AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
EMPAT PULUH TUJUH


__ADS_3

Duke Vilvred terlalu menyayangi Ella dan tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya. "Ayah mengerti, ayah akan mencoba cari jalan supaya kamu keluar dari masalah."


Ella bertanya ke ayahnya. "Tapi, benarkah gosip itu?"


"Gosip apa?"


"Mereka bilang, menikah dengan salah satu anggota keluarga kerajaan harus suci."


"Peraturan hanya dibuat manusia, tidak perlu takut. Yang terpenting hati pangeran mahkota hanya untuk kamu."


Ella mengangguk dengan raut wajah bahagia. "Tenang saja ayah, pangeran mahkota sangat mencintaiku. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Putri ayah memang cerdas, ayah tidak perlu khawatir."


Ella tersenyum lalu berlari untuk memeluk ayahnya. "Terima kasih, ayah."


Duke Vilvred tersenyum dan membelai rambut Ella. "Sama-sama."


Hari ini Ella dan duke Vilvred tersenyum seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi ternyata harapan mereka salah. Pihak kuil bersikeras menekan Ella untuk tes kesucian.


Duke Vilvred selalu ada di tempat terdepan untuk melindungi putri kesayangannya.


Di tempat pangeran mahkota yang sedang dikurung ratu demi melindungi martabatnya. Jika ratu tidak melakukan itu, pangeran mahkota akan tetap berlarian di samping Ella.


Akibat hal itu, pangeran mahkota mengadu pada ayahnya yang sedang berkunjung.


"Kenapa malah ayah yang datang? Bukan ibu?"


"Apakah kamu tidak mendengar gosip yang beredar di luar istana?"


"Ya, saya sudah mendengar. Ella tidak sepenuhnya salah, dia hanya selalu mengikuti kemauan aku."


Kedua mata kaisar menyipit ketika mendengar kalimat bodoh keluar dari mulut putra kesayangannya. "Apakah kamu tidak tahu efek dari kelakuan seperti itu?"


Pangeran mahkota berkelit. "Ibu dan ayah bisa menikah tanpa harus ada persetujuan dari pihak kuil, kenapa aku harus mengikuti aturan tidak berdasar?"


"Pangeran mahkota, apakah kamu merasa cerdas sekarang? Apa yang kamu katakan adalah cerminan dari orang bodoh."


Perkataan pangeran mahkota tentang pernikahan kedua, membuat hati kaisar sakit. Menikah dengan putri kaisar membuat harga dirinya terluka meskipun mendapat banyak keuntungan dari posisinya sekarang.


Permaisuri pun tidak terlalu banyak bertingkah, hanya saja entah kenapa dirinya selalu merasa bahwa permaisuri diam-diam meremehkannya meskipun dia tidak punya bukti.

__ADS_1


"Ay-" pangeran mahkota cemas saat melihat perubahan wajah ayahnya yang marah. Apakah dirinya mengatakan sesuatu yang salah?


Kaisar menaikan tangan untuk mendiamkan pangeran mahkota. "Pernikahan aku dan ibu kamu tidak direstui pihak kuil karena aku bukan keturunan kaisar sah meskipun aku sudah menjadi kaisar."


Pangeran mahkota terdiam, dia melupakan fakta itu.


"Ayah datang kesini hanya untuk melihat kondisi kamu, bukan mendengar keluhan. Langkah yang sudah dibuat ibu kamu memang benar. Jika kamu tidak dikurung, apa yang sudah kamu lakukan sekarang? Menempel pada seorang lady?"


"Tidak, ayah. Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu."


"Apakah kamu tidak menyadari kelakuan kamu di masa lalu?"


Pangeran mahkota kembali terdiam.


"Jika semua orang tahu Ella tidak suci, menurut kamu siapa yang akan diuntungkan?"


Wajah pangeran mahkota berubah pucat dan mulai mengerti dengan perkataan ayahnya. "Daniela."


"Benar. Para bangsawan muda ataupun tua, pasti berubah pikiran. Mereka akan menganggap kamu telah melakukan perselingkuhan dan moral yang tidak bisa dijadikan contoh untuk masyarakat lalu posisi pangeran mahkota kamu bisa dicopot dengan mudah."


"A- ayah."


"Posisi kamu sangat hebat, karena itu jangan pernah melakukan sesuatu yang bisa menggoyahkan posisi kamu. Jika ingin melakukan kejahatan, jangan sampai diketahui orang lain. Kamu mengerti?"


Kaisar tersenyum puas. "Aku ingin melihat kamu bisa menggantikan posisi aku."


Pangeran mahkota selalu merasa aneh ketika kaisar mengeluarkan kasih sayang hanya untuk dirinya, sementara pangeran pertama selalu diberikan tatapan kebencian dan diacuhkan, namun dia menepis semua pertanyaan itu di benaknya.


Seiring berjalannya waktu, pangeran mahkota menyadari posisinya yang beresiko meskipun sedikit bandel.


"Sampai tes kesucian itu selesai, kamu harus tetap di kamar supaya tidak ada yang curiga. Kamu mengerti?"


"Ya, ayah."


"Jangan membuat aku kecewa."


Pangeran mahkota menghela napas. "Maafkan aku ayah, aku tidak akan mengecewakan ayah."


Kaisar tertawa puas.


Pangeran mahkota teringat dengan posisi kakaknya yang masih tidak ada kabar. "Bagaimana dengan kakak? Apakah ayah sudah menemukan mayatnya?"

__ADS_1


Kaisar menatap curiga pangeran mahkota. "Kenapa kamu percaya diri pangeran pertama sudah mati?"


"Ayah, kakak tidak mungkin masih hidup setelah peperangan itu. Jika masih hidup, kakak tidak akan membuat permaisuri mengurung diri di dalam kamar atau melakukan hal yang tidak penting seperti ikut campur dalam hubungan aku dan Ella."


"Hm, kamu benar. Kemungkinan besar orang itu sudah mati. Lalu bagaimana jika dia tiba-tiba muncul?" Tanya kaisar yang mencoba tes putra tersayangnya.


"Jika tiba-tiba muncul, apakah dia sedang melakukan pemberontakan?"


"Pemberontakan?" Tanya kaisar yang terkejut. Tidak menduga pangeran mahkota menjawab hal lain.


"Ya, ayah. Seorang pangeran yang telah lama menghilang tanpa kabar lalu semua pasukannya sudah tiba di kekaisaran, bukankah dia sedang melakukan pemberontakan?" Angguk pangeran mahkota.


Kaisar mendengus kesal. "Kamu benar, kenapa aku tidak kepikiran sama sekali mengenai hal ini?"


Pangeran mahkota berusaha menjilat ayahnya. "Ayah pasti sibuk, tidak mungkin memikirkan hal ini. Sebagai putra ayah, aku harus bisa menyumbangkan pikiran."


Kaisar menjadi bangga pada pangeran mahkota. "Kamu memang putraku hahahaha! Jauh lebih baik dari pangeran pertama yang berusaha membuat darahku mendidih."


Pangeran mahkota tersenyum licik. "Tenang saja ayah, aku akan menjadi anak yang bisa ayah banggakan."


"Memang harusnya begitu."


Di saat kaisar dan pangeran mahkota bicara, pangeran pertama mengorek telinga kirinya yang berdengung.


"Hm? Siapa yang bicara jelek mengenai aku? Apakah dia ingin mencari mati?" Tanya Edrik.


Zuu yang merawat luka di perut Edrik menjawab dengan sedikit kesal. "Mungkin saja para pengikut kuil di sini, mereka mulai curiga terhadap kita."


"Apakah mereka sudah datang menghampiri kita?" Tanya Edrik.


"Tidak, belum. Sepertinya mereka berusaha mencari jalan untuk menjatuhkan kita. Pangeran pertama, apakah anda sudah lihat salah satu anak yang hanya duduk di depan pintu rumahnya? Dekat dengan lokasi kita?"


"Tidak, aku tidak perhatikan. Memangnya ada apa dengan anak itu? Apakah tiba-tiba terluka juga?"


"Tidak, saya tidak sengaja melihat kaki dan salah satunya seperti mengecil dan berbeda dengan kaki yang lain. Sepertinya anak itu kena polio."


"Polio?" Tanya Edrik yang tidak percaya. "Bukankah sudah lama tidak ada yang kena polio? Kenapa muncul lagi?"


"Anda harus mengirim surat ke duke Aelthred untuk mencari jalan keluar masalah ini."


"Kenapa harus Daniela yang dilibatkan? Dia tidak tahu apapun."

__ADS_1


"Jika tiba-tiba pihak kuil atau permaisuri bertindak, pasti akan menimbulkan pertanyaan, sebaiknya beritahu duke untuk mencari jalan keluar terbaik. Dia tahu mana yang terbaik."


Edrik masih tidak paham dengan jalan pikiran Zuu.


__ADS_2