
Pendeta tinggi Rou diizinkan masuk ke ruang pertemuan setelah kaisar mengusir para menteri dan bangsawan lainnya.
Pendeta Tinggi Rou masuk dengan tubuh kotor dan bau, bahkan ada bekas robekan di bawah ketiaknya karena pedang yang dilempar Daniela.
Tubuhnya yang selalu terawat dan wangi sepanjang hari, harus berantakan karena ulah pangeran pertama.
Yang diketahui pendeta tinggi Rou adalah kaisar membenci pangeran pertama dan menginginkan kematiannya.
Pendeta tinggi Rou memberikan salam hormat kepada kaisar.
Kaisar mengamati penampilan pendeta tinggi Rou. "Pendeta, ada apa dengan penampilan kamu? Kenapa seperti ini?"
"Saya diculik, Yang Mulia." Jawab pendeta tinggi Rou.
"Diculik? Siapa yang menculik kamu?"
"Pangeran Pertama."
Kaisar berdiri dari singgasana dan menatap marah pendeta tinggi Rou. "JANGAN BOHONG! PENASEHAT AKU BELUM MELAPOR DAN SAMPAI SEKARANG BELUM ADA KABAR, LALU KAMU-"
"Yang Mulia, saya bicara jujur." Pendeta tinggi Rou mengambil kain yang ada lambang di tubuh salah satu korban dari balik mantel. "Ini Yang Mulia, lihat. Ada lambang dari Pangeran Pertama."
"Apakah kamu melihat orangnya langsung? Bagaimana ciri-cirinya?"
"Ya, saya melihatnya secara langsung. Dia bertubuh tinggi besar dan juga memiliki aura intimidasi." Angguk pendeta tinggi Rou. "Saya yakin sekali itu Pangeran Pertama, mereka juga menyebutnya."
Kaisar tidak pernah bertemu pangeran pertama secara langsung, hanya mendengar cerita dari bawahannya mengenai betapa kejam pangeran pertama dan tubuhnya yang besar seperti beruang. "Apakah dia melukai kamu? Mengancam kamu?"
Pendeta tinggi Rou menjawab cepat. "Ya, dia-"
Pendeta tinggi Rou terdiam sekaligus bingung. Jika dia mengatakan iya sementara tubuhnya baik-baik saja maka akan dicurigai. Iblis di dalamnya akan ketahuan juga. "Tidak."
Kaisar mengerutkan kening dengan bingung. "Mana yang benar?"
"A-"
Duke Vilvred menyelamatkan pendeta tinggi Rou. "Mungkin Pangeran Pertama mengancam akan menyakiti Pendeta Tinggi lalu dia berhasil melarikan diri dari kejaran dan membawa bukti."
__ADS_1
Pendeta tinggi Rou mengangguk cepat. Hanya itu jawaban yang paling masuk akal.
Kaisar mengangguk paham. "Begitu, aku akan mengirim orang-orang ke sana untuk mencari tahu. Siapa tahu Marquess Bill terbunuh di sana."
Para bangsawan di aula pertemuan terkejut lalu bertukar pendapat.
Kaisar tertawa puas di dalam hati, jika tidak ada pangeran pertama di wilayah itu- setidaknya dia bisa membunuh marquess Bill dan keluarganya lalu menyerahkan posisi marquess sekaligus penasehat kerajaan ke orang-orangnya.
Pendeta tinggi Rou menghela napas lega.
Kaisar berdiri dan mengumumkan keputusannya. "AKU AKAN MENGIRIM PASUKAN KSATRIA KE WILAYAH UNTUK INVESTIGASI DAN JUGA MENCARI PANGERAN PERTAMA SERTA MARQUESS BILL. AKU KHAWATIR ADA MASALAH DI SANA."
Salah satu bangsawan pendukung kaisar berteriak tidak setuju. "Yang Mulia, jangan kesana. Bagaimana jika di sana sebenarnya adalah jebakan? Lalu Pendeta Tinggi ini adalah mata-mata Pangeran Pertama?"
Pendeta tinggi Rou berteriak marah. "JANGAN KURANG AJAR!"
Bangsawan pendukung Kaisar lainnya berteriak marah. "Siapa kamu, merasa berhak meneriaki kami? Kamu hanya pendeta tinggi!"
Pendeta tinggi Rou tidak suka dengan penghinaan yang mereka lontarkan kepadanya. "Meskipun saya hanya pendeta tinggi, tetap saja saya melayani dewa sementara anda semua hanya bangsawan biasa yang merasa lebih tinggi sehingga berani menghina seorang pendeta yang melayani dewa."
Pendeta tinggi Rou membungkuk. "Yang Mulia, jika mereka tidak percaya dengan ucapan saya. Mereka juga tidak akan percaya pada ucapan para pengikut dewa dan pastinya dewa akan marah dan kesal."
"Kamu-"
Salah satu pengikut kaisar menghentikan temannya bicara lagi lalu menggelengkan kepala ketika pengikut itu menatap marah dirinya. "Tidak sekarang." Ucapnya dengan nada pelan.
Salah satu pengikut kaisar terdiam lalu merapikan pakaiannya dan tetap menatap dingin pendeta tinggi tidak tahu malu itu.
"Besok aku ada pertemuan dengan pendeta kuil bersamaan dengan pangeran kedua dan istrinya mulai melaksanakan tugas, jadi bersiaplah Pendeta Tinggi Rou."
Pendeta tinggi Rou bertanya ke kaisar tanpa merasa malu sedikit pun. "Saya istirahat dimana? Tidak mungkin di kuil."
Kaisar mengangguk paham. "Benar, kamu tidak mungkin kembali ke kuil dalam keadaan seperti ini. Istirahatlah di istana khusus tamu.”
"Terima kasih atas kebaikan hati, Yang Mulia. Semoga dewa Helcia memberkati anda."
Kaisar mengangguk puas.
__ADS_1
Sementara di ruang bawah tanah kuil.
"LEPASKAN AKU! AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN PEZINA ITU MASIH HIDUP! DIA HARUS MATI!"
Rohan melihat kondisi Andi yang semakin lama semakin menyedihkan. Tidak mau makan dan hanya mau minum lalu melontarkan kalimat kutukan untuk para pezina.
"DUNIA SUDAH MULAI BERUBAH! BAHKAN DUA ORANG YANG MELAKUKAN HUBUNGAN DI LUAR NIKAH, KALIAN SEMUA BELA MATI-MATIAN! APAKAH KALIAN TIDAK TAKUT DENGAN KUTUKAN DEWA HELCIA?!"
Pendeta yang memiliki kekuatan penyembuh berusaha menyembuhkan Andi yang masih terikat di kursi dengan jarak aman.
Andi berteriak sambil mengutuk dosa para manusia yang ditemuinya lalu terdiam ketakutan sambil melihat keluar sel. "Dia datang-"
Rohan mengerutkan kening.
Andi ketakutan. "Dia datang, dia sudah masuk! Kenapa kalian mengizinkan dia masuk?!"
Rohan bertanya ke pendeta di sekitarnya. "Siapa yang dia maksud? Apakah kalian tahu?"
Para pendeta disekitarnya menggeleng bersamaan.
Andi berteriak marah. "KALIAN! KENAPA KALIAN MEMBAWA IBLIS ITU KEMARI?! DIA AKAN MEMBUNUHKU!"
Sementara para pendeta menangani Andi, pendeta agung bertemu dengan ratu di kuil.
Ratu duduk di kursi taman kuil, teh di kuil disediakan dengan aroma mewah. "Saya tidak menyangka pihak kuil bisa menyambut tamu dengan teh berkualitas tinggi, apakah Permaisuri yang menjadi sponsornya?"
Pendeta agung yang memakai topeng wajah kucing dengan lonceng di telinga, bergerak anggun hingga menimbulkan suara lonceng yang indah. "Apakah yang anda maksud adalah berapa banyak Permaisuri mengeluarkan uang untuk pihak kuil supaya berada di pihaknya?" Tanyanya dengan santai.
Ratu tercengang dan tidak percaya pendeta agung bisa bicara secara terang-terangan seperti itu. "Rupanya anda bisa juga bercanda, saya tidak mungkin mengartikan kalimat seperti itu. Saya sangat menghormati Pendeta Agung."
"Untuk seorang wanita yang merayu suami orang dengan tubuhnya, saya rasa saya tidak sebodoh itu." Pendeta agung meletakkan cangkir teh di atas meja. "Yang Mulia Ratu, bahkan Pendeta Agung seperti saya mengerti arti dari maksud bangsawan. Apakah anda sedang meremehkan saya?"
"Ya ampun, saya tidak mungkin meremehkan kedudukan anda, Pendeta Agung, saya hanya penasaran. Saya minta maaf jika pertanyaan tadi menimbulkan salah paham."
Pendeta agung mengangguk singkat. "Saya anggap tidak mendengar apa pun."
Ratu hampir meluapkan emosinya. Padahal dia adalah istri kaisar, tapi bisa dihina oleh seorang pendeta kuil, tidak hanya itu- bahkan pendeta tidak menerima ucapan minta maaf dan menganggap ucapannya tadi hanyalah omong kosong yang harus dimaklumi.
__ADS_1