
Para pendeta keluar dengan raut wajah datar, beberapa bangsawan yang masih berpikiran jernih mulai khawatir tentang wabah yang mendadak muncul.
"Pendeta Agung, sepertinya kita kesulitan keluar karena tiba-tiba muncul banyak rakyat menghadang pagar istana untuk mencari kita."
Pendeta agung menghela napas dan mengeluarkan keputusan. "Kita tidak bisa mengganggu keputusan Kaisar, pihak kuil menghormati perintah Kaisar."
Pendeta muda yang tidak tahu kondisi di dalam dan hanya berjaga di luar, tidak setuju dengan perintah pendeta agung.
"Pendeta Agung, bagaimana anda bisa mengeluarkan perintah tidak masuk akal?"
"Banyak umat yang menderita di luar sana."
"Apakah anda tidak kasihan dengan mereka yang menderita di sana?"
"Pendeta Agung, tolong jangan bertindak egois."
Pendeta tinggi rohan melindungi pendeta agung dan menunjukkan surat perintah yang dibuat langsung oleh kaisar. "Kaisar yang mengeluarkan perintah supaya pihak kuil tidak perlu ikut campur, kita hanya menghormati keputusan Kaisar."
Para pendeta tercengang.
"Karena itu, Pendeta Agung tidak bisa melakukan apa pun selain mendoakan para korban yang terkena wabah. Jika Kaisar melihat salah satu orang kita bertindak sendiri, pihak kuil tidak akan mengakui orang itu dan otomatis dia akan diusir dari kuil." Pendeta tinggi Rohan mengeluarkan perintah, mewakili pendeta agung.
Para pendeta menjadi bingung dan tidak berani berdebat lagi.
Pendeta tinggi Rahul menghela napas lega, para pendeta tidak perlu melakukan apa pun.
Pendeta agung memberikan perintah ke pendeta tinggi Rohan. "Perbanyak cetakan bukti ini, supaya kuil tidak disalahkan berbagai pihak."
"Baik."
"Lalu-" pendeta agung melihat pagar depan istana yang dipenuhi rakyat dan berteriak memanggil dirinya. "Umumkan ke rakyat disertai bukti perintah kaisar."
__ADS_1
Pendeta tinggi Rahul tidak setuju. "Kenapa kita tidak menunggu pihak istana yang mengumumkan? Kenapa harus pihak kuil terlebih dahulu? Bagaimana jika pihak Kaisar dan bangsawan menekan kita karena mengeluarkan pengumuman terlebih dahulu?"
Yang dikhawatirkan pendeta tinggi Rahul adalah posisi kuil yang akan didesak kaisar karena sifatnya yang suka berubah-ubah.
"Bukankah kita semua sudah menyadari sifat Kaisar yang selalu berubah demi menguntungkan dirinya sendiri?" Tanya pendeta agung tanpa merasa takut sedikit pun. "Jika kita tidak mengumumkan sekarang, disaat Kaisar masih bahagia dengan keputusan yang dibuatnya lalu tidak menutup pintu kuil sesuai perintah- kita yang akan lebih dirugikan. Kekacauan yang mereka buat diserahkan kepada kita, lalu mereka mendapatkan pujian- aku tidak mau."
Para pendeta tinggi serta pendeta muda yang mendengar, terkejut. Apa yang dikatakan pendeta agung memang benar, namun mengatakannya secara terang-terangan di dalam istana kekaisaran tempat para pendukung kaisar- bukankah kuil akan diserang lagi secara politik?
Kaisar berkali-kali berusaha menjatuhkan pihak kuil dengan alasan kekuasan kekaisaran cukup satu, namun tidak pernah menyatakannya secara terang-terangan.
Kaisar cukup menyuruh para pendukung untuk menekan kuil, untungnya kuil punya pendeta agung yang memiliki pengetahuan tidak kalah dari para bangsawan. Jika waktu itu yang menjadi pendeta agung adalah pendeta lain yang hanya mengandalkan kekuatan dewa dan doa- mungkin saja kuil tidak akan bertahan sampai sekarang.
Para pendeta tinggi dan pendeta muda yang sedang berhadapan dengan pendeta agung, tidak berani membantah lagi. Hanya pendeta agung yang tahu cara melindungi kuil dari kejahatan.
Tidak jauh dari tempat pendeta agung berdiri, pendeta tinggi Rou mengawasi dari lantai atas dan tertawa mengejek. "Kamu masih saja sombong seperti dulu, suatu saat kamu akan berlutut menangis dan minta pengampunan kepadaku. Aku tidak sabar melihat wajah sombong kamu mulai runtuh!"
Pendeta agung tersenyum sinis di balik topengnya setelah mendapat bisikan dari dewa.
Setelah mendapat arahan dari pendeta agung dan para pendeta tinggi, pendeta muda maju dan mengumumkan di depan gerbang.
Kenapa pendeta muda yang maju dan menghadapi rakyat yang putus asa? Kenapa tidak pendeta tinggi?
Jika pendeta tinggi yang maju, rakyat akan memaksa pendeta tersebut untuk memeriksa keluarga mereka yang sakit, dan jika pendeta tinggi itu tidak menuruti permintaan mereka, akan menimbulkan gosip buruk tentang kuil.
Lebih baik menyuruh pendeta muda yang maju dan mengumumkan, karena semua orang tahu bahwa pendeta muda masih dalam tahap belajar.
Pendeta muda mulai mengumumkan perintah kaisar dan menyatakan pihak kuil akan menuruti perintah kaisar, bukti perintah akan dipasang ke papan pengumuman di alun-alun kekaisaran.
Para rakyat memberontak marah dan juga ada yang menangis.
"Kenapa Kaisar bersikap jahat?"
__ADS_1
"Bagaimana nasib keluarga kami?"
"Tolong, kami tadi mendengar Pendeta Tinggi dan Pendeta Agung datang ke istana."
Pendeta muda akhirnya mengerti kenapa banyak rakyat berkumpul di depan gerbang istana daripada di depan gerbang kuil, mereka mendengar tentang acara pertemuan perwakilan Kuil dan Kaisar.
Pendeta muda menangkupkan kedua tangan dan berdoa dengan sungguh-sungguh. "Saya, sebagai perwakilan kuil meminta maaf tidak bisa mengobati banyak orang di kekaisaran, namun Kaisar sudah mengeluarkan perintah supaya pihak kuil tidak ikut campur. Kami sebagai warga negara kekaisaran Helcia, tidak bisa mengabaikan perintah beliau.
"Karena itu, saya sarankan semua orang pergi ke dokter terdekat dan mencari kesembuhan kepada mereka. Kaisar sudah mengatakan akan memberikan dokter terbaik untuk para rakyat."
Para rakyat yang berdiri di depan gerbang dan mendengar penjelasan pendeta muda tersebut menjadi kecewa.
Pendeta muda bergegas pergi dan masuk ke dalam kereta.
Pendeta agung membuka portal dan kereta masuk ke dalam portal.
"Tidak! Pendeta! Jangan pergi!"
"Hei, apa yang kamu lakukan? Tadi sudah dengar sendiri kan kalau para pendeta dilarang Kaisar untuk mengobati kita, kita harus berbuat apa? Tinggal mengharapkan dokter terbaik saja."
"Apakah kamu sudah bertemu dengan dokter terbaik standar Kaisar?"
"Para dokter yang disebut terbaik di kekaisaran bagi Kaisar adalah mampu berkata manis dan melayani bangsawan dengan baik, bagaimana dengan rakyat seperti kita?"
"Penjelasan kamu bertele-tele! Aku tidak mengerti sama sekali!"
"Apakah para dokter terbaik bagi Kaisar mau merawat rakyat miskin seperti kita? Mereka pasti beralasan biaya pendidikan dokter dan obat harganya mahal." Seorang wanita berusia setengah baya dan agak gemuk menepuk dada dengan sedih. "Suamiku dulu sempat sakit dan dibawa ke rumah sakit kekaisaran. Rumah sakit kekaisaran tidak seperti dulu lagi, mereka hanya bersikap baik pada pasien yang mau mengeluarkan uang banyak. Lalu bagaimana dengan kita? Mereka pasti tidak mau merawat kita dengan sungguh-sungguh."
"A- ada juga dokter baik hati yang mau merawat kita, mereka juga disebut yang terbaik di kekaisaran."
Wanita itu menjawab. "Memang mereka terbaik karena tidak pilih kasih, tapi kebaikan mereka hanya membutuhkan praktek untuk menangani penyakit sementara dokter yang benar-benar mau menangani penyakit untuk orang miskin seperti kita, diusir keluar dari ibukota."
__ADS_1