
"Anda sudah pulang?" Zoe yang tadinya duduk di tangga dan memakai pakaian rakyat biasa, bangkit ketika melihat Daniela masuk ke dalam rumah.
Daniela mengamati sekeliling. "Apakah tidak ada penjaga di sekitar kita?"
"Pangeran pertama memberikan saya kepada anda, tentu saja karena saya lebih hebat daripada bawahan lainnya dalam melindungi." Alis Zoe berkerut. "Anda tahu sedang dijaga?"
"Bagaimana bisa aku tidak menyadari keberadaan kalian?" Tanya Daniela. "Aura kalian memang terlihat samar dan disembunyikan dengan baik, tapi masih bisa aku rasakan."
Kedua mata Zoe menyipit curiga. "Kenapa- apakah pangeran pertama tahu bahwa anda adalah pemegang aura?"
"Bagaimana bisa dia tidak tahu? Dia pria berdarah dingin pasti tahu aku bisa memakai aura, apakah ada kabat dari mereka?"
Zoe masih menatap tidak percaya ke Daniela.
"Apa? Apakah kamu tidak percaya padaku?" Tantang Daniela ke Zoe.
Zoe menghela napas panjang lalu menyerahkan sebuah surat dari balik mantelnya. "Surat ini harus segera dibalas."
Daniela mengambil surat dari tangan Zoe dan langsung membukanya. Isi surat mengenai situasi di wilayah itu dan juga beberapa hal yang harus mereka hadapi, Daniela terkejut ketika membaca bagian polio.
Zoe yang peka, bertanya pada Daniela. "Apakah ada sesuatu yang mengkhawatirkan di sana?"
"Ada anak terserang polio, harusnya wilayah itu diisolasi supaya tidak terkena dampaknya."
"Apa?"
Daniela mencoba berpikir dengan tenang. "Dari surat ini saja mereka menemukan satu penyakit di sana, kita tidak tahu penyakit lainnya karena rakyat di wilayah itu tidak terlalu suka bahan kimia masuk ke dalam tubuh."
"Bahan kimia?"
"Obat-obatan."
"Mereka tidak suka dengan obat yang diracik dokter? Bagaimana dengan bahan herbal?"
"Di sini tertulis kalau rakyat masih mau memakai bahan herbal tapi tidak menyesuaikan takaran, intinya mereka tidak percaya pada tim kesehatan."
Zoe tidak percaya dengan pendengarannya. "Lalu bagaimana supaya mereka bisa sembuh? Apakah mengandalkan diri sendiri? Astaga, saya tidak bisa membayangkan ada orang-orang sebodoh itu."
Zoe mati-matian bekerja sebagai ksatria dan turun di medan perang menggantikan sepupu supaya Zuu sembuh dari sakitnya, dia tahu bagaimana pentingnya obat dan dokter.
__ADS_1
"Kita juga tidak bisa menyalahkan rakyat begitu saja, cara berpikir mereka berbeda dengan kita, mereka menggunakan pengalaman diri sendiri atau orang lain untuk menguatkan pemikiran mereka." Daniela mengingatkan Zoe.
Zoe terdiam begitu mendengar nasehat Daniela.
Daniela menarik napas lalu memutuskan sesuatu. "Sebaiknya kita bicarakan ini ke kuil."
"Kuil? Apakah anda ingin pihak kuil turun tangan langsung? Bukankah bisa bahaya?"
"Aku bicara ke permaisuri juga percuma, permaisuri pasti bersikeras untuk mengisolasi tempat itu dan menarik pangeran pertama di sana karena khawatir lalu kaisar akan mengetahui rencana kita dengan mudah."
"Anda benar juga."
"Tidak, tunggu. Kita juga tidak bisa gegabah bicara ke pihak kuil." Daniela tiba-tiba memikirkan sesuatu. "Jika pihak kuil mengetahui masalah ini, mungkin akan mengambil tindakan frontal dengan menangkap pendeta tinggi lalu menyembunyikan kasusnya."
"Duke, apakah anda tidak percaya pada kuil meskipun bekerja di sana?"
"Aku bukannya tidak percaya pada kuil, hanya saja aku tidak bisa membuat keputusan cepat dan terbaik." Kesal Daniela pada dirinya sendiri. "Apakah kamu tidak mendengar tentang Ella yang akan melakukan tes kesucian? Jika kuil menjadi goyah, kaisar dan ratu bisa mencari celah kuil. Aku tidak mau hal itu terjadi."
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Hanya diam?"
Daniela membaca kembali isi surat dan memastikan tidak ada kalimat yang tertinggal. "Tidak, kita tidak bisa diam saja. Resiko menular juga lebih besar. Ini baru satu penyakit yang ditemukan, belum penyakit lainnya."
"Di saat seperti ini rasanya aku jadi kesal sendiri karena tidak punya kekuasaan, yang ada malah gangguan tidak berar-" Daniela terdiam, tiba-tiba muncul ide tidak terduga.
"Ada apa?"
"Jika kita tidak bisa minta tolong pada permaisuri dan kuil, masih ada yang bisa dimintai tolong."
"Siapa?"
"Apakah ada kabar tentang pangeran pertama?"
"Tidak, belum."
Kaisar yang mendengarnya menjadi kesal. "Aku ingin tahu apakah dia sudah mati atau masih hidup! Kenapa tidak ada yang becus mencari tubuhnya? Gara-gara itu, aku tidak bisa tidur siang dan malam, berpikir dia akan datang untuk membunuhku!"
Penasehat kerajaan menyembunyikan emosinya dengan baik ketika mendengar perkataan kaisar mengenai putra kandungnya sendiri. "Yang Mulia, kekaisaran adalah tempat yang luas. Perlu waktu untuk mencari keberadaan pangeran pertama lagipula hilangnya beliau antara saat berperang atau perjalanan kembali ke sini."
__ADS_1
Kaisar yang mendengar laporan tidak bertanggung jawab di ruang kerja, semakin kesal. "Penasehat, tugas kamu hanya memberikan arahan bukan bekerja keras."
Penasehat kerajaan mengeluh di dalam hati. Anda memberikan saya tugas mencari pangeran pertama, padahal bukan tugas saya sama sekali dan sekarang anda malah marah karena pangeran pertama tidak bisa ditemukan? Kaisar, apakah anda sedang menekan saya karena saya mendukung permaisuri dan pangeran pertama?
Marquess Bill sudah menjadi penasehat kerajaan sejak permaisuri masih berusia lima tahun, kaisar sebelumnya berharap marquess dan keluarganya setia pada permaisuri karena hubungan baik di masa lalu.
Berita apa pun yang menyudutkan permaisuri setelah menikah dengan kaisar sekarang, marquess yang menyelamatkannya- termasuk soal menghasut pengiriman pangeran mahkota ke medan perang.
"Bukankah penasehat sudah lama bekerja di istana sejak permaisuri masih kecil? Harusnya paham bagaimana mencari anggota keluarga kekaisaran yang hilang."
Penasehat kerajaan diam menatap kaisar tanpa takut.
"Ckckck, lihat. Bahkan tidak takut sama sekali padaku yang memiliki kedudukan tinggi."
"Lalu saya harus bersikap bagaimana? Menundukkan kepala saat bicara dengan kaisar? Bukankah itu sangat tidak sopan?"
"Penasehat, aku bukan kaisar sebelumnya yang tidak bisa membedakan hubungan antara atasan dan bawahan."
Penasehat kerajaan mulai tidak suka dengan kritikan kaisar, lalu berlutut. "Apakah ini yang anda inginkan, Yang Mulia?"
Kaisar tertawa terbahak-bahak melihat tulang tua yang merasa harta karun kekaisaran, bisa berlutut di hadapannya. "Tidak buruk juga, aku suka melihatnya."
"Terima kasih, Yang Mulia."
"Hari ini aku berbaik hati, besok aku ingin mendengar jawaban yang lain."
"Baik."
"Pergilah, aku tidak mau melihat wajahmu lagi."
Penasehat kerajaan membungkuk hormat lalu bangkit dan berjalan meninggalkan ruang kerja kaisar, dia menghela napas ketika berhasil keluar dengan selamat. Mau sampai kapan situasinya seperti ini? Pangeran pertama, cepatlah sadar dan ambil tahta milik anda.
"Marquess."
Marquess Bill menoleh dan melihat salah satu utusan kepala pelayan mendekatinya. "Ada apa? Apakah ada masalah di rumah?"
Utusan itu berbisik di dekat marquess. "Duke Aelthred datang untuk menemui anda bersama salah satu tangan kanan pangeran pertama."
"Apa?!" Seru marquess Bill.
__ADS_1