AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
TIGA PULUH DUA


__ADS_3

"Doktrin?" tanya Zoe ke Zuu, setelah pulang ke rumah.


"Benar, kemungkinan pria yang diselamatkan pangeran pertama sudah kena doktrin. Sebenarnya banyak kasusnya, hanya tidak pernah muncul karena kekaisaran tidak mau ikut campur. Bagi mereka, masalah ini milik kuil." Jawab Zuu.


Mengingatkan Edrik pada masa lalunya yang kelam, dia memegang erat liontin kalung di lehernya dan melihat pemandangan di luar dari dalam ruang kerja yang sudah diperbaiki.


Zuu mendapat informasi cepat bahwa pria itu adalah anak salah satu pendeta tinggi yang menguasai kuil di satu daerah dan banyak pengikutnya.


"Apakah kuil pusat tidak bisa bertindak?" tanya Zoe yang mulai kesal. "Dia berteriak ingin bunuh diri karena dibenci dewa lalu tanpa merasa bersalah mengatakan bahwa dirinya telah membunuh sang kakak. Pikirannya sudah gila."


"Sepertinya kuil tidak bisa bertindak karena banyaknya pengikut. Saya juga sudah mencoba cari informasi mengenai kuil pendeta tinggi ini. Mereka juga menyiksa hewan yang dianggap kotor." Lapor Zuu ke Edrik.


"Hewan kotor?" Zoe tidak habis pikir. "Pangeran pertama, saya bisa membantu penyelidikan masalah ini."


Edrik menggeleng. "Tidak, jika kita ikut campur. Pihak kuil pasti tidak akan terima, kaisar akan curiga lalu Daniela dan permaisuri-"


Zoe melupakan posisi Daniela yang bekerja di kuil dan permaisuri yang harus mendapat kunjungan dari pendeta kuil setiap minggu. "Maaf, saya tidak memikirkannya sejauh itu."


Edrik menghela napas panjang. "Awasi saja wilayah itu, sebelum pihak kuil turun tangan. Aku akan coba bicara dengan Daniela."


Zoe dan Zuu tidak mengerti alasan pangeran pertama membahasnya dengan Daniela.


Begitu tiba di rumah, Edrik cerita ke Daniela mengenai pria yang diselamatkannya.


Daniela mengangguk paham. "Aku sudah mendengarnya di kuil, pria itu memang parah."


Kedua mata Edrik mengerjap, masih belun terbiasa dengan bahasa non formal Daniela. "Kamu memakai-"


"Ah, aku memutuskan bicara non formal saat kita berdua saja. Anda tidak keberatan?"


Edrik menggeleng lalu kembali fokus. "Kamu tahu mengenai pria itu?"


"Ya, pendeta agung menyuruh aku untuk mengawasi orang itu."


"Bahaya-"


"Tenang saja, pendeta agung tidak akan melepas aku sendirian. Ada pendeta tinggi dan pendeta muda yang sesekali menemaniku."


"Kenapa kamu yang diserahkan menjaga orang itu?"


"Karena aku yang paling paham posisinya, begitulah anggapan pendeta agung."


"Paham?"

__ADS_1


"Yah, aku juga bingung. Padahal masih berusia lima belas tahun hahahaha- tapi tenang saja, pendeta agung berjanji akan membayar tinggi aku jika masalahnya selesai. Kalau perlu, pendeta agung akan membuat ayah orang itu membayar banyak."


"Jadi, alasan kamu nekat menjaga karena-"


"Uang, apalagi?"


Edrik mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lupa bahwa lawan bicaranya adalah Daniela.


"Aku memang melihat pria itu seperti dicuci otaknya sejak kecil."


"Cuci otak?"


"Ya, dia terlalu takut dengan dewa dan pada saat salah satu pendeta muda menertawakan ketakutannya, dia marah besar dan hendak menyerang pendeta muda itu."


Dahi Edrik berkerut semakin dalam. "Dia juga membunuh saudaranya."


"Kamu tahu itu? Katanya demi kehormatan keluarga, kakaknya melakukan kesalahan yang membuat dosa sang ayah semakin besar." Daniela sempat berpikir ajaran kuil Helcia hampir mirip dengan dunia modernnya. Tapi tidak seekstrim kehidupannya sekarang.


"Mati demi kehormatan adalah hal biasa di kalangan bangsawan, tapi sekarang semenjak kuil menebarkan ajaran larangan bunuh diri, kegiatan itu semakin berkurang. Hanya saja ternyata masih ada orang yang memanfaatkan ajaran agama." Daniela menjelaskan pada Edrik. "Bunuh diri dan membunuh adalah larangan dewa, tapi berbeda dengan orang-orang yang sudah belok, mereka akan menganggap bunuh diri demi dewa adalah kehormatan dan membunuh demi dewa adalah harga diri."


"Benar juga, konteksnya sama tapi tujuan yang berbeda." Edrik menjadi paham.


"Sangat sulit untuk mengubah pikiran orang-orang seperti ini, pasti di wilayah orang itu, banyak yang sudah didoktrin ajaran ini. Kaisar juga pasti tidak mau rugi banyak sehingga kemungkinan besar akan membinasakan mereka."


"Mereka yang sudah didoktrin, akan mengagungkan dewa dan melupakan kaisar, pangeran pertama. Anda tahu baik bagaimana sikap kaisar jika tidak ada yang taat padanya."


Edrik menggertakkan gigi dengan marah. "Ayah akan membinasakan mereka dan menyalahkan pihak kuil."


"Yah, kuil juga akan dianggap lalai. Pendeta agung juga sadar dan menyerahkannya padaku meskipun tahu demi uang, karena kaisar tidak akan berani menyentuh orang itu jika aku yang menangani."


Kedua mata Edrik menyipit curiga. "Secara tidak langsung, pihak kuil juga minta tolong kepadaku sebagai pangeran pertama, bukan?"


Daniela nyengir tidak bersalah. "Siapa lagi yang bisa ditakuti kaisar selain pangeran pertama? Permaisuri?"


Edrik menghela napas panjang. "Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa menggerakkan pasukan ke sana, atau kamu ingin aku muncul?"


"Yang benar saja! Aku tidak mau anda muncul begitu saja! Apakah anda ingin mengacaukan semua usaha saya selama ini?"


"Lalu?"


"Anda pergi sendiri ke wilayah itu."


"Apa?"

__ADS_1


"Wilayah itu lebih mengutamakan ajaran dewa daripada mengenal bangsawan tinggi, apalagi anda jarang muncul di depan publik. Semakin memudahkan anda menyelidiki tempat itu."


"Kamu bagaimana?"


"Aku menjaga anak pendeta itu, tidak menutup kemungkinan menyusul anda." Kata Daniela.


"Aku akan pergi besok pagi, Zoe aku tinggal buat menjaga kamu."


Daniela terkejut. "Secepat itu?"


"Zuu sudah melapor kepadaku bagaimana parahnya wilayah itu, aku tidak bisa diam saja mendengar mereka ditipu pendeta palsu."


"Sebenarnya pendeta tidak palsu, dia sudah mendapat pendidikan di kuil pusat. Yang bermasalah memang jalan pikiran dia terlalu ekstrem. Hati-hati dan jangan sampai ketahuan, apakah anda punya kenalan di sana?"


"Kebetulan wilayah pendeta itu milik sepupu Zoe dan Zuu. Zuu lebih tepat pergi ke sana karena lama tinggal di wilayah itu selama Zoe pergi perang bersamaku."


Daniela mengangguk paham. "Baik, aku juga akan melaporkan hal ini kepada permaisuri dan pendeta agung."


"Pendeta agung tidak masalah, kenapa ibuku harus tahu?"


"Anda pikir aku bekerja di bawah naungan pendeta agung, tanpa sepengetahuan permaisuri?"


"Tidak, ibuku pasti tahu." Edrik bangkit.


"Mau kemana?"


"Aku akan bilang ke Zoe di bawah supaya kita bisa pergi pagi, kamu juga harus hati-hati karena orang suruhan duke Vilvred sempat memaksa masuk tempat ini."


"Benarkah?"


"Ya." Edrik keluar dari ruangan, meninggalkan Daniela yang merenung.


Edrik dan Daniela sama-sama mencari jawaban. Kenapa salah satu pendeta tinggi mengajarkan ajaran yang menyimpang? Kenapa rakyat banyak yang kena dan tidak berusaha menghindar dan kenapa bangsawan di wilayah itu hanya diam saja.


Apapun alasannya, Daniela dan Edrik harus bersiap menghadapi orang-orang bermasalah ini.


Zoe berdiri begitu melihat atasannya menuruni tangga. "Pangeran pertama."


"Kamu pergi jemput Zuu, besok pagi kita ke wilayah itu. Kamu di sini bersama Daniela."


"Kenapa saya tidak ikut?" Protes Zoe.


"Hanya kamu yang bisa aku percaya untuk menjaga Daniela."

__ADS_1


Zoe hanya bisa pasrah jika atasannya sudah bicara seperti itu.


__ADS_2