
Jack Green, putra sulung Marquess Bill. Berusia enam belas tahun dan belajar kedokteran dari sang ibu, tidak diizinkan terjun dari dunia politik oleh sang ayah demi keselamatannya.
Aku pikir ayah terlalu takut menghadapi kaisar, ternyata ayah lebih tidak ingin kehilangan aku dan ibu. Batin Jack setelah mendapat banyak petuah dari sang ayah.
"Jika ada masalah yang menyangkut nyawa, lari dan sembunyi tapi jangan menjauh dari jangkauan pasukan Pangeran Pertama."
"Bukankah itu merupakan tindakan pengecut?"
Marquess Bill memukul kepala putranya dengan keras. "Tindakan pengecut kalau kehilangan nyawa sama saja, apakah kamu ingin melihat ibu dan ayah ini sedih?"
Jack mengusap kepalanya yang dipukul sambil meringis. "Tapi ayah, mengambil jasa orang lain bukankah merupakan suatu penghinaan?"
"Aku hanya mengizinkan satu hal ini saja, tidak ada lain waktu. Lagipula kita tidak bisa melawan perintah Pangeran Pertama. Ingat, jangan beritahu siapa pun jika ada Pangeran Pertama di sini. Katakan saja memang dengar gosip tapi masih dalam pencarian."
Jack yang mengingat keributan ayahnya sebelum berangkat hanya untuk memberikan nasehat, tertawa kecil lalu melirik belakang kereta yang berisikan Pendeta Tinggi Rou yang sudah diikat menggunakan tali.
Jack menghela napas panjang. Jantungnya berdebar kencang, ini pertama kalinya dia jauh dari keluarga dan mendapat kepercayaan misi setelah sekian lama selalu berada di rumah dan tidak boleh berhubungan dengan siapa pun.
Jack tidak bisa menyalahkan ayahnya yang memiliki masalah dengan Kaisar, justru sebaliknya- dia merasa kesal karena merasa tidak berguna sebagai anak. Ketika anak perempuan bernama Daniela menunjuknya untuk mengawal Pendeta Tinggi Rou, dia tidak menolak sama sekali.
Setiap satu jam sekali, Jack harus menyuntik obat tidur supaya Pendeta Tinggi Rou tidak bangun dan membahayakan sekitarnya. Luka yang dibuat oleh Daniela pun sudah tidak ada begitu pedang ditarik.
Jika dia manusia normal, pasti kehilangan banyak darah dan merasakan rasa sakit yang tidak terhingga tapi, saat ini jiwanya sudah menyatu dengan iblis sehingga tidak akan merasakan sakit saat terluka lalu luka dengan cepat menghilang. Jack tidak menyangka bisa melihat secara langsung seseorang yang sudah menjual jiwanya ke iblis.
Salah satu ksatria, penasaran dengan obat yang dibawa Jack dan mulai bertanya. "Saya penasaran, pria ini sudah menjual tubuhnya ke iblis. Luka dan menggoreskan tubuhnya tidak mempan, tapi kenapa obatnya efektif?"
Jack menjelaskan setelah menutup dan mengunci pintu kereta. "Meskipun menjual jiwa ke iblis, cangkang yang dipakai tetap tubuh manusia. Jika kita menyerang secara fisik, maka yang terluka hanyalah tubuh iblis yang menyelimuti tubuh manusia. Tapi berbeda jika kita memberikan sesuatu dari dalam tubuh. Tubuhnya tetap akan mengikuti tubuh manusia yang peka dengan obat."
Ksatria lain bertanya. "Bagaimana jika tiba-tiba kita mengrluarkan tubuh iblis dari manusia saat terluka?"
"Iblis adalah makhluk yang licik, mereka pasti akan keluar setelah meninggalkan luka. Sehingga manusialah yang terluka."
Kedua ksatria saling menatap tidak mengerti lalu menggeleng bersamaan.
Jack menjelaskan. "Kita sebut tubuh fisik manusia A lalu tubuh iblis B. A diserang secara bertubi-tubi akan merasakan rasa sakit tapi tidak mengeluarkan darah karena yang menutupinya adalah B. Tapi, jika B keluar dari A maka-"
__ADS_1
Kedua ksatria akhirnya mengerti.
"Intinya A tetap terluka namun ditahan oleh B. Licik juga."
"Aku pikir iblis mampu menyembuhkan tubuh, sempat minta tolong biar iblis bantu kita tapi ternyata-"
Jack berdiri lalu menepuk ksatria yang memiliki pemikiran itu. "Pemikiran kamu baik, tidak apa. Tidak ada yang salah, hanya saja kamu tidak tahu."
Jack kembali menatap kereta. "Ayo, kita lanjutkan perjalanan. Sebentar lagi sudah tiba di titik mencapai loka-"
Para ksatria pangeran pertama menjadi waspada di sekitar.
Jack naik ke kudanya. "Ayo lanjutkan perjalanan!"
Semua anggota tim bergegas menuju titik lokasi.
Baru beberapa langkah kaki kuda, mereka semua sudah dihadang pasukan tanpa lambang.
Jack menatap tajam mereka dan berteriak. "Siapa kalian?!"
"Tidak peduli, siapa kami. Kalian semua harus mati!"
Para ksatria Pangeran Pertama dan Jack ikut mengeluarkan pedangnya dan mulai melawan mereka.
---------
Pendeta Tinggi Rou terbangun lalu melihat sekeliling. Di mana ini?
Pendeta Tinggi Rou yang baru sadar dirinya di dalam kereta, segera keluar dan melihat banyaknya mayat.
Dia tertawa dan segera menyerap mayat dan darah di dalam kegelapan untuk dijadikan makanan peliharaannya.
Setelah memeriksa dan memastikan tidak ada orang lagi di sekitarnya, dia segera berjalan menuju ibu kota. Kalau tidak salah hanya butuh waktu satu jam dari tempatnya berdiri menuju ibukota, dia hapal area ini karena selalu pergi keluar masuk ke ibukota.
Dengan langkah tertatih karena efek obat dan juga lelah karena menggunakan kekuatan besar, dia memaksakan diri untuk berjalan setelah mengambil salah satu lambang Pangeran Pertama.
__ADS_1
Pendeta Tinggi Rou tertawa keras di dalam hutan. "Dengan begini, Kaisar akan tahu keberadaan Pangeran Pertama lalu menyerang wilayah itu. Mereka sudah menghancurkan negara impianku dan juga impian menjadi Pendeta Agung."
Hanya kebencian yang ada di benaknya.
Sesampainya di gerbang perbatasan ibukota, Pendeta Tinggi Rou melapor ke ksatria perbatasan. "Aku Pendeta Tinggi Kuil, ingin bertemu dengan Kaisar dan juga Ratu karena mendapat perintah."
Para ksatria yang menjaga saling bertukar tatapan.
Sementara di aula pertemuan, Kaisar mendengarkan perdebatan para menteri dan perwakilan bangsawan dengan bosan. Topik kali ini adalah pangeran kedua yang kehilangan suksesi sekaligus harus berada di bawah nama permaisuri.
"Bagaimana bisa Permaisuri melakukan kejahatan mengerikan dengan memisahkan ibu dan anak?!"
"Apakah Permaisuri serakah?"
"Hanya karena tidak ingin kehilangan posisi Permaisuri, jadinya ingin mengambil Pangeran Kedua?"
Yang marah dengan tindakan Permaisuri adalah fraksi ratu terutama duke Vilvred yang hanya berdiri diam, menonton tapi juga mendukung fraksi ratu.
"Hati-hati jika kalian bicara, Permaisuri adalah keturunan sebelumnya Kaisar! Dia berhak membawa anak Ratu di bawah sayapnya."
"Pangeran Pertama sudah berkorban demi keamanan negara, apakah masih kurang bagi kalian- para bangsawan mendapatkan hidup nyaman?"
"Jika aku menjadi kalian, aku akan malu karena berhutang nyawa pada Pangeran Pertama yang sudah berjuang mati-matian melawan musuh."
Yang membela Permaisuri adalah fraksi Permaisuri.
Fraksi netral hanya menonton perdebatan kedua fraksi dan juga para menteri yang beralasan menjaga kedamaian negara.
BRAK!
Semua orang mengalihkan tatapan ke seorang ksatria yang datang terburu-buru dan melapor. "Yang Mulia Kaisar, Pendeta Tinggi Rou datang untuk menemui anda."
"Pendeta Tinggi Rou?"
Duke Vilvred terkejut.
__ADS_1
"Dia menunjukan surat berisikan cap Ratu dan Kaisar."
Kaisar mengangkat kedua alisnya dengan heran. Kenapa dia baru muncul sekarang? Kemana saja dia selama ini?