ADS_1
Sang putra ikut menggeleng. "Aku tidak terlalu tahu gosip kalangan atas."
"Bawa es dan masukan ke dalam kain bersih, biarkan Pangeran Pertama kompres sendiri pialanya." Perintah marchioness ke anaknya.
Putra marchioness bergegas menjalankan perintah ibunya.
Tiba-tiba Edrik bertanya pada marchioness. "Marquess menyuruh aku untuk merahasiakan identitas di depan anda, tapi kenapa anda bisa mengenal aku? Apakah Marquess berubah pikiran?"
Marchioness menghela napas. "Pria tua itu tidak pernah menyembunyikan apa pun di belakangku, sekalinya berbohong sudah pasti ketahuan."
"Lalu, apakah anda tidak akan melaporkan aku kepada kaisar?"
"Tidak." Jawab marchioness dengan tegas.
"Kenapa? Bukankah anda mendukung kaisar?"
"Anda jangan salah paham Yang Mulia. Sebagai dokter, pilihan utama saya adalah bersikap netral. Tapi jika saya berdiri sebagai istri dari penasehat kerajaan- saya lebih suka memilih seseorang yang bisa melindungi keluarga saya."
Dokter tidak mau ikut campur dalam percakapan, namun juga tidak bisa meninggalkan Pangeran Pertama dan Marchioness sendirian sehingga dia mencari kesibukan yang tidak terlalu penting di dalam ruang.
Pangeran pertama tidak menunjukkan ekspresi ketika mendengar jawaban dari marchioness. "Kaisar bisa melindungi anda? Anda yakin? Salah satu pengikut Kaisar sebelumnya?"
"Hanya itu yang bisa saya pikirkan."
Edrik memberikan pilihan ke marchioness. "Jika aku bilang akan melindungi keluarga Bill, apakah anda akan berubah pikiran?"
"Aku sedang memberikan pilihan, jujur saja- aku buta politik dan tidak terlalu paham tentang hubungan sosial. Marquess Bill sebagai penasehat kerajaan pasti akan bisa membantuku banyak hal, sebagai balasannya- aku tidak akan membiarkan Kaisar menyentuh kalian atau wilayah kalian."
Marchioness Green masih tidak menunjukan reaksi apa pun. "Anda memang memberikan kontribusi banyak untuk menjaga keamanan luar negara, tapi anda belum bisa menjaga keamanan dalam negara."
"Karena itu berikan aku kesempatan." Edrik menyarungkan kembali pedangnya. "Jika aku tidak diberikan kesempatan, aku tidak bisa menunjukkan kepada kalian betapa hebatnya strategi aku melawan mereka."
"Tawaran yang menggoda."
"Apakah anda tahu Marchioness, impian Marquess selama ini?"
"Apa itu?"
"Selama ini Marquess membiarkan anda dan anak-anak tetap memakai nama keluarga anda sendiri demi keamanan, Marquess pun tidak bisa berbuat apa-apa, tapi aku bisa memberikan impian itu kepada Marquess terutama anda."
"Kenapa jadi saya? Anda bisa berdiskusi dengan suami saya."
"Karena pengaruh anda sangat besar untuk Marquess mengambil keputusan."
Kedua tangan marchioness mengepal.
Putra sulung marchioness datang dan segera membantu pangeran pertama untuk mengompres piala.
__ADS_1
Marchioness balik badan.
"Saya berikan waktu sampai matahari terbit besok, semoga jawabannya sama dengan aku."kata Edrik.
Marchioness keluar dari ruangan.
Edrik menghela napas. "Ha- sepertinya aku harus istirahat sebentar, kalian berdua bisa keluar."
Dokter dan putra sulung Marquess Bill saling menatap lalu cepat-cepat keluar dari ruangan, sangat menyeramkan berdua dengan si gila perang dan haus darah.
Begitu pintu ditutup, Edrik segera melepas celana dan mengompres piala lalu mengumpat di dalam hati.
Rasanya sangat menyakitkan sedari tadi ditahan, sudah agak mendingan dari awal berkat pukulan pijat Zuu tapi entah kenapa ketika menyentuh tangan mungil dan lembut serta tanpa sengaja menyentuh bagian pinggang perempuan itu, pialanya kembali sakit.
Edrik mengunci pintu menggunakan mana lalu bersandar di kursi. Tangannya hanya bergerak untuk kompres piala.
Dewa dan pengikutnya yang lebih tertarik menonton Edrik daripada orang tidur, menjadi terpana.
"Apakah dia tidak menyadarinya, dewa? Yang dia rasakan bukan hanya rasa sakit."
"Bisakah begitu?"
Dewa mengangguk singkat. "Ya, dia bernafsu pada Daniela tanpa sadar. Menjijikan."
"Aku tidak menyangka si gila perang adalah tipe masokis."
"Jatuh cinta via tendangan."
Di saat dewa dan para pengikutnya asyik menonton sekaligus berdebat, marchioness bertemu dengan marquess.
"Bagaimana keadaan Pangeran Pertama?" Tanya marquess.
Alih-alih menjawab, marchioness bertanya pada marquess. "Apakah kamu masih ingin mendampingi Pangeran Pertama?"
Marquess Bill tidak berani menjawab.
Marchioness menyentuh pipi suaminya menggunakan kedua tangan. "Aku tahu kamu sangat mencintai kekaisaran dan ingin melihat kejayaannya lagi seperti di masa lalu. Tapi- aku yang terlalu egois sehingga membuat kamu menahan semuanya selama ini."
"Aku tidak menyalahkan kamu, semua dilakukan untuk kebaikan anak-anak kita."
Marchioness menggeleng. "Tidak, aku melakukan ini untukmu. Aku tidak ingin kehilangan kamu."
"Aku-"
"Di masa depan, jangan pernah mengecewakan siapa pun terutama Pangeran Pertama dan Permaisuri."
Kedua mata Marquess terbelalak. "Istri."
__ADS_1
"Aku masih belum memutuskan, hanya memberi saran."