AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
LIMA PULUH EMPAT


__ADS_3

Ratu mondar mandir dengan cemas di dalam kamar, tadinya bisa lega karena mendapat pendeta tinggi yang mau diajak kerja sama. Namun sekarang malah tidak bisa keluar dari wilayah.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Cemasnya.


"Yang Mulia, tidak perlu khawatir. Jika pendeta tinggi Rou menyebut nama anda- mereka akan mengizinkan pendeta keluar."


"Bagaimana jika pendeta itu tidak bisa keluar?" Tanya ratu.


"Tidak mungkin, siapa yang berani melawan kehendak ratu?"


"Permaisuri!" Teriak ratu. "Permaisuri bisa melawan kehendak aku! Aku tidak akan mengizinkan wanita itu berusaha menghancurkan hidup putraku!"


"Yang Mulia-"


Ratu cemas karena ancaman Daniela dan sekarang dia semakin cemas dengan nasib putranya lalu hubungan dengan duke Vilvred.


"Bukankah anda seharusnya menjalin hubungan dengan bangsawan lain? Anda bisa menjadikan putri duke Vilvred sebagai selir dengan alasan tidak suci."


"Bagaimana bisa aku melakukan itu? Duke Vilvred pasti tidak akan terima dan berusaha menjatuhkan aku sebagai ratu, bagaimana jika nanti dia membela permaisuri dan aku ditinggalkan?"


Dayang ratu menghela napas dan berusaha sabar, sebagai bangsawan dengan posisi rendah dan berhasil menarik perhatian bangsawan lain supaya tidak dicela lagi, dia mati-matian menjaga ratu supaya bisa berdiri tegak.


Namun, meskipun sudah ditutupi barang semahal apapun atau kedudukan tinggi- orang yang sejak kecil tidak mendapat pendidikan layak, tidak akan bisa berpikiran seperti bangsawan lain yang mandiri, mereka cenderung menggantungkan belas kasih terhadap bangsawan lain.


Dia tidak pantas menjadi istri penguasa tapi jika tidak sebodoh ini, dia tidak akan bisa dipermainkan. Dayang tersenyum dan berusaha menenangkan ratu. "Anda tidak perlu cemas, permaisuri tidak bergerak sama sekali. Kaisar dan orang-orang kita berusaha keras menjaga komunikasi permaisuri dengan pihak luar. Saya jamin, permaisuri tidak tahu."


Ratu berhenti mondar mandir dan menatap dayangnya dengan tatapan tidak percaya. "Benarkah?"


"Anda tidak perlu cemas, Yang Mulia. Saya berani menjaminnya, lagipula Duke Vilvred pasti tidak akan tinggal diam jika menyangkut masalah putrinya."


"Ya, kamu benar. Sepertinya aku yang terlalu cemas berlebihan." Ratu duduk dan mengatur napasnya. "Aku percaya pada kalian semua."


Dayang mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Di saat ratu dan dayang sedang berusaha menenangkan diri, Daniela pergi menghadap pendeta agung keesokan harinya.


Pendeta agung mengerutkan kening ketika mendengar rencana Daniela. "Bukankah hal itu sangat beresiko? Bisa saja dia melukai adik kamu."


"Pendeta agung, Andi memiliki sifat keadilan yang tinggi mengenai agama yang dianutnya. Bukankah patut diapresiasi?"


"Apa? Lady, apakah anda sudah gila? Tim lain berusaha mencari tahu apa yang ada di kepala Andi." Kata pendeta tinggi Rahul.


"Apakah kalian menemukannya?" Tanya Daniela dengan tatapan polos. "Kalian menemukan bukti kejahatannya?"


"Itu-"


"Kenapa kita tidak mengorbankan penjahat saja? Selama ini mereka sudah merugikan pihak kuil, anda juga tidak ingin terjadi sesuatu pada kuil kan?" Tanya Daniela ke pendeta agung.


"Itu-" pendeta tinggi Rahul tidak bisa menjawab lalu melirik pendeta agung untuk meminta bantuan.


Pendeta agung yang sedari tadi bersandar sambil memejamkan mata, menjawab dengan santai. "Saya tidak masalah, selama demi kebaikan kekaisaran."


Pendeta tinggi Rahul tercengang dengan jawaban pendeta agung. "Bagaimana jika kaisar menuntut jawaban?!"


Pendeta tinggi Rahul menatap tidak percaya anak perempuan berusia lima belas tahun yang bisa memikirkan rencana licik.


"Kita tidak ingin terjadi sesuatu pada kuil dan juga kekaisaran, jika di masa depan terbukti kuil telah melakukan pemalsuan, apakah akan ada yang percaya pada kita?" Tanya Daniela sambil mengangkat kedua bahunya dengan santai.


"Apa bedanya dengan sekarang? Sekarang kita juga melakukan penipuan."


"Bedanya?" Daniela cekikikan. "Banyak, anda bisa lihat sendiri hasilnya nanti. Bagaimana jika kita bertaruh? Saya akan menggantikan tugas anda jika saya salah tapi jika saya menang, serahkan semua harta anda."


Pendeta tinggi Rahul sempat tergoda dengan tawaran jika Daniela kalah lalu melupakannya jika Daniela menang. "Tidak, lupakan. Saya akan lakukan. Sebagai gantinya, saya akan meningkatkan keamanan kuil saat upacara kesucian."


Daniela tersenyum puas sekaligus berdoa di dalam hati supaya pangeran pertama dan pasukannya bisa menahan lama pendeta tinggi Rou.


--------

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Bagaimana bisa terjadi hal seperti ini? Bukankah kekaisaran sudah menyebarkan berita mengenai pentingnya vaksin terhadap anak-anak?!" Teriak Marin dengan marah. "Bagaimana bisa wilayah hanya memiliki satu dokter tua dan memiliki obat yang terbatas?!"


Marin bisa gila melihat kondisi rakyat di wilayah Fei.


Edrik dan Zuu menjaga jarak supaya tidak mendapat omelan sang dokter sekaligus istri dari Marquess Bill.


Marin menuntut jawaban ke Rose, pemilik anjing yang sempat diselamatkan Edrik. "Bagaimana bisa ada orang tua yang tidak percaya dengan namanya vaksin? Apakah mereka ingin membunuh anak-anaknya?"


Rose ketakutan hingga tidak bisa menjawab. "I- itu-"


Marin berteriak dan memarahi orang-orang di sekitarnya sambil menunjuk salah satu anak yang terkena dampak. "Mencegah jauh lebih baik daripada tidak! Apa kalian tidak punya otak? Tubuh masing-masing orang itu berbeda! Jika ada yang tertular, apakah kalian mau bertanggung jawab?!"


Semua terdiam kecuali anak kecil yang sakit itu menangis karena ketakutan, dia mengira dirinya adalah wabah.


"Maaf- maafkan saya-"


Marin Green memijat keningnya dengan kesal. "Apakah ada anak-anak lain yang terkena? Kumpulkan secara paksa dan cek, lalu vaksin anak-anak yang tidak tertular."


Dokter wilayah Viscount Fei buru-buru bertanya ke Marin Green. "A- apakah anda punya obat-obatan atau vaksin? Di sini tidak ada vaksin dan saya hanya punya tanaman herbal, butuh waktu untuk mengurus-"


Marin Green melambaikan tangannya dengan santai. "Tidak perlu, aku sudah membawa berbagai obat-obatan."


Zuu bertanya. "Dalam waktu satu malam, anda berhasil mendapatkan banyak obat? Apakah kaisar tidak tahu mengenai hal ini?"


Marin Green menatap tajam Zuu. "Apakah kamu bodoh? Bukankah kamu salah satu kaki tangan pangeran pertama? Seharusnya kamu lebih paham dari mana kami mendapatkannya dan aku tidak perlu menjelaskan."


Kedua mata Zuu berkedip bingung lalu terbelalak. Permaisuri? Anda mendapatkannya dari permaisuri? Bukankah permaisuri tidak boleh tahu mengenai masalah ini supaya tidak cemas berlebihan?


Mata Edrik mengeras ketika memikirkan jawaban yang sama dengan Zuu.


Marin Green dan kedua anaknya mulai bekerja sama dengan tim dokter yang mereka bawa dari wilayah Marquess Bill.


Edrik, Zuu dan pasukan lainnya menjaga wilayah supaya tidak ada pengacau yang datang menghalangi tugas mereka, terutama dari pihak kuil.

__ADS_1


Pendeta tinggi Rou yang uring-uringan dan mencari suasana dengan keluar dari kuil, terkejut melihat situasi yang asing di matanya.


__ADS_2