
Flashback Daniela, kehidupan pertama sebelum reinkarnasi.
"Ratu, terima kasih telah mengundang saya." Daniela menghabiskan teh yang disuguhkan ratu lalu diletakkan di atas meja. Ibu pengasuhnya selalu mengajarkan untuk menghabiskan semua makanan atau minuman yang disuguhkan tamu meskipun rasanya tidak enak.
Ratu yang membawa ke empat temannya untuk ikut pesta teh, mengerutkan kening. "Apakah kamu tidak pernah diajarkan tata krama?"
"Ya?" Tanya Daniela tidak mengerti.
"Tata krama sangat penting untuk kehidupan bangsawan wanita, terutama jika kamu adalah tunangan pangeran mahkota. Aku kira duke Vilvred sudah memberikan pelajaran tata krama dengan baik sehingga aku tidak perlu turun tangan mengatasinya." Omel ratu.
Daniela masih tidak paham dengan perkataan ratu. "Yang mulia ratu, maaf. Saya tidak begitu paham dimana letak kesalahan saya karena bibi pengasuh bilang-"
"Apakah kamu tidak bisa bertanggung jawab kehidupan sendiri tanpa menyalahkan orang lain? Setiap membuat kesalahan, selalu menjawab bibi pengasuh ini, bibi pengasuh itu."
Daniela menunduk. "Maafkan saya."
Ratu mengipas tubuhnya untuk meredakan emosi. "Bagaimana bisa kamu menjadi permaisuri dengan pengetahuan konyol begitu? Menghabiskan minuman? Apakah duke Vilvred terlihat miskin sampai minuman pun dihabiskan tanpa tersisa."
Daniela tidak berani membantah.
Teman-teman ratu ikut menimpali.
"Lady Ella memang yang terbaik, pengetahuannya tentang tata krama di atas rata-rata padahal belum debut."
"Kalau tidak salah putri saya pernah mendengar bahwa lady Daniela terlalu sombong karena menjadi tunangan pangeran mahkota sejak kecil sehingga menganggap semua pelajaran tidak berguna."
"Lady Daniela juga selalu menyiksa duchess sekarang hanya karena anak kepala pelayan, pantas saja duke tidak menyukai anak tidak tahu diri."
Kenapa-
"Apakah sifatnya menurun dari duchess sebelumnya?"
Kenapa-
"Yah, lebih baik duchess sebelumnya meninggal. Jika melihat perilaku putrinya seperti ini, memang lebih baik dia meninggal lebih cepat daripada malu."
Kenapa kalian menghina ibuku dengan mudah?
"Permaisuri juga begitu, bukan? Semenjak pangeran pertama tidak mengirimkan kabar, aku dengar permaisuri berteriak seperti orang gila."
Lalu kenapa kalian menghina permaisuri begitu mudah?
"Cukup, aku tidak ingin kalian mengkritik permaisuri di istana." Putus ratu. "Daniela, aku akan mengirim guru pengajar untuk kamu. Jangan sampai membolos!"
"Baik, ratu. Terima kasih atas kebaikan hati dan berkah anda."
__ADS_1
Kenapa kalian juga menyalahkan aku?
"Sekarang pergilah, aku hanya penasaran dengan tata krama kamu, ternyata memang buruk. Jangan merusak mood aku hari ini." Usir ratu menggunakan kipasnya.
Daniela berdiri lalu membungkuk hormat pada ratu dan pergi meninggalkan taman, suara teman-teman ratu masih terdengar di telinganya.
"Aku tidak percaya anak seperti itu keturunan duke Vilvred."
"Berbeda dengan lady Ella yang seperti malaikat."
Bagaimana bisa kalian membandingkan aku dengan anak selingkuhan ayah?
"Ah, lady Daniela. Di sana bukan arah menuju luar istana."
"Aku tahu, aku hanya ingin mengunjungi pangeran mahkota."
Dayang istana ratu menghalangi jalan Daniela. "Anda tidak boleh ke sana, anda belum menjadi istri pangeran mahkota."
"Hahahaha- pangeran mahkota jangan begitu, geli!"
Daniela mendengar suara Ella dari luar kamar pangeran mahkota, dia berlari melewati dayang ratu dan berdiri di depan pintu kamar pangeran mahkota yang terbuka.
Ella duduk di atas pangkuan pangeran mahkota dan mereka berdua berciuman.
Selesai mereka berciuman, Ella bertanya dengan nada centil. "Aku dengar kakak pergi ke taman istana ratu, apakah anda tidak pergi ke sana?"
"Buat apa aku pergi ke sana?"
"Kakak tunangan anda, harusnya anda menemani kakak."
"Buat apa aku menemani anak jelek itu? Dia tidak pernah bergaul dengan bangsawan dan selalu menindas kamu serta duchess, bagaimana bisa aku menikah dengannya? Lagipula dia harusnya menjadi tunangan aku yang disiapkan menjadi pangeran mahkota."
"Anda jangan bicara begitu, kita harus bersyukur karena anda menjadi pangeran mahkota."
"Benar, aku bersyukur memiliki kekasih cantik seperti kamu. Bersabarlah."
Dayang ratu menutup kamar Daniela dan marah. "Apakah anda punya hobi pengintip sekarang? Sangat tidak sopan mengintip kamar pangeran mahkota."
"Anda sudah tahu?" Tanya Daniela.
"Apa?"
"Bahkan anda sudah tahu kalau pangeran mahkota bersama adikku?" Tanya Daniela tidak percaya.
"Anda sedang berhalusinasi sekarang, pangeran mahkota hanya bicara dengan temannya. Sebagai calon istri pangeran mahkota, anda harus bisa menjaga perasaan beliau."
__ADS_1
Daniela paham dengan perkataan dayang istana. "Jadi, ratu juga sudah tahu mengenai hal ini?
Aku memang bodoh! Aku jatuh cinta pada pangeran mahkota yang tidak mencintaiku sama sekali. Batin Daniela.
Daniela berjalan mundur lalu lari meninggalkan istana pangeran mahkota lalu pergi menuju istana permaisuri.
"Panggilkan aku permaisuri, tolong. Aku ingin bertemu beliau, aku tidak ingin memperpanjang tunangan ini." Desak Daniela.
Dayang istana permaisuri menggeleng prihati. "Lady, saya tidak bisa melakukan itu. Permaisuri baru saja istirahat setelah seharian mengamuk, akan saya sampaikan segera setelah bangun."
Daniela menggeleng panik lalu menangis. "Aku tidak ingin, tidak ingin bertunangan dengan pangeran mahkota lagi. Tolong! Tolong!"
"Anda harusnya bersyukur akan menjadi permaisuri di masa depan, tidak semua wanita seberuntung anda, lagipula anda juga harapan permaisuri. Tolong anda sedikit bijak." Nasehat dayang istana permaisuri.
Kenapa tidak ada yang peduli pada perasaanku? Kenapa tidak ada yang mau mendengarkan aku?
"Daniela."
Tubuh Daniela menegang ketika mendengar suara yang dikenalnya, dia balik badan dengan raut wajah ketakutan. "A- ayah-"
Duke Vilvred maju dan menampar Daniela.
Tangan Daniela menyentuh pipinya dengan tatapan terkejut. "A- ayah-"
"Bagaimana bisa kamu mengatakan hal memalukan seperti itu? Apakah aku tidak pernah mendidik kamu dengan baik?"
Ayah tidak pernah mendidik, hanya menghukum aku.
"Kamu juga berusaha mengganggu permaisuri, pulang sekarang juga!" Duke Vilvred menjentikkan jarinya.
Kedua tangan Daniela diangkat secara kasar oleh ksatria duke dan diseret, Daniela yang awalnya berontak, akhirnya pasrah.
Duke Vilvred minta maaf ke dayang istana permaisuri. "Sampaikan permintaan maaf saya ke permaisuri karena telah mengganggu istirahat beliau."
"Duke, apakah anda tidak terlalu kasar terhadap lady Daniela? Dia belum genap berusia lima belas tahun."
"Aku hanya berusaha mendidik dia supaya tidak mempermalukan kekaisaran." Jawab duke Vilvred dengan dingin lalu memimpin iringan pasukannya sambil keluar istana dan disaksikan banyak orang.
Duke Vilvred mengomel sepanjang jalan, seolah Daniela adalah anak kecil yang nakal dan keras kepala. "Kamu harus bisa mencontoh adik dengan baik, dia tidak pernah sekalipun mempermalukan keluarga, terutama di hadapan ratu."
Daniela yang masih remaja sangat malu, selain menjadi tontonan banyak orang, juga mendapat omelan keras dari ayahnya. Berkali-kali permintaan maaf dilontarkan, semakin keras suara duke seolah tidak ingin mendengar suara Daniela.
Ibu, kenapa pergi meninggalkan aku? Bawa aku juga, aku tidak ingin berada di tempat ini. Aku juga tidak ingin menikah dengan pangeran mahkota. Tolong aku, ibu.
Daniela hanya bisa teriak di dalam hati.
__ADS_1