
Orang-orang yang mendengarnya tidak percaya.
"Kamu siapa? Kamu pasti suruhan Permaisuri bukan?"
Salah satu orang yang mendukung Kaisar menunjuk wanita itu dengan nada arogan dan raut wajah marah.
"Permaisuri tidak pernah melakukan apa pun selama ini, hanya Kaisar dan Ratu yang peduli pada kita selama ini!"
"Benar, Kaisar dan Ratu sudah berbuat banyak untuk kita!"
"Kamu pasti suruhan Permaisuri untuk menjelekkan Kaisar dan Ratu!"
"Padahal Kaisar dan Ratu selalu membuka tempat untuk memberikan makanan gratis!"
Wanita yang menjelaskan fakta tersebut menatap geram mereka orang-orang di sekitarnya. "Terserah kalian jika tidak mau diberitahu! Aku hanya beritahu kalian saja!"
Beberapa orang mulai memikirkan perkataan wanita itu sementara yang lain tertawa mengejek.
Kuil ditutup dan tidak menerima umatnya satupun, Kaisar menyuruh bawahannya untuk bekerja keras.
Selama beberapa hari, mulai ada suara sumbang mengenai pihak kuil yang melarikan diri dan hanya mencari keuntungan.
Pendeta tinggi sudah mulai menyadari bahwa kaisar mulai kewalahan dengan berita penyakit atau kematian yang mulai tinggi, hingga pada akhirnya pendeta agung membawa para pendeta tinggi untuk membersihkan wilayah yang ditempati pangeran pertama sekarang.
Banyak pendeta muda mengajukan protes di dalam kuil, bahkan ada juga pendeta tinggi yang tidak setuju dengan keputusan sepihak pendeta agung.
"Apakah anda mendukung Pangeran Pertama secara politik? Kenapa kami tidak boleh menyembuhkan rakyat padahal angka kematiannya sudah tinggi dalam waktu dua hari."
Pendeta agung bertanya pada pendeta tinggi Rohan. "Apakah dokumen yang ditulis Kaisar tidak dibuat salinan dan dipasang ke papan pengumuman di tengah kota?"
Pendeta tinggi Rohan merasa bersalah. "Sudah, sepertinya banyak yang tidak membaca karena terlalu sibuk mengurus keluarga dan panik, setelah pengumuman wabah- gerbang ibukota segera ditutup dan tidak boleh ada yang keluar masuk."
"Siapa yang mengeluarkan perintah seperti itu?" Tanya pendeta agung. "Apakah Kaisar?"
"Permaisuri."
Pendeta agung terkejut. "Kenapa kamu tidak beritahu aku sejak awal? Jika Permaisuri yang mengeluarkan perintah, Kaisar bisa menuduhnya sebagai pelaku!"
__ADS_1
Pendeta tinggi Rohan mengerutkan kening. "Pendeta Agung, bukankah anda sudah mengetahui hal ini?"
Pendeta agung terkejut.
"Permaisuri juga tidak ingin bertemu dengan siapa pun, saya rasa anda sudah tahu mengenai berita ini."
"Aku tidak mengetahuinya, tapi mungkin lebih baik begitu. Jika ada yang keluar masuk, wabah semakin meluas. Cukup lindungi Permaisuri saja dan buat salinan lalu pasang juga di tengah kota bahwa pihak kuil hanya bisa melindungi Permaisuri atas perjanjian dengan Kaisar sebelumnya."
"Baik, saya mengerti."
Setelah perdebatan panjang di dalam kuil, akhirnya para pendeta tinggi setuju mengikuti pendeta agung. Sisanya berada di istana permaisuri. Para pendeta muda juga keluar dari ibukota, namun mereka hanya ditugaskan belajar serta membantu di dalam kuil.
Dengan begitu, kuil ibukota menjadi kosong dan dilindungi oleh dewa Helcia.
"Aku akan memindahkan kuil di tempat lain, sekitarnya pun menjadi kabut dan tidak bisa didatangi siapa pun."
Hanya itu bantuan dari dewa Helcia untuk pendeta agung dan pengikutnya.
Kaisar yang mengetahui kuil kosong, tidak ada siapapun bahkan disekitarnya berkabut lalu orang-orang yang nekat mendatangi kuil dengan melawan kabut, berjalan kembali ke rute semula. Mereka tidak disesatkan namun dipulangkan.
Rakyat miskin yang penampilannya jelek hanya diobati asal-asalan, yang dirawat inap mulai dibentak karena terlalu manja namun tetap saja mereka tidak bisa menyembuhkan orang-orang sakit, semua berakhir kematian.
Hingga pada akhirnya rakyat tidak berani pergi ke dokter hanya untuk memperpanjang usia orang-orang terkasih mereka.
Beberapa orang yang teringat dengan perkataan wanita itu mulai menyesal dan mencari wanita yang menasehati mereka, namun nahas, wanita itu dan keluarganya sudah meninggal karena terkena wabah.
Ibukota menjadi kacau sementara yang bisa dilakukan kaisar hanya marah dan melimpahkan kesalahan kepada para bawahannya.
Ratu mulai menangis ketika putra kesayangannya terkena wabah, dia menyalahkan Ella yang tidak bisa menjaga suami. "Bagaimana bisa kamu biarkan putraku pergi ke luar istana? Sudah aku bilang kalian harus diam di dalam istana, wabah sudah menyebar!"
Ella ikut panik, jika suami meninggal maka impian menjadi anggota keluarga kerajaan akan lenyap. "Yang Mulia, saya sudah beritahu Pangeran Kedua untuk tidak keluar tapi ternyata dia keluar malam-malam untuk mencari pelacur."
Ratu menampar pipi Ella. "Bagaimana bisa kamu bicara hal vulgar seperti itu? Karena kamu, putraku kehilangan posisinya sebagai Pangeran Mahkota, dan sekarang kamu malah bicara seolah putraku sangat menyukai pelacur?"
Ella menatap tidak percaya ratu, wanita yang selalu memuji dirinya bahkan bersikap baik, sekarang marah dan menampar dirinya. "Yang Mulia? Apa yang anda lakukan kepada saya?"
"Menurut kamu, apa yang aku lakukan kepada kamu? Wanita yang bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri."
__ADS_1
Ella menjerit dan menatap marah ratu.
Ratu dan para pelayan di dalam kamar pangeran mahkota sontak terkejut dengan tindakan tiba-tiba Ella.
"Aku tidak akan pernah memaafkan kalian semua!" Teriak Ella.
"Ka- kamu- kamu sudah mulai gila rupanya! Kurung dia! Kurung dia sekarang!" Teriak Ratu.
Para pelayan di istana Pangeran kedu tidak ada yang berani bergerak, para pelayan Ratu yang tadinya sudah bergerak menjadi terdiam ketika suasana menjadi hening.
Ella tertawa mengejek. "Yang Mulia Ratu, sebagai wanita kesayangan Kaisar yang memiliki masa lalu vulgar, seharusnya bisa belajar memanfaatkan situasi dengan baik."
Ratu menatap tidak percaya Ella. Istana pangeran kedua sudah dikuasai duke Vilvred dengan memanfaatkan wabah.
Dokter kaisar tidak bisa dipercaya dan hanya bisa memperpanjang hidup dengan uang, duke Vilvred rela mengeluarkan banyak uang untuk pengobatan para pelayan pangeran kedua dan istrinya untuk memperlakukan putri kesayangan duke dengan baik.
Jadi semua pelayan di istana pangeran kedua dan istrinya, yang semula melawan dan mencemooh Ella, mulai berbalik melindungi.
Ratu yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri, tidak menyadari kelakuan diam-diam duke Vilvred.
Ratu dan para pelayannya segera diusir dari istana pangeran kedua.
Berita ini sampai ke telinga permaisuri yang sedang bersandar di tubuh seorang pria.
Pria yang memiliki rambut panjang dan wajahnya tertutup dari kegelapan, menertawakan kebodohan ratu.
"Apa yang kamu tertawakan?" Tanya permaisuri, tanpa menggerakkan kepala.
"Orang bodoh tetap saja bodoh meskipun ditutupi dengan posisi dan harta yang banyak, mereka mudah dimanfaatkan begitu saja."
"Aku suka orang bodoh, mereka tidak akan pernah mengecewakan kita." Kata permaisuri dengan nada malas dan mata sedikit mengantuk.
"Kamu tidak keluar sama sekali? Kaisar pasti sedang mengamuk sekarang."
"Aku melarang semua pelayanku keluar dari istana, untuk membeli makanan sudah dikirim lewat portal. Jadi aku tidak perlu khawatir lagi. Apakah kamu cemburu sekarang?"
"Ya."
__ADS_1