
Ada satu hal yang dipelajari Daniela sekarang saat menghadapi para pria, mereka selalu melontarkan lelucon kotor, mengabaikan ketidak nyamanan lawan jenis bahkan anak kecil. Meskipun saat ini tidak semua bangsawan pria melakukan hal konyol semacam itu.
"Duke Aelthred, apakah ingin menyanggah pernyataan duke Vilvred?" tanya kaisar ke Daniela.
Daniela tidak memiliki banyak pengalaman menghadapi para pria sehingga otaknya menjadi agak buntu, apalagi ayah kandungnya turun tangan sendiri.
Daniela juga merasa kesulitan karena lawannya jauh lebih berpengalaman dalam pernikahan, ternyata memang dirinya yang terlalu menggebu-gebu di awal.
Pihak count Ava dan duke Vilvred tersenyum penuh kemenangan.
BRAK!
"Permaisuri kekaisaran Helcia telah tiba!"
Petugas pintu mengumumkan kedatangan permaisuri, semua orang di dalam ruangan kecuali kaisar. Berdiri dan memberikan salam ke permaisuri.
Permaisuri mengangguk singkat lalu duduk di samping kaisar. "Saya mendengar kisah menarik di sini, boleh saya ikut, kaisar?"
Kaisar tersenyum canggung dan sedikit panik. "Permaisuri, untuk apa ke tempat ini? Tempat pertemuan para bangsawan tidak bisa-"
Permaisuri melihat foto-foto di udara dengan terkejut. "Duke Aelthred."
"Ya?"
"Ini semua, apa?"
"Bukti kekerasan fisik yang diterima seorang bangsawan wanita, Yang Mulia."
Permaisuri merebut kertas di tangan kaisar. "Anda sudah selesai membacanya, bukan?"
"Ya." Angguk kaisar.
Permaisuri pelajari semua isi dokumen lalu berkomentar. "Memang benar, sangat disayangkan sekali kekaisaran kita tidak memiliki perlindungan hukum untuk wanita yang sudah menikah, seolah kita tidak peduli pada rakyat."
"Permaisuri, jangan terlalu berlebihan." Tegur kaisar.
__ADS_1
"Duke Aelthred, apakah ada hal lain yang ingin anda katakan supaya para pria di sini bisa mengerti apa yang ingin disampaikan para wanita."
Daniela berdiri. "Sebelumnya wanita hanya dijadikan alat untuk melahirkan penerus atau juga perhiasan berjalan untuk menentukan status, jika mereka tidak berguna- kebanyakan para pria akan mencari wanita lain sehingga para pria selalu mengabaikan anak dan istri, hal ini diperparah jika para istri tidak bisa melahirkan penerus."
Permaisuri mengangkat salah satu alisnya. "Memang, hal ini merupakan hal biasa. Tidak aneh lagi."
"Saya hanya ingin ada perlindungan untuk para wanita yang sudah menikah menjadi terjamin," kata Daniela.
"Tidak masuk akal, hidup dan mati seorang wanita ada di tangan suaminya bahkan kuil juga menyatakan bahwa dosa istri ditanggung oleh suami. Apapun yang terjadi, istri adalah milik suami. Tidak mungkin para suami melakukan hal jahat untuk istrinya." Bantah duke Vilvred dengan sengit.
"Bagaimana dengan kekerasan? Apakah anda setuju dengan seorang kepala keluarga yang menyakiti istrinya?" tanya Daniela.
Duke Vilvred menyipitkan kedua matanya ke Daniela. "Harusnya bisa dilihat dulu, penyebab suami melakukan kekerasan."
Daniela tertawa. "Apakah ada hal baik jika kekerasan muncul? Kebanyakan pelaku kekerasan hanya ingin mencapai tujuan egoisnya."
Count Ava menatap marah Daniela. "Lady, hati-hati. Saya bisa menuntut anda karena sudah menghina saya."
"Saya tidak pernah sekalipun menyebut nama anda, kenapa anda malah marah? Count." Kata Daniela ke count Ava.
"Saya hanya ingin menunjukan bukti bahwa wanita mendapat perlakuan tidak nyaman dari suaminya. Siapa yang akan menyelamatkannya jika bukan kekaisaran?" tanya Daniela.
"Kekaisaran bisa mengurus hal yang jauh lebih penting daripada sekedar keluhan wanita," sahut bangsawan lainnya.
Daniela membalasnya. "Pangeran pertama pergi berperang sejak muda, bahkan lebih muda dari anak-anak kalian sekarang. Harusnya pangeran mahkota yang pergi, bukan pangeran pertama tapi dia mengalah demi adiknya yang takut dengan darah. Lantas apakah kalian mengurusnya?"
Para pengikut kaisar berdehem.
"Kalian sendiri bersenang-senang di kekaisaran tanpa peduli apa yang sedang dialami pangeran pertama dan pasukan lainnya, lalu kenapa saya tidak boleh peduli tentang wanita yang disakiti oleh suaminya? Haruskah saya diam saja melihat mereka jalan dengan menutup seluruh tubuh karena luka sementara kalian semua bersenang-senang dengan wanita lain?"
"Saya yakin sekali, para bangsawan terhormat yang sudah hadir di tempat ini kebanyakan memiliki simpanan dan anak haram."
Permaisuri menatap Daniela dengan kagum, berusaha menyembunyikan senyumannya dan bicara ke kaisar. "Dia anak yang cerdas, kan?"
"Tentu saja, dia memang cerdas." Sahut kaisar.
__ADS_1
"Apa salahnya membuat peraturan hukum untuk melindungi para istri? Kenapa kalian keberatan? Padahal kalian sendiri merasa bukan pelaku." Daniela menatap semua bangsawan di dalam ruangan secara bergantian. "Kita semua tahu, tidak mungkin menikah dengan orang yang dicintai, hidup bersama dengan pasangan yang bukan pilihan kita."
Permaisuri mengangguk setuju. "Saya setuju untuk membuat peraturan hukum mengenai kekerasan rumah tangga dan juga kekerasan seksual, bukti sudah jelas ada meskipun hanya satu orang yang mau bicara."
"Bisa saja dia adalah saksi palsu yang dibuat duke Aelthred untuk menjebak." Terka bangsawan muda lain.
Daniela menggeleng kecil. "Jika memang saya orang sepicik itu, saya lebih suka menjadikan diri sendiri sebagai contoh."
Permaisuri tertawa. "Yah, memang. Kasus duke Aelthred jauh lebih bagus dijadikan contoh untuk penelantaran istri dan anak demi wanita simpanan, benar 'kan duke Vilvred?"
Duke Vilvred tidak menjawab, sudah menjadi rahasia umum bahwa dia mencintai anak dari kepala pelayannya sendiri. Pernikahan dengan ibu Daniela hanyalah pernikahan politik.
"Bagaimana kaisar?" tanya permaisuri ke suaminya. "Apakah anda juga setuju dengan saya?"
Kaisar menjadi dilema. Jika tidak setuju maka akan dicurigai telah menyakiti permaisuri dan pihak kuil bisa ikut campur menangani sementara jika setuju, maka pihaknya akan lebih banyak dirugikan.
Kaisar sudah tahu sisi gelap para pengikutnya, bahkan dia sendiri sempat memiliki kekasih gelap selain ratu, sebelum ratu memiliki pangeran mahkota.
"Anda tidak setuju?" tanya permaisuri.
Kaisar yakin sekali, apa yang ditanyakan permaisuri sekarang bukan pertanyaan tapi cemoohan pada dirinya.
Kaisar tersenyum. "Tidak mungkin saya tidak setuju, ide duke Aelthred sangat brilian."
Permaisuri tersenyum. "Nah, sebentar lagi para menteri akan meresmikan peraturan ini. Pemegang palu, tolong."
Pemegang palu tersadar dari lamunan lalu segera mengetuk palu dan mengumumkan perintah ratu mengenai aturan kekerasan rumah tangga sekaligus kekerasan seksual terhadap istri.
"Ada lagi yang ingin anda sampaikan, duke Aelthred?"
Masih banyak yang ingin diungkapkan Daniela, tapi dia masih tidak bisa melawan para bangsawan hanya bermodal semangat dan keberanian. "Tidak ada, Yang Mulia. Terima kasih sudah membantu saya."
"Justru saya senang memiliki bangsawan yang sangat peduli pada orang lain daripada bangsawan yang hanya memikirkan dirinya sendiri, benar bukan count Eklif?" tanya permaisuri.
Count Eklif setuju dengan pendapat permaisuri. "Tidak banyak anak muda seusia lady yang sangat peduli dengan orang lain. Ibu anda dan seluruh keluarga Aelthred pasti sangat bangga dengan anda, duke."
__ADS_1
Daniela tersenyum tulus.